![]() |
| Rat King from Sabucus’s Emblemata. |
Tenang saja ... kabar baiknya, hal itu kemungkinan benar-benar ada. Pernah dengar “Rat King” (Raja Tikus)? Bila mendengar namanya, mungkin kalian akan membayangkan tikus berukuran raksasa yang memakai mahkota dan duduk di singgasana (oke, ini terlalu berlebihan). Lalu memimpin dan memerintah koloni tikus layaknya sebuah kerajaan di dalam gorong-gorong.
Kenyataannya, sama sekali bukan. “Rat King” sendiri adalah kondisi di mana segerombolan tikus berkumpul hingga ekornya kusut dan saling bertautan satu sama lain, hingga membentuk simpul yang bahkan tak bisa dilepas oleh seorang anak pramuka sekalipun. Sementara sebutan Rat King atau Raja Tikus kemungkinan adalah terjemahan yang keliru dari bahasa Perancis, “rouet de rats” yang berarti “Roda Tikus” (Raja Tikus dalam bahasa Perancis adalah roi-de-rats).
![]() |
| Ilustrasi Rat King dari The Picture Magazine Volume 6, tahun 1895. |
Namun, sebutan “Rat King” sepertinya juga bisa mewakili salah satu teori atas terciptanya kondisi ini. Rat King diduga adalah tetua atau pemimpin para tikus yang menduduki ekor para tikus muda sebagai sarangnya. Lama kelamaan ekor mereka saling bertaut hingga tak bisa bergerak. Tetua tikus pun bertahan hidup dengan bantuan tikus lain yang membawakan makanan untuknya. Sistem ini sama seperti yang kita temukan pada koloni rayap dan lebah.
Ada juga yang menduga fenomena ini terjadi saat proses kelahiran. Di mana ekor mereka saling menempel akibat plasenta yang berperan seperti lem. Kemungkinan yang terakhir berhubungan dengan musim dingin, di saat para tikus bersembunyi di tempat yang sempit dan berkumpul untuk menghangatkan diri. Perekatan dapat terjadi akibat sebum (sekresi dari kulit makhluk hidup), getah, makanan, kotoran, urine, atau darah yang membeku.
![]() |
| Rat King dari Strasbourg, tahun 1894. |
Teori inilah yang dianggap paling memungkinkan, diperkuat dengan fakta bahwa kebanyakan Rat King ditemukan saat musim semi atau penghujung musim dingin, dan ternyata hal ini tak hanya terjadi pada tikus. Beberapa penemuan mengungkap bahwa hal ini juga dialami oleh tupai.
Pada tahun 1973, seorang ahli biologi dan penulis bernama Maarten Hart, dalam bukunya yang berjudul “Rats”, mencatat bahwa dalam kurun waktu lima abad terakhir telah ditemukan sekitar 30 sampai 60 penemuan Rat King. Kasus dengan kuantitas terbanyak ditemukan di Thuringia, Jerman pada tahun 1828. Di mana ditemukan Rat King yang terdiri dari 32 tikus di dalam sebuah cerobong asap. Makhluk mengerikan itu kini tersimpan di Mauritianum Museum, Altenburg, Jerman.
![]() |
| Rat King yang ditemukan di Thungaria, pada tahun 1828, terdiri dari 32 tikus. Menjadikannya spesimen terbesar yang pernah ada. |
Hampir semua kasus Rat King ditemukan di daratan Eropa atau wilayah yang memiliki empat musim. Namun, yang mengejutkan, pada tahun 1918 Rat King dilaporkan pernah ditemukan di Bogor (hayo, jangan melenceng ke topik lain), Indonesia! Ini menjadi salah satu kasus Rat King yang ditemukan di luar Eropa (Entah harus bangga atau bagaimana).
![]() |
| Rat King dari Vandee, 1986. Kini disimpan di Natural History of Museum, Nantes, Perancis. |
Ada juga yang menganggap spesimen yang ada di museum itu palsu alias hasil rekayasa manusia. Sebab kalaupun sekumpulan tikus terikat dalam satu gumpalan ekor, mereka pasti akan berusaha melepaskan diri dengan menggigit ekor kawannya atau ekornya sendiri hingga putus.
Terlepas dari benar atau tidaknya fenomena ini, kau pasti tak ingin menemukan salah satunya ada di dalam lemarimu.
Referensi:
Mental Floss
All That Interesting





Tidak ada komentar:
Posting Komentar