Selasa, 20 Agustus 2019

Kabur



Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Ayah tiriku sangat membenciku. Saat ia menikahi ibu dan tinggal di rumah ini, hidupku serasa berada di neraka. Ia selalu mencari kesalahanku dari setiap perbuatan yang paling kecil sekalipun. Dibentak dan diteriaki, sudah menjadi makananku sehari-hari. Di matanya, aku selalu berbuat salah.



Tak lama setelah itu, kekacauan di rumah mulai mempengaruhi prestasiku di sekolah. Aku kesulitan untuk menangkap pelajaran, dan nilaiku semakin turun. Di meja makan, aku sangat gugup hingga tak bisa menikmati makanan dengan tenang. Makin lama aku makin terbawa oleh situasi ini. Aku pun jadi jarang bergaul dengan teman-teman.

Keadaan tidak bertambah baik, malah semakin memburuk. Aku menjadi samsak tinju bagi ayah tiriku. Ia akan memukuliku karena alasan-alasan yang sepele. Ia pria yang kuat, dan aku terlalu kecil untuk bisa melawan balik. Setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkannya menyakitiku secara mental, yang tentu saja juga secara fisik. Tak butuh waktu lama hingga aku di-diagnosa menderita depresi, dan dibawa ke dokter.

Setelah semua ini, ibuku hanya diam saja dan tak mau ikut campur. Ia lebih memilih suami barunya dibanding aku, anaknya sendiri. Itu menyakitiku lebih dari apa pun. Aku berhenti berharap padanya, dan mulai berpikir untuk kabur.

Suatu hari, aku yang sudah tak tahan dengan semua siksaan ini, minggat dari rumah. Aku pergi sejauh-jauhnya dari kota, sampai polisi akhirnya berhasil menemukan dan membawaku pulang. Saat mereka menurunkanku di depan rumah, ayah tiriku sudah menunggu di ambang pintu. Tampak jelas kemurkaan yang luar biasa dari wajahnya.

Setelah polisi pergi, ia mencengkeram lenganku dengan kasar sambil berkata, “Kau pikir bisa kabur dariku?”

Malam itu, ia menghajarku dua kali lipat lebih hebat dari sebelumnya. Aku menangis hingga akhirnya tertidur dalam kesakitan. Sejak saat itu, kekerasan semakin meningkat. Setiap sore, saat dia pulang kerja, aku selalu berusaha menghindarinya.

Namun, itu tak ada gunanya. Ia terus mencari alasan untuk bisa menghajarku. Aku tak mengerti, bagaimana bisa ada orang sekejam dan sesadis ini. Ini semua bagaikan sebuah permainan baginya. Tiap pukulan yang diberikannya, aku bisa melihat betapa dia menikmati semua ini. Tubuhku sudah penuh dengan luka memar dan sulit untuk bernapas.

Akhirnya, ia makin kelewatan. Di suatu sore, ia menghajarku seperti orang gila hingga aku tak mampu bergerak. Aku hanya bisa berbaring di lantai kamar sambil menatap langit-langit. Aku tak tahu seberapa parah keadaanku saat itu, yang ternyata mengalami pendarahan dalam parah. Ibu memohon agar aku dibawa ke rumah sakit, tapi ayah tiriku tak memedulikannya. Ia bilang aku hanya pura-pura saja.

Semalaman, aku hanya berbaring di lantai kamar, menahan rasa sakit yang luar biasa, lalu perlahan mulai kehilangan kesadaran. Pagi harinya, ibu datang untuk memeriksaku. Namun, saat itu aku sudah tewas.

Waktu berlalu ....

Aku tak tahu sudah berapa lama waktu berjalan.

Tiba-tiba, aku melihat cahaya terang.

Lalu terdengar suara yang mengatakan, “Ini bayi laki-laki yang sehat!”

Aku pun mulai menangis dengan keras.

Dengan sangat perlahan, aku membuka mata.

Seorang pria dan wanita tengah menatapku.

Senyum mereka terbentang lebar.

Si pria mendekatkan wajahnya dan menyentuh pipiku. Lalu, dengan suara lembut ia berkata,

“Kau pikir bisa kabur dariku?”

Tamat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar