Minggu, 29 September 2019

Ghostagram


Diterjemahkan dari web Scary for Kids.

Megan Tucker sedang menunggu temannya, Marissa dan Callie. Mereka akan menjemput Megan untuk berbelanja kostum halloween di mall.



Megan memeriksa riasannya sekali lagi di cermin. Ia terlihat cantik. Sangat cantik. Ia mengambil foto selfie untuk para pengikut Instagram-nya. Setelah meng-upload gambar, ia pun menunggu “likes” masuk ke postingannya.

Saat itu juga, ia menyadari sesuatu yang mengerikan terlihat di sudut foto. Itu adalah seorang anak perempuan dengan gaun tidur berwarna putih. Aliran darah segar deras menuruni wajahnya. Megan menjerit dan langsung menengok ke belakang, tetapi tak ada siapa pun di sana.

“Megan, apa yang terjadi?” tanya ibunya yang berlari masuk ke ruangan.

“Tak ada apa-apa,” jawab Megan berbohong, “sepertinya tadi aku melihat uban.”

Walaupun jantungnya masih berdegup cepat, Megan tak ingin membuat ibunya khawatir. Ibunya sudah cukup repot berperan sebagai orang tua tunggal. Mengerjakan dua tugas sebagai ibu dan ayah sekaligus tentu tak mudah.

“Jangan khawatir, Nak.” Ibunya menghela napas. “Kau akan selalu menjadi gadis muda yang cantik. Semoga kau tak akan pernah menumbuhkan uban seperti yang kualami akibat mengerjakan dua tugas dan membesarkan dua anak sendirian.”

“Dua anak?” Megan memberikan tatapan bingung kepada ibunya.

“Oh ... maksudku satu,” koreksinya cepat. “Satu anak.”

Tak lama setelahnya, mereka mendengar suara klakson mobil dari luar. Megan pamit dan mencium ibunya. Ia bergegas menuruni tangga, lalu naik ke mobil Marissa yang sudah menunggu di depan rumah.

“Hei, Megan, aku melihat foto selfie-mu di Instagram,” ujar Marissa yang mulai melajukan mobilnya.

“Ya, dekorasi halloween di belakangmu benar-benar mengerikan,” timpal Callie.

“Kalian tak tahu, itu bukan dekorasi halloween!” tandas Megan menjelaskan yang sebenarnya. “Aku tidak tahu dari mana datangnya hantu gadis itu. Aku sangat ketakutan tadi!”

“Ayolah, Megan, jangan bercanda,” Marissa masih tampak tak percaya.

“Aku benar-benar serius!” tegas Megan untuk kedua kalinya.

Tangan Megan bergetar hebat, bahkan ia kesulitan membuka kunci ponselnya. Ia memaksa dirinya untuk tenang, lalu mengambil foto selfie lagi. Kali ini dia terlihat manis dengan kacamata yang dipasang di kepalanya.

Ia pun meng-upload foto itu. Namun, saat melihat hasilnya, ia tak bisa mempercayai matanya sendiri. Hal itu terjadi lagi ... hantu gadis mengerikan itu kembali tampak duduk di bangku belakang bersama Callie!

“Ya, Tuhan!” pekik Megan menyaksikan sajian horor tersebut. “Lihat di ponsel kalian, sekarang!”

Callie dan Marissa membuka ponsel dan masuk ke Instagram. Saat melihat foto itu dengan mata kepala sendiri, mereka berdua pun menjerit tak kalah hebatnya.

“Ia mengotori mobilku dengan darahnya!” protes Marissa.

“Tak usah pikirkan mobilmu!” sahut Callie tak mau kalah. “Bagaimana dengan pakaian baruku!”

“Kenapa ini terjadi padaku,” keluh Megan.

Megan pun mendapati foto barusan sudah mendapat 53 likes, sedangkan foto di kamar yang di-upload sebelumnya mendapat 181 likes. Sejumlah komen berisi pujian pun mengalir masuk, seperti, “Hai, cewek, kau terlihat seksi.” dan “Dekorasi halloween yang bagus, aku hampir saja tertipu.” serta “Mau jalan denganku kapan-kapan?”

“Wow, itu likes yang banyak,” tutur Callie terkesan.

“Mungkin diikuti oleh hantu gadis yang berlumuran darah tidak sepenuhnya buruk,” ujar Megan yang puas dengan respon pengikut Instagram-nya.

“Tapi, dari mana datangnya hantu ini?” Marissa jadi penasaran. “Dan kenapa dia mengikutimu?”

