Selasa, 20 Agustus 2019

Kebakaran Rumah


Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Akan kuceritakan kejadian di suatu malam yang mengubah hidupku untuk selamanya. Suatu malam di mana aku hampir mati ... malam di mana aku kehilangan kewarasanku.



---------------------------------------------

Di malam musim semi yang hangat saat aku berusia 13 tahun, orang tuaku pergi berlibur akhir pekan, meninggalkanku seorang diri di rumah. Aku mengundang dua sahabatku, David dan Arnold, untuk datang ke rumah menemaniku.

Kami sedang di kamar sambil menyetel musik, lalu Arnold datang mengecilkan volumenya.

“Hei, bagaimana kalau kita mendengarkan cerita seram?” ucapnya, “Aku sedang ingin ditakut-takuti.”

“Sepertinya itu ide bagus,” balas David setuju. “Siapa duluan yang mau cerita?”

“Ng ... aku punya satu cerita.” Aku segera mengajukan diri. “Tapi ... ng ... aku tak yakin apa harus menceritakannya.”

“Ayolah ...,” pinta David. “cepat ceritakan!”

“Oke.” Aku pun memutuskan untuk bercerita. “Ini adalah sebuah kisah mengerikan yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Ada seorang pria yang memiliki  putra berumur tujuh tahun. Istrinya meninggal saat melahirkan anak itu. Mereka hidup di pinggiran desa, bermil-mil jauhnya dari rumah penduduk. Bahkan mereka tak memiliki telepon, sebab saat itu jaringan telepon belum mencapai pelosok desa.

Suatu hari, sang ayah pulang kerja dan tersentak mendapati rumahnya digulung kobaran api. Ia langsung teringat anak laki-lakinya, lalu segera menerobos ke dalam sambil memanggil namanya. Saat terdengar sahutan, si ayah menyadari kalau anaknya tengah terjebak di dalam kamar.

Sang ayah berlari menghampiri dan coba membuka pintu kamar anaknya, tetapi sayang, pintu tak bisa terbuka, reruntuhan bangunan yang roboh telah menahan pintu itu. Si ayah tak menyerah, ia terus menendang pintu sekuat tenaga. Namun, pintu itu tak bergeming. Bahkan ia juga mendobrak menggunakan bahunya, tetapi hasilnya sama saja. Selama itu, ia terus mendengar jeritan anaknya. Bocah laki-laki itu sangat panik, menangis, dan berteriak meminta pertolongan.

Sang ayah terus mencoba merobohkan pintu. Namun, tak peduli apapun yang dia lakukan, pintu itu tetap pada posisinya. Ia berteriak dalam kemarahan, menghantamkan diri dalam keputusasaan. Tak ada hal lain yang ada di pikirannya sekarang selain pintu di depan dan sang bocah yang terjebak di baliknya.

Akhirnya si anak tewas terpanggang di dalam rumah, ayahnya juga. Dia tak pernah bisa membuka pintu kamar itu, dan tetap berada di sana sampai akhir. Dalam kekecewaan yang mendalam, terus berusaha menghancurkan pintu hingga asap dan api menyelimuti tubuhnya.”

Arnold menatapku dengan tampang kecut dan berkata, “Itu tidak seram sama sekali.”

“Jujur saja, ceritamu payah.” David pun sependapat. “Itu sedih, bukan menakutkan.”

Saat itulah, kuputuskan untuk menceritakan bagian akhir dari kisah itu. Sebenarnya aku tak berencana untuk menceritakannya, tapi aku terlalu terbawa hasrat untuk membuat mereka terkesan. Benar-benar bodoh, seharusnya aku tak pernah memberitahu mereka tentang hal ini.

“Tunggu, kalian belum dengar cerita selengkapnya!” ujarku membela diri. “Sejak saat itu, hantu si ayah masih terus berusaha membuka pintu dan menyelamatkan anaknya. Kemudian, bila kau berkata ... ng ... aku memilih untuk tidak melakukannya ... tapi intinya, bila kau memanggil dan mengatakan padanya bahwa ada kebakaran, lalu memintanya untuk datang dan menolongmu, hantu itu akan benar-benar muncul di depan pintu dan membawamu pergi.”

David memandangku dengan serius, lalu menodong dengan pertanyaan. “Apa kau pernah mencobanya?”

“Tidak,” jawabku singkat. “Aku terlalu takut untuk mencobanya.”

