Sabtu, 24 Agustus 2019

White Death


Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

White Death adalah cerita seram tentang arwah pendendam di Meksiko. Dia akan memburu siapapun yang mengetahui keberadaannya.

Aku tengah duduk di depan komputer, ketakutan setengah mati. Setiap detiknya bisa menjadi saat terakhir bagiku. Ada seorang teman yang menemaniku di sini, dan dia adalah alasan kenapa hidupku dalam bahaya. Mungkin ini membingungkan, jadi akan kujelaskan.



Semuanya dimulai pada awal hari ini, saat temanku menerobos masuk ke rumah dan langsung menutup pintu dengan keras. Matanya membelalak lebar dengan penuh ketakutan, dan dia berdiri di sana membelakangi pintu dengan napas tersengal-sengal. Aku bertanya apa yang terjadi, lalu dia menceritakan padaku kisah ini.

Ia tinggal bersama bibinya sejak tahun lalu karena orang tuanya berada di Meksiko. Mereka bekerja di sebuah rumah sakit wilayah Meksiko selatan. Di malam sebelumnya, seorang pria yang basah kuyup oleh keringat menerobos pintu depan rumah sakit. Ia meracau dalam bahasa Spanyol dan terlihat seolah teror telah mengacaukan pikirannya.

Mereka membawa pria itu ke kursi dan membiarkannya duduk. Setelah bersusah payah mengambil napas, ia menceritakan kisahnya dalam bahasa Inggris yang buruk. Dia bilang bahwa adik perempuannya dibunuh oleh sesuatu yang ia sebut sebagai “La Muerto Blanco”, lalu terus berbicara kalau makhluk itu akan menjadikan dia target selanjutnya.

Kebingungan, mereka menanyakan padanya, siapa atau apa itu La Muerto Blanco. Dengan tatapan yang penuh ketakutan, dia menjelaskan bahwa La Muerto Blanco adalah kematian putih (White Death). Dia adalah jiwa dari seorang gadis yang tewas bertahun-tahun yang lalu. Dia tewas oleh tangannya sendiri, kata pria itu, sendirian dan tak dicintai.

Dia sangat membenci kehidupannya hingga ia ingin menghapus semua jejak dirinya di dunia. Begitu besarnya keinginan gadis itu untuk menghapus semua eksistensinya, ia bangkit dari kematian, lalu menjelma menjadi iblis yang akan membunuh siapapun yang mengetahui tentang keberadaannya.

Dia seorang gadis, tapi bukan gadis, cerita pria itu. Ia tidak mati, tapi juga tidak hidup. Ia mempunyai mata dingin berwarna hitam yang mengalirkan tangisan darah. Ia berjalan seperti terlihat tanpa bergerak se-inchi pun. Ia mengintai mangsa layaknya seekor binatang buas, mengejar melewati sungai dan lembah, mengikuti mereka hingga ke rumahnya. Kau tak akan sadar bila sedang diikuti, hingga kau mendengar suara ketukan di pintu depan rumahmu.

Ia mengetuk sekali untuk kulitmu, yang akan digunakan untuk menambal dagingnya yang membusuk. Dua kali untuk rambutmu, yang akan ia gertakkan di antara giginya. Tiga kali untuk tulangmu, yang akan dia jadikan manik-manik. Empat kali untuk jantungmu, yang akan ia cabik keluar dari dadamu. Lima kali untuk gigimu, yang akan ia gosok dan simpan ke dalam kotak. Enam kali untuk matamu, yang akan ia cungkil keluar satu per satu. Tujuh kali untuk jiwamu, yang akan ia telan utuh-utuh.

Tak peduli ke manapun kau lari, White Death akan menemukanmu dan suara ketukan mengerikan mulai terdengar di pintu. Kau bisa mencoba kabur darinya, tapi ia lebih cepat daripada manusia normal. Bila kau lari saat ia mengetuk pintu rumahmu, dia akan tetap mengikutimu ke manapun kau pergi.