Mereka sampai di area parkir mall, lalu keluar dari mobil.

“Aku tidak tahu,” jawab Megan yang juga kebingungan.

Saat mereka masuk ke dalam mall dan mencari toko kostum, Megan mendapati komen baru masuk di akun Instagram-nya. Komen itu berasal dari seseorang yang tidak ia kenal. Di sana ia menulis, “Aneh, gadis kecil yang ada di belakangmu terlihat mirip dengan Susie Tucker, tapi itu tidak mungkin, Susie Tucker sudah tewas di tahun 2004. Ada yang bilang ia dibunuh oleh ibunya sendiri. BTW, kau terlihat cantik, sangat cantik. Kapan-kapan kita jalan, yuk?”

“Susie Tucker? Siapa itu Susie Tucker?” batin Megan yang semakin heran.

Seketika, semuanya menjadi masuk akal bagi Megan. Biasanya ia jarang menggunakan otaknya, tapi kali ini pikirannya bekerja dengan baik.

“Aku tahu sekarang ...,” gumamnya pelan, “sepertinya dia ... dia ... kakak perempuanku!”

Di malam halloween, Megan tengah bersiap di kamarnya. Ia mengenakan gaun tidur panjang berwarna putih, lalu mengambil foto selfie di ruang tengah. Megan tak tahu, sebenarnya ia tengah berdiri di tempat kakaknya terbunuh 15 tahun yang lalu.

Megan meng-upload foto itu. Saat ia memeriksanya, tampak seorang gadis pucat berlumur darah yang menakutkan di belakangnya. Megan pun menunggu untuk melihat seberapa banyak likes yang bisa ia dapatkan. Namun, ia sadar tak punya banyak waktu. Ibunya akan segera pulang dari bekerja.

Pintu depan terbuka dan sang ibu memasuki rumah. Saat ia melihat penampilan Megan, langkahnya terhenti seketika.

“Megan, kenapa kau berpakaian seperti itu?” tanya ibunya.

Megan mengambil satu langkah mendekati sang ibu.

“Tahun ini, aku akan datang ke pesta halloween sebagai kakak perempuanku,” jawab Megan tanpa ragu.

“Apa maksudmu?” tanya si ibu lagi yang masih tak mengerti kelakuan putrinya.

Megan meraih lengan ibunya, lalu mulai mengguncangnya.

“Seperti inilah pakaian yang digunakan Susie. Ya, ‘kan, Bu?” bentak Megan. “Pakaian inilah yang ia gunakan di malam kau membunuhnya!”

“Hentikan itu, Megan!” teriak ibunya sambil berusaha menutup telinga. “Itu bukan salahku! Dia tumbuh semakin tua! Tua sepertiku! Aku tak mau itu terjadi, aku ingin dia tetap terlihat muda dan cantik selamanya!”

Megan mulai menangis. Ia mengusap wajah untuk menghapus air mata yang turun membasahi pipinya.

“Tidak!” tandas Megan berusaha tetap tegar. “Aku tidak akan mempercayai kata-katamu. Tapi itu benar, kau butuh bantuan. Ibu, kau sudah gila!”

Sang ibu menatap Megan dalam kengerian. “Apakah itu ... apakah itu keriput di wajahmu?”

Emosi wanita itu mencapai puncaknya. Ia pun mengeluarkan sebuah pisau daging berukuran besar, mata pisaunya berkilauan diterpa sinar bulan.

“Kau semakin tua, Megan,” bisiknya lirih, “tua sepertiku! Kau harus tetap terlihat muda, seperti Susie! Aku akan membantumu agar tetap muda dan cantik selamanya!”

“Tidak, Ibu, jangaaan!!!” Megan menjerit sekeras-kerasnya. Namun, sudah terlambat, pisau itu sudah menancap di dadanya. Remaja perempuan itu tersentak ke belakang dan ambruk ke lantai. Genangan darah menyebar di sekitarnya membasahi karpet.

Sebelum nyawa tercabut dari raga, Megan berusaha meraih ponsel di saku. Itu perjuangan yang menyakitkan, tetapi dia berhasil mengambil foto selfie terakhirnya. Segera setelah foto itu diposting di Instagram, satu komentar pun masuk.

Komen itu berasal dari salah satu remaja pengikut Instagram-nya. Ia menulis, “Kau sangat seksi, Megan! Mau jalan denganku kapan-kapan?”

Tamat























Tidak ada komentar:

Posting Komentar