Rasa antusias Arnold yang tak terbendung tampak jelas dari sinar matanya. “Hey, kita harus coba sekarang!” ujarnya yakin.

Rasa cemas mulai timbul, tak ada keinginan sedikit pun untuk mengundang hantu, dan aku menyesal sudah terlanjur menceritakan legenda ini pada mereka

David tersenyum. “Ya, kenapa tidak,” timpalnya.

Aku ingin menjelaskan kalau tak ingin terlibat dengan permainan ini, tetapi mereka tak memberiku kesempatan.

Arnold memasang suara bergetar untuk meniru suara anak laki-laki yang terjebak kebakaran. Ia pun berteriak, “Ayah! Ayah! Tolong aku! Ada api di mana-mana, aku takut!”

Lalu, ia tertawa lepas. Aku sama sekali tak tersenyum, tapi dia ... dia tertawa. Sementara David memperhatikan dengan seksama tanpa berkata apa pun.

Arnold mulai berteriak lagi, bahkan kali ini lebih lantang.

“Aku terbakar!!! Ayah, aku terbakar, tolong aku!!!”

“Cukup, Arnold! Ini tidak lucu!!!” bentakku yang sudah tak tahan dengan kelakuannya.

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku benar-benar ketakutan dan tak mau mendengar omong kosong ini lagi.

“Apa yang kau takutkan?” Arnold tertawa. “Ayolah, ini cuma cerita konyol yang bahkan tidak seram sama sekali.”

Dengan senyum simpul, ia melanjutkan.

“Ayah, kumohon tolong aku!!! Aku terbakar hidup-hidup!!! Aku ....”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari pintu kamarku.

Arnold terhenti di tengah teriakannya, kami semua serasa membeku. Ada kesunyian yang mencekam. Kami hanya bisa menatap satu sama lain, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Bruk! Bruk! Bruk!

Kami dibuat hampir melompat saking terkejutnya.

Bruk! Bruk! Bruk!

“Suara apa itu?!!” jerit Arnold yang panik.

“Jika ini lelucon, sungguh ... sangat tidak lucu!” David pun tak kalah ketakutan. Wajahnya pucat seputih kertas.

Suara gedoran di pintu terus berlanjut.

Mimpi buruk ini semakin parah, kami mendengar suara teriakan seorang pria, jeritan mengerikan itu akan terus terngiang di telingaku. Aku masih bisa mendengarnya sekarang. Itu terdengar seperti jeritan binatang yang sekarat, tak ada manusia yang bersuara seperti itu. Penuh akan kepiluan yang tak terkira.

Suara gebrakan pintu dan teriakan menakutkan saling sahut-menyahut tanpa henti.

Aku yang ketakutan setengah mati mencoba untuk sembunyi di dalam lemari. Arnold mengambil kursi, lalu bersiap memukul siapa pun yang memasuki ruangan. Sedangkan David merapat ke tembok, dengan air mata mengucur deras membasahi wajahnya.

“Tidak, tidak mungkin!” ratapnya. “Apa yang sebenarnya terjadi?! Aku takut!!!”

Seketika, teriakan dari balik pintu semakin keras, bahkan kali ini seperti sebuah raungan yang lebih mengerikan. Suara gebrakan pintu juga semakin kuat, aku merasa benda itu akan terpental dari tempatnya.

Lalu, rasa panik menguasai David.

“Aku tidak tahan lagi!” keluhnya. “Aku harus pergi dari sini!”

Sambil terus meracau, ia berlari ke jendela dan membukanya.

“Tidak! Jangan ....” Aku berusaha mencegahnya.

Namun, belum sempat menyelesaikan kalimatku, ia sudah lompat ke luar jendela. Terdengar suara jatuh yang cukup keras. Setelah itu, hening sesaat. Lalu, aku mendengar David menjerit kesakitan.

“Aaaakhhh!!! Aku jatuh! Sakit! Punggungku! Sakit!!!”

Aku bergegas menghampiri jendela dan menengok ke bawah. David tengah terbaring di jalanan, meneriakkan penderitaannya. Suara raungan dari balik pintu masih belum hilang, bahkan semakin memekakkan telinga. Frekuensi gedoran pintu juga semakin meningkat.

Aku pun bisa gila kalau begini terus. Ini adalah mimpi buruk yang tak berkesudahan, dan jeritan David hanya menambah horor suasana. Aku serta Arnold terlalu takut untuk keluar ruangan dan menolong David.

Lalu, aku mencium sesuatu. Awalnya tidak kusadari, tetapi kini ruangan kamarku dipenuhi aroma tidak sedap. Baunya seperti daging yang terbakar – jangan bayangkan aromanya seperti steak atau daging panggang – dengan aroma anyir bercampur bau asap yang menyesakkan. Benar-benar membuat kami mual.

Aku berbalik dari jendela, dan melihat Arnold berdiri mematung di tengah ruangan. Matanya membelalak lebar ke arah pintu seperti orang kesurupan. Lalu, ia membungkuk dan muntah di atas karpet.

Suara dobrakan, raungan, teriakan, aroma daging terbakar yang memuakkan, ditambah tampilan Arnold yang begitu kacau terlalu banyak untuk bisa ditahan perutku. Aku pun memuntahkan makan malam yang tadi kusantap.

Aku mundur perlahan menuju tembok, sementara teriakan David dan raungan di balik pintu masih terus berlanjut. Lalu, terlintas sebuah ide di pikiranku. Mungkin tangisan David di bawah bisa memancing makhluk itu. Aku pun menutup jendela rapat-rapat.

Kami berdua duduk meringkuk di lantai dengan tangan menutupi telinga. Terguncang oleh teror yang bertubi-tubi. Hantaman di pintu yang tak terhentikan, jerit memilukan yang menusuk gendang telinga, dan aroma gosong yang memaksa perut kami mengeluarkan isinya.

Lama kelamaan suara raungan itu semakin pelan, bau hangus berangsur-angsur lenyap, gedoran di pintu pun makin melemah. Hingga akhirnya, keadaan menjadi hening kembali. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah tangisan David dari jendela kamar yang tertutup.

Arnold menatapku dan berbisik, “Apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Mungkin kita harus memanggil polisi, atau pemadam kebakaran, atau ... akhh! Tak tahu lah! Panggil ambulans untuk menolong David!” balasku yang sudah tak bisa berpikir.

“Mana teleponmu?” tanyanya lagi.

“Ada di bawah.”

“Menurutmu ‘dia’ sudah pergi?”

“Ya ... suaranya tak terdengar lagi ....” jawabku yang juga tak yakin.

“Sepertinya begitu ...,” gumam Arnold. “kita harus segera pergi ke bawah, lagipula hantu itu sudah lenyap, ‘kan?”

“Kukira pun begitu,” balasku seadanya.

Perlahan Arnold berdiri lalu berjalan menuju pintu dengan ragu. Pelan-pelan ia raih kenop pintu, mendorongnya sedikit, lalu mengintip ke luar. Tak ada apa pun di sana.

Dengan senyum tersungging di wajah, ia berbalik ke arahku dan berkata, “Gila saja, sejak tadi pintu ini tak terkunci! Dasar hantu bodoh ....”

Namun, Arnold tak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Dalam sekejap mata, sebuah tangan muncul dari balik pintu dan mencengkeram leher Arnold. Ia hanya terdiam di sana, tanpa bisa bersuara, dengan mata melotot dipenuhi teror. Tangan itu hitam dan gosong, bisa kucium aroma daging terbakar yang menyengat darinya.

Belum sempat aku bereaksi, tiba-tiba Arnold lenyap di depan mataku. Terseret menuju lorong dengan kecepatan yang tak masuk akal. Pintu pun menutup keras seperti dibanting.

Aku segera bangkit dan berlari menuju pintu, tetapi tak berani untuk membukanya. Berulang kali aku memanggil Arnold. Namun, tak ada jawaban. Nyaliku masih belum cukup untuk membuka pintu.  Aku takut pria gosong itu masih ada di sana.

Sejak malam itu, Arnold tak pernah terlihat lagi.

Ayah dan Ibu membawaku ke psikiater. Aku tak pernah menceritakan apa pun padanya, pada siapa pun, bahkan pada orang tuaku. Lagipula mereka juga tak akan mempercayai ceritaku. David pun sama. Ia menghabiskan waktu sebulan di rumah sakit. Akibat aksi nekatnya, ia mengalami cedera tulang punggung.

Sampai sekarang, aku masih memiliki ketakutan untuk membuka pintu. Aku tak sanggup membayangkan apa yang mungkin menunggu di baliknya.

Tamat
































Tidak ada komentar:

Posting Komentar