Jumat, 22 Desember 2017

Aris In Creepyland : Bagian 5

BAGIAN 5


“Ahh...disini kamu rupanya, cepat kembalikan lidahku !” ternyata itu si  ‘makhluk peniru’ yang ditemuinya tadi !
“nih...” jawab sang nenek sambil menjulurkan lidahnya.
“kiii... itu kan lidahku ! kenapa nenek yang pakai ?”
“biarlah... kau kan hanya memakan mangsamu bulat – bulat seperti ular, jadi kau tak membutuhkan lidah ini untuk makan”.
“tapi... itu kan berpengaruh pada penampilanku... ki..ki..kii...” jawab makhluk itu sok keren.
“cih... memangnya wanita mana yang mau melirikmu, baru melihatmu saja mereka sudah kena serangan jantung !”

“STOP ! hentikan guyonan ini ! nenek mengenali makhluk tak jelas ini ?” tanya Aris mulai curiga.
“tentu saja, dia ini abdi setiaku, perkenalkan, Weldy...” jawab si nenek dengan santainya.
“HAH?! Weldy? Itu nama yang terlalu bagus untuk makhluk buruk rupa seperti dia!”.
“hei... kau punya masalah dengan itu? Sini, biar kugigit kepalamu sampai putus!”
“sudah... sudah! Jangan berkelamin! Kalian berdua harus rukun...”.
“tapi... makhluk ini tadi menyerangku, dia bahkan mengigit tanganku” Aris memperlihatkan bekas luka gigitan di tangannya.
“oh... kalau itu memang aku yang suruh...”.
                Perlahan Aris berjalan mundur ke belakang, “apa maksud nenek menyuruhnya melakukan hal itu ? dan... bagaimana dengan janji yang nenek ucapkan kepadaku ?”.
“ah iya... kalau masalah itu... maaf ya nak, sepertinya nenek berubah pikiran, lebih baik kamu tetap berada di dunia ini, lagipula... lihatlah dirimu sekarang !”.
Aris melihat, kini sekujur tubuhnya menjadi berwarna pucat, jari – jari tangannya menjadi kurus dan bertambah panjang, kuku – kukunya pun mulai memanjang dan menghitam.


