Selasa, 20 Agustus 2019

Si Tinggi Delapan Kaki



Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Berdasarkan kisah urban legend Jepang.

Kakek nenekku tinggal dan hidup di Jepang. Setiap liburan musim panas, orang tuaku akan membawaku berkunjung ke sana. Mereka tinggal di sebuah desa kecil, dengan rumah yang memiliki halaman belakang luas. Aku sangat suka bermain di sana selama musim panas. Saat kami sampai, Kakek dan Nenek akan menyambutku dengan tangan terbuka. Aku satu-satunya cucu di keluarga itu, jadi mereka sangat memanjakanku.



Terakhir kali aku melihat mereka adalah di musim panas saat aku masih berusia delapan tahun. Ada alasan kenapa sejak saat itu hingga kini aku tak mengunjungi mereka lagi. Alasan itu pula yang hampir merenggut nyawaku.

***


Seperti biasa, saat liburan musim panas, orang tuaku memesan tiket penerbangan ke Jepang. Setelah sampai, kami beranjak dari bandara menuju kediaman Kakek Nenek. Mereka sangat senang dengan kedatanganku dan mempersiapkan banyak hadiah kecil untukku. Orang tuaku ingin menikmati waktu mereka sejenak, jadi untuk beberapa hari ke depan, mereka akan bepergian ke daerah lain di Jepang, meninggalkanku di sini bersama Kakek dan Nenek.

Suatu hari, aku sedang bermain sendirian di halaman belakang, sementara Kakek dan Nenek berada di dalam rumah. Itu adalah hari yang cukup panas, dan aku berbaring di atas rerumputan untuk beristirahat. Aku menatap langit sambil menikmati cahaya matahari yang hangat dan angin sepoi-sepoi. Saat hendak bangun, aku merasa mendengar suara aneh.

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Aku tak tahu apa itu, dan sulit untuk menentukan dari mana arah datangnya. Terdengar seperti seseorang yang mengeluarkan suara, “Po ... po ... po ....” Berulang-ulang dengan suara yang berat dan maskulin.

Aku melihat sekeliling untuk mencari sumbernya, sampai tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu di atas tembok pagar yang mengelilingi halaman belakang. Itu adalah topi jerami. Namun, ia bukan berada tepat di atas pagar, melainkan di belakangnya. Dari sanalah suara itu berasal.

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Lalu, topi itu bergerak, seperti tengah dipakai oleh seseorang. Topi berhenti di atas celah sempit pada pagar, hingga tampaklah sesosok wajah yang mengintip ke dalam. Itu adalah seorang wanita. Namun, pagar halaman ini cukup tinggi ... setinggi hampir delapan kaki (sekitar dua setengah meter).

Aku terkejut mengetahui betapa tingginya wanita itu. Rasa penasaran hinggap di benakku. Apakah wanita itu sedang memakai egrang atau semacam sepatu hak tinggi yang besar.  Beberapa detik kemudian, dia berjalan pergi, suara aneh itu pun menghilang bersamanya, memudar bersama jarak yang semakin menjauh.

Masih dengan perasaan heran, aku bangun dan berjalan menuju rumah. Kakek dan Nenek sedang menikmati teh di dapur. Aku pun duduk di meja makan, dan setelah beberapa saat, aku menceritakan apa yang barusan dilihat. Mereka tak terlalu memperhatikan ceritaku, sampai aku menyebut perihal suara aneh itu.

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Saat aku menceritakannya, mereka terkesiap seketika. Mata Nenek terbuka lebar dengan tangan menutup mulutnya. Ekspresi Kakek tak kalah serius dan langsung menggenggam lenganku.

“Ini sangat penting,” ucapnya dengan intonasi kuat. “Kau harus menceritakan pada kami dengan jelas ... seberapa tinggi tubuhnya?”

“Se-setinggi pagar halaman,” jawabku yang mulai ketakutan.

Kakek membombardir dengan pertanyaan – “Di mana dia berdiri? Kapan tepatnya itu terjadi? Apa yang kau lakukan? Apakah dia melihatmu?”

Kucoba menjawab semua pertanyaan itu sebisanya. Kakek bergegas pergi melintasi lorong rumah dan menelepon seseorang. Aku tak bisa mendengar apa yang dia bicarakan. Sementara itu, kulihat Nenek tengah gemetar ketakutan.

Kakek kembali ke dapur dan berbicara pada Nenek.

“Aku akan pergi sebentar,” ujarnya. “Kau tetap di sini bersamanya. Jangan lepaskan pandanganmu darinya sedetik pun!”

“Apa yang terjadi, Kakek?” tanyaku sambil menangis.

Ia menatapku dengan kesedihan yang terpancar dari matanya dan berkata, “Kau sedang diincar oleh Hachishakusama.”

Tanpa berkata lagi, ia segera berlari keluar menuju truk dan berkendara pergi.

Aku berbalik pada Nenek dengan heran dan bertanya, “Siapa itu Hachishakusama?”

“Jangan khawatir, Nak,” balasnya dengan suara bergetar. “Kakek akan melakukan sesuatu, kau tidak perlu cemas.”

Sembari menunggu kakek kembali, kami duduk di dapur dengan gugup. Saat itu Nenek menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menceritakan kalau ada sosok berbahaya yang menghantui daerah ini. Mereka menyebutnya, “Hachishakusama” karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, “Hachishakusama” berarti “Si Tinggi Delapan Kaki”.

Makhluk ini berwujud wanita yang sangat tinggi, dan mengeluarkan suara, “Po ... po ... po ....” Dengan nada suara pria yang berat. Penampakannya berbeda-beda tergantung siapa yang melihatnya. Ada yang bilang ia terlihat seperti wanita tua berpakaian kimono, ada juga yang bilang seperti gadis muda yang mengenakan pakaian jenazah. Satu yang tak pernah berubah, tinggi tubuh dan suara yang ia buat.

Pada masa lampau, ia ditangkap oleh para pendeta, lalu dikekang di dalam sebuah bangunan tua yang terletak di pinggiran desa. Mereka mengurungnya menggunakan empat patung religius yang disebut “jizos”. Patung itu dipasang di keempat mata angin mengelilingi bangunan. Seharusnya ia tak bisa keluar dari sana. Namun, entah bagaimana, kini ia bebas.

Terakhir kali makhluk itu muncul adalah sekitar 15 tahun yang lalu. Nenekku berkata, siapa pun yang melihat Hachishakusama,  akan ditakdirkan mati dalam beberapa hari.

Ini terdengar tak masuk akal. Aku tak tahu apa harus mempercayainya atau tidak.

Saat kakek kembali, ia membawa seorang wanita tua bersamanya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai “K-san”, lalu memberiku potongan perkamen kertas kecil, sambil berkata, “Ini, ambil dan genggamlah!”

Kakek dan K-san pun naik ke lantai dua, meninggalkanku lagi bersama Nenek di dapur.

Saat aku ingin ke toilet pun, Nenek mengikuti dan melarangku untuk menutup pintu. Ini membuatku semakin ketakutan.

Tak berapa lama, Kakek dan K-san membawaku naik menuju kamar. Semua jendela telah tertutup oleh kertas koran yang sudah ditulisi mantra-mantra kuno. Selain itu, ada juga empat mangkuk berisi garam yang ditempatkan di setiap sudut, dan tepat di tengah ruangan, sebuah patung Buddha kecil berdiri di atas kotak kayu. Lalu yang terakhir, ada sebuah ember plastik berwarna biru terang.

“Untuk apa ember itu?” tanyaku penasaran.

“Itu untuk kau buang air,” jawab Kakek.

K-san mendudukkanku di tempat tidur, lalu berkata, “Sebentar lagi matahari akan terbenam, jadi dengarkan baik-baik. Kau harus tetap berada di ruangan ini hingga besok pagi. Kau sama sekali tak boleh keluar dalam keadaan apa pun sampai pukul tujuh pagi besok.

Selama itu, Kakek dan Nenekmu tak akan mengajak bicara. Ingat, jangan keluar ruangan dengan alasan apa pun sampai waktu yang ditentukan! Aku akan memberitahu orang tuamu tentang masalah ini.”

Dia berbicara dengan nada yang begitu suram, yang bisa kulakukan hanya mendengarkan dan menganggukkan kepala.

“Kau harus mengikuti setiap kata-kata yang diperintahkan K-san,” titah Kakek padaku, “dan jangan pernah melepas kertas yang ia berikan padamu. Bila terjadi sesuatu, berdoalah pada Tuhan, dan pastikan kau mengunci pintu setelah kami meninggalkan ruangan ini.”

Mereka pun keluar dari ruang tidurku. Setelah berpamitan pada mereka, aku menutup dan mengunci pintu kamar. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menonton, tetapi rasa gugup ini tak mau hilang. Perutku terasa mual. Nenek meninggalkan beberapa snack dan nasi kepal untukku, tetapi aku tidak bisa memakannya. Aku merasa seperti dipenjara, dengan rasa takut dan depresi yang memenuhi kepala. Sambil berbaring, aku hanya bisa menunggu. Tanpa kusadari, aku pun terlelap.

Saat terjaga, aku lihat waktu menunjukkan pukul 1 malam. Tiba-tiba saja, aku menyadari ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela.

Tuk Tuk Tuk Tuk Tuk

Aku merasakan darah tak lagi mengalir ke wajahku, dan detak jantung semakin cepat. Dengan putus asa, kucoba menenangkan pikiran. Mengatakan pada diriku sendiri kalau itu hanyalah angin atau ranting pohon yang mengenai kaca jendela. Aku menaikkan volume suara TV agar suara ketukan itu tak terdengar. Akhirnya, suara itu pun hilang.

Saat itu juga, aku mendengar suara panggilan Kakek.

“Kau baik-baik saja di sana?” tanyanya. “Kalau takut, kau tak perlu di sana sendirian. Aku bisa masuk dan menemanimu.”

Aku tersenyum dan segera menghampiri pintu. Namun, langkahku terhenti di tengah jalan. Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Itu seperti suara Kakek, tetapi entah kenapa terdengar berbeda. Tak bisa kujelaskan ... yang aku tahu itu bukan dia.

“Kenapa?” Suara Kakek terdengar lagi. “Kau bisa membuka pintunya sekarang.”

Aku melirik ke sebelah kiri, dan seketika bulu kudukku berdiri. Garam di dalam mangkuk perlahan berubah warna menjadi hitam.

Tanpa dikomando, aku menjauh dari pintu. Seluruh tubuhku mengigil ketakutan. Segera aku berlutut di depan patung Buddha kecil. Sambil menggenggam erat potongan perkamen kertas, aku berdoa meminta pertolongan.

“Kumohon ... selamatkan aku dari Hachishakusama,” ratapku sambil memejamkan mata.

Kemudian, aku mendengar suara dari luar pintu.

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Ketukan di jendela mulai terdengar lagi. Dalam sekejap rasa takut menguasaiku. Aku hanya meringkuk di depan patung, menghabiskan sisa malam dengan setengah menangis dan berdoa. Aku merasa waktu berjalan lambat dan teror ini tak akan berakhir. Namun, akhirnya pagi menjelang. Garam yang ditaruh di empat mangkuk kini berwarna hitam pekat.

Aku memeriksa jam, dan ternyata sudah pukul 07.30. Dengan perlahan kubuka pintu kamar, Nenek dan K-san sudah berdiri di luar menunggu. Saat melihatku baik-baik saja, tangis Nenek pecah tak terbendung.

“Syukurlah kau bisa bertahan,” ucapnya sambil memelukku.

Aku turun dan terkejut mendapati Ayah dan Ibu tengah duduk di dapur. Lalu Kakek datang dan berseru, “Cepat! Kita harus segera pergi dari sini!”

Saat sampai di pintu depan, sudah ada sebuah mobil van warna hitam yang terparkir di pinggir jalan. Beberapa orang dari desa tampak berdiri di sekitarnya. Mereka menunjukku sambil  berbisik, “Itu dia anaknya.”

Mobil van itu berkapasitas sembilan orang, dan mereka menempatkanku  di tengah, dikelilingi oleh delapan orang. Sementara K-san duduk di bangku depan.

Pria di sebelah kiri menatapku tajam dan berkata, “Kau benar-benar dalam masalah besar, Nak. Aku tahu kau pasti ketakutan. Tetaplah menunduk dan tutup matamu. Kami tak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan buka matamu sampai kita berhasil pergi dari sini dengan selamat.”

Kakek bertugas mengendarai mobil van, sementara mobil Ayah di belakang mengikuti kami. Saat semuanya sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Mobil melaju cukup pelan. Sekitar 20km per jam atau kurang. Beberapa saat kemudian K-san berkata, “Mulai dari sini situasi akan semakin sulit.” Lalu ia pun mulai merapalkan doa dengan suara pelan.

Itulah saat di mana aku mendengar suara mengerikan itu lagi.

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Kugenggam erat perkamen kertas yang diberikan K-san dan menundukkan kepala, tetapi karena penasaran, aku pun mengintip ke luar jendela.

Tampak di sana, kain putih yang berkibar tertiup angin, bergerak mengikuti van. Itu adalah Hachishakusama. Ia berada di luar jendela, dan terus mengiringi mobil kami.

Lalu, tiba-tiba ia membungkuk dan mengintip ke dalam mobil.

“Tidak!” pekikku kaget.

Pria di sampingku berseru, “Tutup matamu!”

Segera kututup mata serapat mungkin dan kueratkan genggaman perkamen kertas di tangan. Tak lama, suara ketukan terdengar.

Tuk Tuk Tuk Tuk Tuk

Suara itu pun semakin lantang kudengar.

 “Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Suara ketukan terdengar dari jendela di sekeliling mobil. Semua orang di mobil juga sama kagetnya denganku. Tampak pula ekspresi gugup dari wajah mereka. Orang-orang di sekitarku tak bisa melihat dan mendengar suara Hachishakusama, tetapi mereka bisa mendengar suara ketukan di jendela.

Suara K-san yang sedang berdoa makin lama makin nyaring terdengar, hampir seperti orang berteriak. Ketegangan di dalam van benar-benar tak tertahankan.

Beberapa waktu kemudian, ketukan di jendela berhenti, dan suara itu pun lenyap.

K-san berbalik menghadap kami dan berucap, “Kukira sudah aman sekarang.”

Semua orang di sekitarku menghela napas lega. Van segera menepi ke sisi jalan, dan orang-orang turun dari mobil. Lalu mereka memindahkanku ke mobil Ayah. Sambil berurai air mata, Ibu memelukku dengan erat.

Kakek dan Ayah membungkuk serta mengucapkan terima kasih pada semua orang yang menemaniku di dalam van. K-san mendekati jendela mobil, dan memintaku menunjukkan perkamen kertas yang ia berikan kemarin. Saat kubuka telapak tangan, perkamen itu sudah berubah warna menjadi hitam.

“Sepertinya kau sudah aman sekarang,” ucapnya. “Tapi untuk jaga-jaga, pegang ini untuk sementara waktu.” Ia pun memberikanku potongan perkamen yang baru.

Setelah itu, kami langsung berkendara menuju bandara. Kakek memastikan kami aman sampai ke pesawat. Saat pesawat take off, kedua orang tuaku menghela napas lega. Ayah bercerita kalau dia juga pernah mendengar tentang Hachishakusama sebelumnya. Bertahun-tahun yang lalu, salah seorang temannya juga diincar oleh makhluk itu. Anak itu pun menghilang dan tak pernah terlihat lagi.

Ayah melanjutkan cerita. Ada beberapa orang yang juga diincar oleh Hachishakusama dan berhasil selamat untuk menceritakan pengalamannya. Mereka harus meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Selamanya, tak boleh kembali lagi ke kampung halaman.

Hachishakusama selalu mengincar anak-anak. Dikarenakan anak-anak masih sangat bergantung pada orang tua dan anggota keluarga lainnya. Ini membuat dia semakin mudah memancing korbannya dengan menyamar menjadi salah satu anggota keluarga.

Ayah bilang, semua orang di van tadi adalah keluarga yang punya hubungan kekerabatan denganku. Inilah kenapa mereka duduk mengelilingiku, juga Kakek dan Ayah yang berkendara di depan dan belakang. Itu semua untuk membingungkan Hachishakusama. Butuh waktu untuk menghubungi dan mengumpulkan mereka semua, itulah kenapa aku dikurung semalaman agar tetap aman sampai mereka semua datang.

Ayah juga menjelaskan kalau salah satu patung jizo (yang dipasang untuk mengurung makhluk itu) telah rusak, dan inilah alasan kenapa Hachishakusama bisa bebas berkeliaran.

Itu membuatku merinding. Aku sangat lega saat kami sampai di rumah dengan selamat.

***

Kisah ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Aku tak pernah lagi melihat Kakek dan Nenek sejak saat itu. Aku sudah tak bisa lagi menjejakkan kaki di Jepang. Walaupun begitu, aku rutin menghubungi mereka tiap beberapa minggu sekali melalui telepon.

Selama bertahun-tahun, aku coba meyakinkan diriku kalau itu semua hanyalah urban legend. Semua yang terjadi adalah siasat yang direncanakan untuk mengerjaiku. Tapi terkadang, aku sendiri pun tak yakin.

Kakek wafat dua tahun yang lalu. Saat jatuh sakit, ia melarangku untuk pergi menjenguknya. Ia juga meninggalkan wasiat agar aku tidak diperbolehkan mendatangi upacara pemakamannya. Itu sangat menyedihkan bagiku.

Nenek menghubungiku dua hari yang lalu. Ia bilang kalau dirinya divonis mengidap kanker. Ia sangat merindukanku dan ingin bertemu untuk terakhir kalinya sebelum meninggal.

“Kau yakin, Nek?” tanyaku padanya. “Apakah ini aman?”

“Sudah sepuluh tahun berlalu,” balasnya. “Semuanya sudah lama terjadi. Peristiwa itu pun hampir terlupakan. Kau sudah dewasa sekarang, aku yakin tak ada masalah.”

“Ng ... tapi ... bagaimana dengan Hachishakusama?” tanyaku lagi yang masih ragu.

Untuk sesaat, ada keheningan yang terasa dari seberang telepon. Lalu, aku mendengar suara berat yang maskulin ....

“Po ... po ... po ... po ... po ... po ... po ....”

Tamat





























Tidak ada komentar:

Posting Komentar