Selasa, 20 Agustus 2019

Kamera Digital



Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di Jepang beberapa tahun lalu.

Salah satu kerabat jauhku mengalami kematian mendadak. Aku tak pernah bertemu dengannya. Ia memiliki seorang putri berumur empat tahun. Ayahnya tak mampu untuk mengurus anak itu sendiri, jadi ia meminta bantuan bibiku untuk merawatnya.



Sang anak tak pernah mau ditinggal sendirian, ia selalu menempel pada Bibi. Ini mulai menjadi masalah. Bibi tak bisa pergi ke mana pun tanpa Yuki. Dia selalu minta perhatian. Bahkan anak Bibi sendiri sampai cemburu dibuatnya.

Suatu hari, Bibi mengatakan padaku akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari, dan bertanya apakah aku bisa menjaga anak itu sampai ia pulang. Aku menyanggupinya dengan senang hati. Aku tinggal sendirian, pasti menyenangkan bila ada yang menemani.

Esoknya, Bibi mengantarkan Yuki ke apartemenku. Sambil bersiap untuk pergi, Bibi membungkuk di samping gadis kecil itu dan berkata, “Yuki, jangan nakal ya. Baik-baik di sini.”

Setelah Bibi berangkat, aku coba mengajak Yuki mengobrol dan bermain game. Namun, perilaku anak ini sangat aneh. Ia memiliki sebuah boneka teddy bear yang tak pernah lepas dari pelukannya. Ia tak pernah tersenyum, juga tak berbicara. Yang ia lakukan hanya duduk tenang di sudut ruangan sambil menatap tembok. Ini membuatku agak resah.

Aku coba mencari sesuatu yang mungkin bisa membuatnya terhibur. Kebetulan aku membeli kamera digital baru, jadi aku biarkan Yuki memainkan kamera digitalku yang lama. Kelihatannya ia tertarik dengan kameraku. Aku tunjukkan cara menggunakannya, lalu dia pun berkeliling apartemen, mengambil gambar apa pun yang bisa ditemukan. Terlihat senyuman cerah di wajahnya.

Sore harinya, aku mulai merasakan betapa repotnya mengurus Yuki. Kapan pun aku hendak meninggalkan ruangan, dia akan menangis dan meneriakkan namaku. Aku tak bisa meninggalkannya sendiri atau dia akan membuat keributan besar. Ia bahkan memaksa untuk ikut ke kamar mandi, yang tentu saja sangat memalukan.

Saat waktunya tidur, ia menolak tidur di kamar tamu dan memaksa tidur di ranjangku. Aku membacakannya cerita hingga akhirnya ia terlelap. Saat itu aku bisa melihat bonekanya lebih jelas. Salah satu kakinya menghitam dan gosong. Sepertinya bekas terbakar. Itu membuatku penasaran.

Tepat tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Saat kuperiksa, ada sesuatu yang salah dengan Yuki. Seluruh tubuhnya bergetar hebat, matanya terbuka lebar, giginya bergemeretak, dan air mata turun membasahi pipinya. Aku memegangnya erat dan menanyakan apa yang terjadi.

“Dia sedang memperhatikanku, lagi,” gumamnya seperti orang mengigau.

“Si-siapa?” tanyaku sedikit kaget.

“Si wanita gelap,” balasnya.

Ia tak mengucapkan apa pun lagi. Aku coba menjelaskan kalau itu hanya imajinasinya, tetapi ia terus menggoyangkan kepala dan merintih. Butuh waktu lama untuk membuatnya kembali tertidur.

Esok harinya, Yuki terlihat normal kembali. Ia suka memainkan kamera digitalku. Saat waktunya ia pulang ke rumah Bibi, aku bilang dia boleh menyimpan kamera itu. Yuki memelukku. Walau ia tak mengucapkan sepatah kata pun, aku tahu dia sangat gembira.

Aku mengantar anak itu sampai ke rumah Bibi, lalu mampir sejenak untuk minum teh. Bibi berterima kasih padaku karena sudah menjaga Yuki. Kami menghabiskan waktu mengobrol di dapur.

“Kasihan sekali anak itu,” ujar Bibi. “Ia jadi jarang berbicara sejak ibunya meninggal.”

Aku tak bisa membendung rasa penasaran. “Kenapa ibu Yuki meninggal?” tanyaku.

Tatapan yang aneh terlihat dari mata Bibi. “Ia tewas dalam kebakaran ....”

“Bagaimana kebakaran itu bisa terjadi?”

“Yah ....” Bibi tampak enggan untuk bercerita. “Ini kisah yang sangat menyedihkan. Ia bunuh diri. Ibu Yuki adalah wanita yang bermasalah. Ia menyiram bensin ke sekujur tubuh dan menyalakan korek. Ia membakar dirinya hidup-hidup.”

“Ya Tuhan!” Aku tersentak mendengarnya. “Mengerikan sekali.”

“Ya,” sambung Bibi. “Keluarganya sangat terkejut, mereka berusaha menutupi hal ini dan menganggap seolah-olah ini adalah kecelakaan. Upacara pemakaman kecil diadakan dan hanya mengundang kerabat dekat saja. Yuki tak hadir di sana. Ia bahkan tak tahu kalau ibunya sudah tiada. Ia pikir ibunya sedang pergi untuk liburan panjang. Kami tak sampai hati untuk menjelaskan hal itu padanya.”

“Kasihan Yuki,” ucapku prihatin.

Bibi mengangguk dengan sedih, “Ya, kasihan anak itu.”

Beberapa hari setelahnya, Yuki ditemukan tewas.

Bibiku berusaha mengubah kebiasaan Yuki. Di malam hari, dia memaksa Yuki untuk tidur di kamarnya sendiri. Tak peduli dengan tangisan dan teriakannya, Bibi meninggalkan dan menguncinya di dalam kamar. Pagi harinya, ia menemukan Yuki terbaring tak bergerak di atas ranjang. Gadis kecil yang malang itu sudah tewas.

Tak ada seorang pun yang bisa menjelaskan apa yang terjadi. Petugas forensik tak dapat memastikan penyebab kematiannya. Tak ada bekas luka apa pun pada tubuhnya. Ia benar-benar sehat. Mendadak nyawanya melayang malam itu. Tak ada penjelasan lain.

Setelah pemakaman, aku kembali ke rumah Bibi. Semua orang sangat sedih atas kepergiannya. Bibi mengembalikan kamera yang kuberikan pada Yuki. Aku pun menerimanya. Itu satu-satunya benda yang bisa mengingatkanku dengan Yuki.

Kartu memori kamera itu penuh dengan foto-foto yang diambil Yuki. Aku melihat-lihat foto itu, hingga tanpa sadar air mata mulai menetes. Ada foto dari apartemenku, foto rumah Bibi, foto bunga, kucing, mainan, permen ... objek-objek konyol yang akan difoto oleh anak-anak.

Lalu, aku sampai di foto terakhir yang membuat darahku membeku seketika.

Tanganku bergetar tanpa bisa dikendalikan.

Serasa ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar.

Catatan waktu di foto itu menunjukkan kalau foto diambil tepat saat malam Yuki tewas.

Ini adalah foto terakhir yang diambil gadis malang itu menggunakan kameraku:



Tamat












Tidak ada komentar:

Posting Komentar