Pria yang ketakutan itu yakin adiknya dibunuh oleh makhluk ini. Ia sudah mencoba lapor ke polisi tentang White Death, tetapi mereka tak mau mendengar, menganggapnya sebagai dongeng lama. Selanjutnya, ia juga mencoba menceritakan pada pendeta. Namun, pendeta itu langsung menutup pintu gereja dan mengusirnya. Sang pendeta melihat White Death tengah mengikuti pria itu, dan tak mau ikut terlibat.

Sambil mencengkeram kepalanya, pria yang ketakutan itu berkata bahwa White Death akan terus mengikutimu selamanya sampai kau memberitahu orang lain mengenai hal ini. Lalu ia menyerang, ia membunuhmu dan akan mulai mengikuti orang yang kau beritahu.

Setelah menyelesaikan ceritanya, pria itu mencuri sebuah mobil dari tempat parkir rumah sakit, dan menghilang di kegelapan malam.

Kelihatannya, ayah dan ibu temanku segera menelepon sang bibi dan menceritakan tentang pria yang baru saja mereka temui. Mereka bertanya, apakah ia pernah mendengar tentang White Death. Si bibi menjawab kalau dia tidak tahu, lalu mereka pun menceritakan kisah yang dibawa oleh pria aneh tadi.

Setelah itu sang bibi mendapat panggilan telepon malam itu. Ternyata dari kepolisian Meksiko. Mereka memberitakan bahwa kedua orang tua temanku ditemukan tewas tercabik-cabik di luar rumah sakit.

Bibi temanku segera menghubungi dia di sekolah untuk menyampaikan kabar buruk itu. Saat temanku menangis, bibinya berkata kalau ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia menceritakan ulang keseluruhan kisah yang didengarnya pada temanku, tentang pria aneh yang muncul di rumah sakit beberapa jam sebelum kematian orang tuanya. Juga tentang White Dead, kisah aneh dan mengerikan yang diceritakan pria itu pada orang tuanya.

Saat temanku menutup telepon, ia masih tak percaya akan peristiwa yang baru saja didengar. Itu semua terasa tak nyata baginya. Saat kembali dari sekolah, temanku mendapati pintu rumah bibinya dalam keadaan terbuka. Di dalam, ia menemukan jejak darah yang mengarah ke dapur. Saat sampai di sana, ia menemukan mayat bibinya di lantai dapur dengan kondisi tubuh mengenaskan.

Ia segera berlari keluar rumah dan pergi melintasi kota, tanpa pernah menengok ke belakang, hingga akhirnya sampai ke rumahku. Saat ia menceritakan kisah ini, aku sama sekali tak mempercayainya. Hanya berselang satu hari, ayah, ibu, dan bibinya tewas dibunuh. Itu semua sulit dicerna akal sehatku.

Belum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun, kami berdua tersentak dalam perasaan horor saat tiba-tiba saja terdengar suara ketukan dari pintu depan.

Tak terasa sudah satu jam kami menatap pintu itu tanpa ada yang berani mengintip atau membukanya. Suara ketukan itu masih terdengar, bahkan semakin lama semakin lantang. Dia tak akan menyerah, dia tak akan pergi. La Muerto Blanco tak dapat dihentikan. Kurasa ia ingin menakuti kami. Sepertinya ia ingin agar kami saling menyalahkan, dan, ya, aku menyalahkan temanku. Ini semua salahnya, kenapa dia harus menceritakan semua ini padaku.

Saat aku duduk di sini bersama temanku sambil mendengarkan suara ketukan yang terus menggema, aku mengharapkan banyak hal. Aku berharap White Dead membunuh temanku tadi sebelum ia sampai di sini. Kalau saja dia tak sempat menceritakan tentang iblis itu padaku, aku tak akan berada dalam bahaya seperti ini. Aku menyesal pernah mengenalnya.

Aku juga menyesal untukmu. Maaf telah membuatmu membaca cerita ini. Maaf karena sudah menceritakan tentang White Death. Karena sekarang kau sudah mengetahui tentang dirinya, mungkin selanjutnya dia akan mengetuk pintu rumahmu.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar