Diterjemahkan dari web Scary for Kids.
Ada seorang pria kaya raya menikahi wanita yang usianya jauh lebih muda. Pria itu curiga istrinya selingkuh, tapi dia sendiri belum terlalu yakin. Suatu hari, saat ke luar kota untuk urusan bisnis, ia menelepon ke rumah untuk memeriksa istrinya. Namun, telepon dijawab oleh suara wanita yang tidak ia kenal.
“Siapa kau?” tanya si pria.
“Aku pembantu,” jawab wanita itu.
“Hah? Di rumah kami tak ada pembantu!”
“Oh ... ah ... Nyonya di rumah ini baru memperkerjakanku tadi pagi,” jawabnya gugup.
“Hmm ... aku tuan rumah,” jelas si pria. “Bisa kau panggilkan istriku?”
“Sepertinya aku tak bisa,” balas si pembantu menggelengkan kepala.
“Kenapa? Dia ada di mana?” tanya pria kaya itu lagi.
“Dia di lantai atas, di kamarnya, bersama seorang pria,” ujar si pembantu. “Kukira dia suaminya.”
Saat mendengar kabar ini, amarah sang pria tak tertahankan lagi.
“Dengar, apakah kau ingin uang 50.000 dolar?” Pria itu memberikan penawaran.
Sang pembantu berpikir cukup lama.
“Itu uang yang banyak,” ujarnya. “Apa yang harus aku lakukan?” tanya si pembantu yang mengerti kalau pria itu tak akan memberikan uang secara cuma-cuma.
“Aku mau kau ke tempat penyimpanan senjataku,” titah sang pria. “ambil salah satu pistol, isi dengan peluru, lalu naik ke atas dan tembak kepala istriku yang tak tau diri beserta selingkuhannya yang bodoh itu!”
Setelah terdiam lama, sang pembantu menjawab, “Baiklah, akan kulakukan.”
Si pria mendengar suara gagang telepon yang diletakkan di atas meja, lalu terdengar langkah kaki. Beberapa menit kemudian, terdengar suara teriakan keras dan dua kali letusan senjata api. Setelah itu suasana menjadi hening. Hingga terdengar lagi suara langkah kaki mendekat dan telepon kembali diangkat.
“Ok, sudah kulakukan,” ucap si pembantu dengan nafas tersengal-sengal. “Apa yang harus kulakukan dengan mayatnya?”
“Lempar saja ke kolam renang di halaman belakang!” perintah sang pria.
“Kolam renang? Tapi tak ada kolam renang di sini ....”
Mendadak keheningan menyelimuti suasana, hingga sang pria berbicara memecah kesunyian.
“Maaf, Mbak. Salah sambung.”
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar