By: Mu Id
“Tak kusangka penjagaannya seketat ini. Aku jadi makin penasaran, tapi pasti sulit melewati mereka tanpa ketahuan,” ucap seorang pemuda berjaket biru.
“Tenang saja, Dean. Kau kira aku mengajakmu ke sini tanpa persiapan?” balas pemuda lain sembari mengambil sebuah ponsel dari jaket hitamnya. “Aku dapat info dari komunitas pencinta horor di daerah ini. Ada sebuah titik di mana kita bisa menyusup tanpa ketahuan.”
“Mantap, Rob! Tak sia-sia kau ‘bertapa’ di sini sekian lama sampai tak mengirim kabar,” puji pemuda yang dipanggil Dean itu.
“Aku terlalu sibuk sampai tak bisa mengabarimu, makanya aku menyuruhmu datang ke kota ini untuk mengunjungi ikon horor yang terkenal di sini, Hutan Keabadian,” papar Rob sambil menuntun Dean ke tempat yang dimaksud.
“Hutan Keabadian? Nama yang aneh untuk sebuah tempat angker,” cibir Dean.
“Mungkin kau akan tahu setelah masuk ke dalam.” Rob menyingkap semak-semak di samping pagar kawat, sebuah celah tampak di sana, cukup besar untuk dilewati orang dewasa bertubuh kurus seperti mereka.
Rob masuk melalui celah itu, disusul Dean di belakangnya. Atmosfer berbeda benar-benar terasa begitu memasuki kawasan hutan ini, suasana dingin dan hampa yang aneh. Seperti tengah berada di dunia lain.
“Kau terlihat ragu, mau lanjut tidak?” tanya Rob melihat Dean yang berdiri mematung.
“O-oh, ya! Tentu saja, kita sudah sampai di sini, masa mau mundur begitu saja,” jawab Dean agak tergagap.
***
“Tak percuma aku datang ke sini, benar-benar pemandangan indah yang misterius,” ungkap Dean berdecak kagum saat melihat vegetasi hutan yang penuh nuansa mistis.
“Jangan terlalu antusias, Dean. Nanti kau bisa bernasib sama seperti para remaja yang tak pernah kembali dari hutan ini,” tegur Rob.
“Tenang saja, selama kita tak keluar dari jalan setapak, kita tak akan tersesat, kan?” balas Dean dengan santai.
“Yah, semoga saja ....” Rob hanya mengiyakan, “Eh, waduh gawat!”
Langkah mereka terhenti, jalan setapak yang sedari tadi mereka telusuri tak tampak lagi di depan, jalur terputus oleh rimbunnya rumput liar yang tumbuh tinggi.
“Ck, payah! terpaksa kita harus putar balik dari sini,” gerutu Dean yang terlihat kecewa.
“Tunggu, Dean!” seru Rob menghentikan langkah temannya, “Yang namanya petualangan memang harus mencari jalannya sendiri, kan?”
“Kau tidak serius kan, Rob?” tanya Dean seakan paham maksud pemuda itu.
Rob tak menanggapi Dean dan terus berjalan keluar jalur, “Ayolah! Apa semangatmu tadi sudah hilang cuma karena hal kecil begini?”
Dean mulai bimbang, di satu sisi ia takut akan tersesat bila keluar dari jalur, di sisi lain ia juga ingin menjelajah lebih dalam lagi.
“Baiklah, aku ikut! Jangan lupa membuat tanda di pohon supaya kita tak tersesat,” ingat Dean yang akhirnya menyambut ajakan itu.
Langkah mereka perlahan menerobos barisan vegetasi liar yang semakin tumbuh merapat. Namun, penampakan langit membuat perasaan semakin tak enak.
“Hei, tadi kita masuk ke sini sekitar jam sembilan pagi, kan? Kenapa hari begitu cepat gelap?” ucap Dean mulai khawatir.
“Mungkin ini cuma mendung,” balas Rob.
“Tidak, langit mendung tidak seperti ini. Kita harus cepat-cepat keluar dari sini,” tandas Dean semakin gelisah.
“Ya sudah, kita putar balik saja, lagipula kita belum pergi terlalu jauh dari jalan setapak,” ucap Rob sepakat.
“Eh, Rob, kau tak lupa membuat tanda saat berjalan ke sini kan?” tanya Dean tiba-tiba.
“Tentu saja, aku masih belum pikun ... eh, lho, mana tandanya?” sentak Rob yang tak mendapati tanda apapun di pohon.
“Meneketehe, harusnya aku yang bertanya begitu!” geram Dean.
“Aku benar-benar sudah menandai pohon kok!” kilah Rob membela diri. “Ya sudah, kita berjalan saja, semoga jalan setapak tak jauh dari sini.”
Hanya mengandalkan perasaan, mereka meraba-raba bekas jalur yang dilewati tadi. Namun, anehnya jalan setapak tak kunjung ditemukan, sementara langit sudah semakin pekat.
“Benar kan, kita tersesat sekarang, mana hari semakin malam. Aku heran kenapa waktu terasa begitu cepat.” Rasa cemas dan bingung semakin menggelayut di pikiran Dean, dalam keadaan terang saja sulit menentukan jalan yang harus ditempuh, apalagi gelap begini.
“Dean, kau lihat sesuatu di sana?” tunjuk Rob pada sebuah siluet besar di kejauhan.
“Itu kan, sebuah pondok!” seru Dean yang terlihat lega, “Semoga kita bisa mendapat bantuan di sana.”
Mereka berlari kecil menuju pondok, berharap ada penjaga hutan yang bisa menolong mereka keluar dari kawasan itu.
Deritan pintu memecah kesunyian. Apa yang mereka harapkan kini pupus sudah. Tidak ada siapapun yang menghuni pondok tua berdebu yang kelihatannya sudah lama ditinggalkan itu.
“Sial, aku ingin keluar dari hutan terkutuk ini!” keluh Dean sambil mengacak-acak rambutnya.
“Tenanglah, Dean!” Rob coba menenangkan emosi Dean, “Paling tidak kita mendapatkan tempat yang aman untuk tidur, besok kita bisa lanjutkan penelusuran kembali.”
Akhirnya emosi Dean pun harus mengalah oleh kondisi tubuhnya yang kian lelah, mereka pun tertidur menunggu hari esok yang semoga menumbuhkan harapan dan semangat baru.
***
Dean mulai terjaga dan membuka mata. Hari sudah cukup terang hingga semua bisa terlihat jelas. Dia tengah berada di area terbuka di tengah hutan, dengan kata lain, pondok yang dia tempati semalam menghilang!
Dengan pikiran linglung, Dean memeriksa sekeliling, berusaha mencari apapun yang bisa mengobati kebingungannya.
Tak jauh dari sana, sebuah papan kayu tergeletak di tengah rerumputan. Sederet tulisan terlihat di sana, walaupun terlihat kotor, tetapi masih dapat terbaca.
-------------
Panduan singkat bagi pengunjung.
- Dilarang membawa makanan, terutama yang berbahan daging.
- Dilarang membuat suara bising yang dapat menarik perhatian.
- Dilarang keluar dari jalan setapak.
- Bila ada yang memanggil minta pertolongan, jangan hiraukan!
- Bila temanmu terluka, segera tinggalkan!
- Bila menemukan pondok, jangan masuk! Tak ada pondok di hutan ini!
- Jangan sampai tertidur di dalam hutan, atau kau tak akan pernah bangun lagi!
------------
Sejenak Dean berpikir ini hanya kerjaan anak-anak usil yang pernah datang kemari. Namun, tulang belulang manusia yang ia dapati di sekitar sudah cukup untuk membuatnya mempercayai itu semua.
Dean tak dapat berkata-kata lagi saat mendapati mayat berjaket biru yang terlihat masih baru tergeletak kaku di tanah, dan ... yang lebih mengejutkan adalah mayat berjaket hitam di sampingnya. Tampak dari kondisinya yang sudah membusuk, bisa dipastikan dia sudah berada di sana lebih dari sebulan.
“Temen semprul! Mati pake ngajak-ngajak!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar