Diterjemahkan dari web Scary for Kids.
Di suatu malam Halloween, aku dan pacarku, Tom, meringkuk di sofa menonton film horor. Film yang kami tonton berjudul, “California Chainsaw Massacre 2: The Bloodening”. Tom menyewanya dari tempat penyewaan video di dekat sini. Bagiku, itu adalah film horor paling bodoh dan norak yang pernah aku tonton.
Di layar TV, tampak seorang gadis berambut pirang tengah tertidur lelap di ranjang dalam keadaan telanjang bulat, sementara di sampingnya, berdiri seorang pria bertopeng. Di tangannya terpegang sebuah gergaji mesin. Ia terus memutar gergajinya hingga mengeluarkan asap.
“Konyol sekali,” ucapku dengan sinis, “siapa juga yang tidur telanjang di atas selimut seperti itu?”
“Cukup masuk akal bagiku,” ujar Tom sambil tertawa.
“Dan bagaimana bisa ia tak mendengar suara gergaji mesinnya?” komentarku lagi. “Benda itu berada tepat di samping telinganya!”
“Aku tak tahu, Beb,” balas Tom tergelak sambil menggulung rambut pirangku dengan jarinya. “Mungkin gadis berambut pirang memang bodoh seperti itu.”
“Sialan!” omelku yang memukul bahunya dengan pelan.
“Eh, Beb.” Tom tersenyum menampakkan giginya sambil menunjuk ke arah TV. “Kalau kau tak berhenti mengkritik filmnya, pria itu akan mendatangimu malam ini, dan memotongmu dengan gergajinya saat kau tertidur.”
“Jangan menakutiku!” pekikku sambil menampari pipinya.
“Kau tahu apa yang membuat film ini sangat menakutkan?” tanya Tom menghentikan tamparanku. “Di kotak video tertulis kalau ini adalah kisah nyata.”
“Yang benar saja,” ejekku tak percaya.
“Dan kau tahu apa yang membuatnya sangat sangat menakutkan?” tanya Tom lagi. “Film ini berjudul California Chainsaw Massacre ... dan kita berada di California!”
“Ihh ... kau ini ya!” balasku menggerutu sambil bercanda memukuli perutnya.
Tiba-tiba, di film yang kami tonton, si pria mulai memotong tubuh sang gadis menjadi dua dengan gergaji mesinnya. Gadis itu pun menjerit kesakitan dan darah palsu bercipratan ke segala arah.
“Ya ampun ...,” keluhku menyaksikan spesial efek murahan itu, “receh sekali efeknya. Aku tak mau nonton lagi.”
Kuraih remote di meja lalu mematikan TV.
“Aku tahu apa yang bisa menghiburmu,” ujar Tom. “Sini, Beb.”
Ia merangkul dengan lengan berototnya dan mulai menciumku.
Walaupun TV sudah dimatikan, entah kenapa aku merasa masih mendengar suara gergaji mesin.
“Tom, hentikan itu!” Kutatap ia dengan kelopak mata terbuka lebar.
“Hentikan apa?” tanyanya bingung dengan tatapan yang sama.
“Berhenti membuat suara itu!”
“Suara apa?” Ia menghela napas. “Aku tak melakukan apa pun.”
“Tidak, kau pasti melakukannya,” tandasku bersikeras. “Kau tahu aku sedang ketakutan.”
“Baiklah, mungkin kita hanya butuh pengalih perhatian.” Ia pun mulai menciumku lagi. Namun, aku tak bisa menyingkirkan hal itu dari pikiranku. Suara gergaji mesin masih terdengar, bahkan semakin jelas dan terdengar seperti berasal dari lantai dua.
“Tom!” Aku mendorong tubuhnya menjauh. “Pergi ke atas dan lihat hal apa yang membuat suara itu!”
“Iya, iya.” Ia menggerutu. “Aku akan naik dan memeriksanya, tapi kau masih berhutang sesuatu padaku.”
“Sesuatu apa?” tanyaku dengan senyum kecil.
Ia mengambil tongkat pemukul baseball dan meninggalkan ruangan dengan pintu tertutup. Sementara suara langkah kakinya terdengar menaiki tangga, aku memperhatikan kuku tanganku.
“Mungkin aku harus mengecatnya dengan warna hitam,” pikirku. “Untuk pesta halloween, pasti akan cocok bila ditambahkan gambar labu jingga kecil atau tengkorak berwarna putih di atasnya.”
Brak!
Suara itu membuatku melompat dari tempat duduk. Suara gergaji mesin itu terdengar semakin nyaring. Aku bisa mendengar suara putaran mesinnya dengan jelas.
“Aaahhh ... Bebih, tolooong!!!” Suara teriakan Tom terdengar dari atas.
Aku menghela napas. “Hentikan candaanmu, Tom,” teriakku balik, “ini sama sekali tak lucu!”
Aku kembali mendengarnya berteriak, “Jangan, Bang, jangan!”
“Kau tak akan bisa menipuku, Tom.” Aku berusaha tak memedulikan teriakannya.
Lalu, aku mendengar suara yang menjijikkan. Suara itu terdengar seperti gergaji mesin yang menembus daging dan tulang. Setelahnya, suasana menjadi hening.
Aku membeku seketika. Rasa takut segera menguasai pikiran hingga napasku terasa begitu sesak dan berat.
“Tom?” Aku memanggilnya dengan sedikit berbisik. “Kau baik-baik saja?”
Suara langkah kaki pun kembali terdengar menuruni tangga. Lalu, pintu terbuka dengan keras, dan secara mengejutkan Tom muncul memasuki ruangan. Ia memegangi dadanya, lalu jatuh ke lantai dengan wajah yang mendarat lebih dulu. Kolam darah pun menyebar dari tubuhnya dan meresap ke karpet.
Ada selembar kertas yang dilipat tertempel di belakang tubuhnya.
Aku mengambil dan membuka kertas itu. Seketika kulepaskan teriakan histeris mengiringi peristiwa horor ini.
Di sana tampak gambar pria pembunuh dari film itu, dan di sisi lain kertas, tertera tulisan berwarna hitam yang terbaca,
“Apakah ini cukup receh bagimu?”
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar