Selasa, 20 Agustus 2019

Aku Belum Mati


Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Berdasarkan cerita rakyat Afrika-Amerika berjudul, “The Man Who Would’nt Believe He Was Dead” dalam The Doctor to the Dead, salah satu koleksi dari cerita rakyat Charleston.



Si Pria Tua Jenkins sedang sakit keras, tetapi ia tetap mengatakan pada semua orang kalau dirinya baik-baik saja. Sang istri sangat cemas dengan kondisinya, ia pun memanggil dokter.

Saat dokter tiba di rumah dan memeriksanya, Pria Tua Jenkins protes dan berkata, “Tak ada yang salah denganku!”

“Tapi kau tengah sekarat!” Dokter berusaha meyakinkan orang tua itu.

“Itu tidak benar!” sangkal Pria Tua Jenkins.

“Detak jantungmu sudah melemah!” tandas si dokter lagi.

“Aku belum mati!!!” bentak Pria Tua Jenkins yang tetap pada pendiriannya. Ia pun segera mengusir dokter itu keluar dari rumah.

Keesokan harinya, Pria Tua Jenkins meninggal. Istrinya memanggil pengurus jenazah, lalu saat mereka tiba, jenazah orang tua itu dimasukkan ke peti dan dibawa ke gereja. Upacara pemakaman berjalan dengan lancar, jenazahnya pun dibawa ke pemakaman dan dikuburkan sebagaimana mestinya.

Esok paginya, seorang polisi hendak berangkat kerja melewati area pemakaman. Di sana ia melihat Pria Tua Jenkins tengah duduk di atas tembok.

“Aku kira kau sudah meninggal,” ucap polisi itu padanya.

“Aku belum mati,” balas Pria Tua Jenkins singkat.

Si polisi segera pergi ke rumah Pria Tua Jenkins dan memberitahu istrinya. “Suamimu sedang duduk-duduk di tembok pemakaman, dan mengatakan kalau dia belum mati!”

“Oh, tak usah pedulikan dia,” jawab sang wanita tua tanpa terkejut. “Ia sudah mati, semati-matinya.”

Keesokan harinya lagi, seorang penjaga toko hendak berangkat kerja. Saat ia melewati pemakaman, ia juga melihat Pria Tua Jenkins sedang duduk di atas tembok.

“Kaukah itu?” tanya si penjaga toko.

“Ya, siapa lagi?” balas Pria Tua Jenkins.

“Kudengar kau sakit.” Si penjaga toko terus mengajak bicara.

“Ya, begitulah.” Pria Tua Jenkins menjawab seadanya.

“Lalu aku dengar kabar kau meninggal,” sambung si penjaga toko.

“Aku belum mati!” jawab Pria Tua Jenkins dengan ketus.

“Bukankah mereka menguburmu beberapa hari yang lalu?” tanya penjaga toko lagi.

“Apakah aku terlihat seperti orang yang sedang dikubur?” tegas Pria Tua Jenkins dengan ekspresi kesal.

“Iya juga sih ....” Si penjaga toko akhirnya berjalan pergi sambil garuk-garuk kepala.

Di hari yang lain, seorang tukang pos bersepeda melewati area pemakaman saat ia melihat Pria Tua Jenkins yang masih duduk di atas tembok.

“Ada berita apa?” tanya Pria Tua Jenkins.

“Tak ada yang spesial,” jawab si tukang pos, “Kecuali kabar tentang si tua Jenkins yang meninggal.”

“Kabar itu tidak benar!” tegas Pria Tua Jenkins.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya si tukang pos heran.

“Karena aku si tua Jenkins,” balasnya lantang, “dan aku belum mati!”

“Hah?!” Tukang pos itu terkejut dan segera mengayuh sepedanya sekuat tenaga menjauhi pemakaman.

Ia tak berhenti mengayuh hingga sampai di sebuah pub. Ia langsung turun dari sepeda, berlari masuk, dan berkata pada penjaga bar. “Ada orang tua yang duduk di tembok pemakaman, dan dia mengaku sebagai Pria Tua Jenkins!”

“Itu tidak mungkin,” sanggah penjaga bar.

“Kenapa tidak?” tanya tukang pos yang masih kesulitan mengatur napas.

“Karena Pria Tua Jenkins sudah meninggal,” jawab penjaga bar dengan yakin.

“Kalau begitu ... seseorang harus memberitahu dia!” ujar si tukang pos yang masih bingung dengan situasi ini.

Hal seperti ini terus terjadi dari minggu ke minggu, bulan ke bulan, hingga para penduduk mulai resah. Semua orang tahu kalau Pria Tua Jenkins sudah meninggal. Semua orang ... kecuali si Pria Tua Jenkins sendiri! Ia hanya duduk di sana, di tembok pemakaman, setiap hari, sambil berkata, “Aku belum mati!” Ia pun akan sangat marah bila ada orang yang tidak sependapat dengannya.

Para penduduk kota akhirnya berunding dan sepakat untuk menggelar upacara pemakaman lainnya. Mereka menggali lubang lain di pemakaman, dan memasang batu nisan. Tertulis di sana:

“Di sini terbaring jenazah dari Pria Tua Jenkins. Lahir 1901 – wafat 2001.”

Saat Pria Tua Jenkins membaca tulisan di nisan itu, ia tak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Ia sampai membaca tiga – empat kali untuk menegaskan. Setelah terdiam cukup lama, ia berkata, “Hmm, mungkin ini benar ... mungkin aku sudah mati.”

Setelahnya, ia masuk ke dalam liang lahat, mengubur dirinya dengan tanah, dan tak pernah terlihat maupun terdengar lagi sejak saat itu.

Tamat














Tidak ada komentar:

Posting Komentar