“ti..tidak mungkin !!! aku berubah menjadi seperti mereka ! ja..jadi ini maksud perkataan makhluk janggal itu tadi !!!”
“ehm... Weldy ! namaku Weldy !” ucap makhluk jadi – jadian itu.
“KHU..KHUU... sudah ya, kalau ada perlu jangan sungkan mampir ke gubukku” nenek itu beringsut pergi.
“suara tawa itu...! tunggu, kau pasti tahu dimana adikku kan ?! cepat beritahu aku !”.
“asal kau tahu saja nak, sekarang adikmu sudah...”
“berhenti di situ nenek tua !” tiba – tiba ada suara yang memotong pembicaraan mereka.
“Kiii...! lagi – lagi orang itu !”
Ya... yang kini berdiri di hadapan mereka adalah petani dengan tangan arit itu.
“huh... ternyata kau masih hidup, eh maaf... secara harfiah kau kan sudah mati, KHU..KHUU...”.
“gara – gara kau lah aku menjadi seperti ini, sekarang sudah cukup ! jangan kau libatkan anak ini, kembalikan dia ke tempat asalnya !” seru petani.
“baiklah... tapi itu jika kau bisa mengalahkanku, dan pasukanku !” nenek itu menjentikkan jarinya, serta merta tanah di sekitarnya bergera – gerak disertai dengan makhluk – makhluk yang bermunculan dari dalamnya.
                Mereka adalah para goblin. Mereka yang sebelumnya berusaha mengambil kepala – kepala manusia itu, namun kali ini mereka muncul dengan jumlah yang jauh lebih banyak, bahkan ada yang terbang di langit dengan menunggangi lalat raksasa berkepala babi.
“gawat ! kita kalah jumlah !” ucap Aris.
“tenang saja nak, kita tidak sendiri...”
Lalu muncullah dia, ‘makhluk merangkak’ yang ditemui Aris saat petama kali kesini, di belakangnya terlihat kerumunan makhluk aneh yang mengikutinya. “sepertinya aku pernah melihat mereka...” Aris merasa tak asing dengan makhuk – makhluk itu. “oh iya ! mereka kepala berakar yang aku selamatkan tadi !”. namun ada yang berbeda dari mereka, akar kecil yang tadinya tumbuh di leher mereka, kini sudah membentuk tubuh manusia yang sempurna, lengkap dengan tangan dan kaki yang terlihat kokoh, kini mereka terlihat seperti manusia pohon.
                Salah satu dari mereka dengan bekas luka di kepalanya datang menghampiri Aris.
“hei ! kau orangnya yang melempar batu ke kepalaku waktu itu ya ! awas... urusan kita belum selesai !”.
“Hah ? lho... aku nggak tahu loh ya...” Aris coba mengelak.
“baiklah, semuanya... sekarang akan kita akhiri kutukan ini untuk selamanya !” petani itu kini memimpin pasukan ‘manusia pohon’. “SERAAAANG !!!”. maka terjadilah pertempuran sengit antara 2 kubu itu. Manusia – manusia pohon ternyata cukup kuat, bahkan mereka dapat melilit lalat raksasa yang terbang dengan sulur yang tumbuh dari tangannya dan menjatuhkan lalat itu ke atas tanah. Namun pergerakan para goblin juga sangat cepat, mereka mengigiti tubuh manusia pohon seperti seekor tupai.
                Di tengah pertempuran si petani merangsek maju ke depan, dengan mudahnya ia menebas musuh – musuh yang menghalangi jalannya, target utamanya sudah jelas, si ‘nenek dukun’ itu. Akhirnya mereka pun bertemu dalam pertarungan, ‘nenek dukun’ mengeluarkan kuku – kuku tajamnya untuk melawan si petani, dengan gigi taring dan kuku tajam itu kini ia terlihat seperti seekor binatang buas yang tengah kelaparan. Pertarungan mereka cukup alot dan sengit, mereka sama – sama kuat, saking dahsyatnya, para goblin dan manusia pohon yang sedang bertempur disekitarnya sampai terpental karena efek pertempuran yang ditimbulkan serangan mereka berdua.
                Aris tidak bisa berbuat apapun, ia hanya bisa bersembunyi melihat semua kekacauan ini. Si nenek atau si petani, ia tidak tahu harus percaya pada siapa lagi, sekarang Aris hanya bisa menunggu. Para manusia pohon sepertinya lebih unggul dalam pertempuran ini, mereka berhasil memukul mundur pasukan goblin yang kini jumlahnya semakin berkurang. Melihat situasi yang kurang menguntungkan tersebut, ‘nenek dukun’ memanggil pelayan terkuatnya. “KELUARLAH, BUTO IRENG... !!!”.
                Masih ingat dengan pohon besar yang berbentuk aneh seperti tangan raksasa ?  ya, aku tidak bercanda saat kubilang pohon itu terlihat seperti tangan zombie raksasa, karena memang itulah dia. Makhluk itu merangsek keluar dari dalam tanah, membuat bumi di sekitarnya bergetar hebat, karena kekuatannya yang luar biasa dan sifatnya yang sulit dikendalikan, selama ini makhluk itu ditidurkan di bawah tanah agar tidak menyebabkan kekacauan, kini nampakklah wujud makhluk itu seutuhnya, zombie raksasa berwarna hitam legam dengan tubuh yang menjulang setinggi 20 meter.


                Tanpa basa – basi Buto Ireng melepaskan tinjunya ke tengah kerumunan dua kubu yang sedang bertempur. *BUUMMM...!!!* kekuatan tinjunya yang dahsyat menghancurkan apapun yang dihantamnya, tak peduli kawan ataupun lawan, zombie itu akan memusnahkan mereka semua.
“hei, bisa kau atasi makhluk besar itu ?” panggil si petani di tengah pergelutannya dengan si nenek.
“HAH ?! a..aku ? mustahil ! sama kebo saja aku tak berani !” jawab Aris penuh keyakinan.
“bukan kau... tapi dia !”. dari belakang muncullah sosok yang melesat maju ke depan, dialah si ‘makhluk merangkak’ yang sejak tadi tidak terlihat ikut bertempur.
“nggak salah nih ? mana munkin dia bisa menghadapi raksasa mengerikan itu seorang diri ?!” ucap Aris pesimis. Tiba – tiba, “GRRAAAA...!!!” terdengar raungan ‘makhluk merangkak’ itu disertai dengan tubuhnya yang menjadi kekar dan terus tumbuh membesar.


                Aris hanya bisa menganga melihat makhluk yang tadinya tidak lebih besar dari dirinya, kini sudah berdiri gagah dengan tinggi 10 meter dan tubuh atletis penuh otot. “UWOOOW... !!! aku memang tak boleh melihat sesuatu hanya dari penampilannya saja !” ucap Aris yang heboh sendiri.  Lalu dimulailah pertarungan mengerikan antara dua raksasa itu, ‘makhluk merangkak’ mulai melancarkan serangannya, dia melompat untuk menerkam Buto Ireng dan merobohkannya ke bawah, walaupun hanya memiliki ukuran setengah dari Buto Ireng, namun ‘makhluk merangkak’ itu mampu membuat lawannya cukup kewalahan. Pertarungan mereka semakin tak terkendali, hembusan angin yang timbul dari serangan mereka sudah cukup untuk membuat siapapun atau apapun yang berada di dekatnya terpental tak berdaya.
                Buto Ireng kembali mengeluarkan jurus tinju mautnya, *DUAASSHH...!!!* kali ini serangannya mendarat telak di tubuh ‘makhluk merangkak’, kalau saja tubuhnya tak terlindungi oleh otot yang tebal dan keras, bisa dipastikan organ dalam dan tulang – tulangnya sudah hancur sekarang. ‘makhluk merangkak’ terlihat sangat kesakitan sambil memegangi dadanya, dia sudah terlihat kelelahan. Sang petani mundur sejenak dari pertarungan untuk melihat situasi terkini.
“dia sudah sampai pada batasnya... kalau lebih lama dari ini...” petani itu bergumam. “jangan buang waktu lagi ! cepat habisi dia !” serunya.
                Dengan sisa – sisa tenaganya, ‘makhluk merangkak’ mulai bangkit kembali, dia bersiap untuk melancarkan serangan terakhirnya, bila serangannya kali ini tak bisa mengalahkan zombie raksasa itu, maka selesailah sudah, tak ada harapan lagi baginya untuk menang. Ia mulai berlari menuju ke arah Buto Ireng, setiap langkahnya menimbulkan suara dentuman yang menggema dahsyat. Buto Ireng tidak tinggal diam, dia memusatkan seluruh tenaga ke dalam tinju besarnya, lalu menghempaskan kekuatan brutal itu ke arah musuh di depannya, dia berniat mengakhiri pertarungan singkat itu dengan satu pukulan.
                Gelombang yang diciptakan dari pukulan itu melambung hingga ratusan meter ke depan, menghempaskan apapun yang dilewatinya, namun tidak dengan ‘makhluk merangkak’, dia melompat di saat yang tepat, kini dia berada tinggi di udara sambil menyatukan kedua kepalan tangannya dan mengangkatnya tinggi – tinggi di atas kepala, seperti halilintar, serangannya menyambar tepat ke kepala Buto Ireng hingga membuat monster itu jatuh berlutut tak berdaya.
                Tak menyia – nyiakan kesempatan itu, ‘makhluk merangkak’ menyelinap ke bawah tubuh Buto Ireng, lalu memanggul makhluk itu di punggungnya, dia mengangkat tubuh zombie itu ke atas, dan dengan sekuat tenaga melemparkannya ke udara hingga tubuhnya jatuh membentur tanah dan berguling – guling. Serangannya tidak berhenti sampai disana, dengan segera ‘makhluk merangkak’ melompat ke atas tubuh Buto Ireng yang kini tengah terbaring, ia mengangkat tangan kanannya dan menghujamkannya ke dada Buto Ireng, jari – jari makhluk itu menembus masuk ke rongga dadanya, lalu dia mencabut keluar benda yang terlihat seperti sebuah jantung dari dalam tubuh zombie itu dan meremasnya hingga hancur.


                Dengan hancurnya benda itu, berhenti pula pergerakan Buto Ireng. Kini dia tak bergerak lagi, perlahan tubuhnya mengering seperti kayu lapuk yang dimakan rayap lalu hancur menjadi abu. ‘makhluk merangkak’ itu menang ! dia berhasil mengalahkan zombie kolosal itu !
“cih ! raksasa bodoh itu berhasil dikalahkan rupanya” ucap si ‘nenek dukun’.
“bagaimana nenek tua ? sudah menyerah ?”. tantang si petani
“HA ! mimpi saja kau ! nikmati saja kemenanganmu selagi bisa, toh kalian juga akan selamanya berada disini !”. tiba – tiba ‘nenek dukun’ itu mengeluarkan sepasang sayap kelelawar dari punggungnya. *WHUSSH !!!* sayap itu mengangkat tubuhnya ke udara, dia berniat untuk mundur dari pertempuran.
“kurang ajar ! jangan lari kau !” bentak si petani. “hei nak !” petani itu memanggil Aris
“a..aahhh... tolong jangan potong lidahku !!!” teriak Aris histeris.
“kenapa kau ini ? cepatlah pergi ke sumur tua, aku ada urusan dengan nenek peyot itu, dan satu lagi... bawa dia bersamamu !” petani itu menunjuk ‘makhluk merangkak’ yang kini sudah kembali ke ukuran semula, sekarang ia sedang duduk di atas tanah dengan kondisi yang sangat kelelahan.
“HAH ?! untuk apa aku membawanya ?” Aris tidak paham dengan apa yang diperintahkan petani itu.
“dasar ! kau ini masih belum sadar juga ya ? DIA ITU ADIKMU ! ARMAN !”.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar