BAGIAN 5
“Ahh...disini
kamu rupanya, cepat kembalikan lidahku !” ternyata itu si ‘makhluk peniru’ yang ditemuinya tadi !
“nih...”
jawab sang nenek sambil menjulurkan lidahnya.
“kiii... itu
kan lidahku ! kenapa nenek yang pakai ?”
“biarlah...
kau kan hanya memakan mangsamu bulat – bulat seperti ular, jadi kau tak
membutuhkan lidah ini untuk makan”.
“tapi... itu
kan berpengaruh pada penampilanku... ki..ki..kii...” jawab makhluk itu sok
keren.
“cih... memangnya
wanita mana yang mau melirikmu, baru melihatmu saja mereka sudah kena serangan
jantung !”
“STOP !
hentikan guyonan ini ! nenek mengenali makhluk tak jelas ini ?” tanya Aris
mulai curiga.
“tentu saja,
dia ini abdi setiaku, perkenalkan, Weldy...” jawab si nenek dengan santainya.
“HAH?!
Weldy? Itu nama yang terlalu bagus untuk makhluk buruk rupa seperti dia!”.
“hei... kau
punya masalah dengan itu? Sini, biar kugigit kepalamu sampai putus!”
“sudah...
sudah! Jangan berkelamin! Kalian berdua harus rukun...”.
“tapi...
makhluk ini tadi menyerangku, dia bahkan mengigit tanganku” Aris memperlihatkan
bekas luka gigitan di tangannya.
“oh... kalau
itu memang aku yang suruh...”.
Perlahan Aris berjalan mundur ke
belakang, “apa maksud nenek menyuruhnya melakukan hal itu ? dan... bagaimana
dengan janji yang nenek ucapkan kepadaku ?”.
“ah iya...
kalau masalah itu... maaf ya nak, sepertinya nenek berubah pikiran, lebih baik
kamu tetap berada di dunia ini, lagipula... lihatlah dirimu sekarang !”.
Aris
melihat, kini sekujur tubuhnya menjadi berwarna pucat, jari – jari tangannya
menjadi kurus dan bertambah panjang, kuku – kukunya pun mulai memanjang dan
menghitam.
“ti..tidak
mungkin !!! aku berubah menjadi seperti mereka ! ja..jadi ini maksud perkataan
makhluk janggal itu tadi !!!”
“ehm...
Weldy ! namaku Weldy !” ucap makhluk jadi – jadian itu.
“KHU..KHUU...
sudah ya, kalau ada perlu jangan sungkan mampir ke gubukku” nenek itu beringsut
pergi.
“suara tawa
itu...! tunggu, kau pasti tahu dimana adikku kan ?! cepat beritahu aku !”.
“asal kau
tahu saja nak, sekarang adikmu sudah...”
“berhenti di
situ nenek tua !” tiba – tiba ada suara yang memotong pembicaraan mereka.
“Kiii...!
lagi – lagi orang itu !”
Ya... yang
kini berdiri di hadapan mereka adalah petani dengan tangan arit itu.
“huh...
ternyata kau masih hidup, eh maaf... secara harfiah kau kan sudah mati, KHU..KHUU...”.
“gara – gara
kau lah aku menjadi seperti ini, sekarang sudah cukup ! jangan kau libatkan
anak ini, kembalikan dia ke tempat asalnya !” seru petani.
“baiklah...
tapi itu jika kau bisa mengalahkanku, dan pasukanku !” nenek itu menjentikkan
jarinya, serta merta tanah di sekitarnya bergera – gerak disertai dengan
makhluk – makhluk yang bermunculan dari dalamnya.
Mereka adalah para goblin.
Mereka yang sebelumnya berusaha mengambil kepala – kepala manusia itu, namun
kali ini mereka muncul dengan jumlah yang jauh lebih banyak, bahkan ada yang
terbang di langit dengan menunggangi lalat raksasa berkepala babi.
“gawat !
kita kalah jumlah !” ucap Aris.
“tenang saja
nak, kita tidak sendiri...”
Lalu
muncullah dia, ‘makhluk merangkak’ yang ditemui Aris saat petama kali kesini,
di belakangnya terlihat kerumunan makhluk aneh yang mengikutinya. “sepertinya
aku pernah melihat mereka...” Aris merasa tak asing dengan makhuk – makhluk
itu. “oh iya ! mereka kepala berakar yang aku selamatkan tadi !”. namun ada
yang berbeda dari mereka, akar kecil yang tadinya tumbuh di leher mereka, kini
sudah membentuk tubuh manusia yang sempurna, lengkap dengan tangan dan kaki
yang terlihat kokoh, kini mereka terlihat seperti manusia pohon.
Salah satu dari mereka dengan
bekas luka di kepalanya datang menghampiri Aris.
“hei ! kau
orangnya yang melempar batu ke kepalaku waktu itu ya ! awas... urusan kita
belum selesai !”.
“Hah ?
lho... aku nggak tahu loh ya...” Aris coba mengelak.
“baiklah,
semuanya... sekarang akan kita akhiri kutukan ini untuk selamanya !” petani itu
kini memimpin pasukan ‘manusia pohon’. “SERAAAANG !!!”. maka terjadilah
pertempuran sengit antara 2 kubu itu. Manusia – manusia pohon ternyata cukup
kuat, bahkan mereka dapat melilit lalat raksasa yang terbang dengan sulur yang
tumbuh dari tangannya dan menjatuhkan lalat itu ke atas tanah. Namun pergerakan
para goblin juga sangat cepat, mereka mengigiti tubuh manusia pohon seperti
seekor tupai.
Di tengah pertempuran si petani
merangsek maju ke depan, dengan mudahnya ia menebas musuh – musuh yang
menghalangi jalannya, target utamanya sudah jelas, si ‘nenek dukun’ itu.
Akhirnya mereka pun bertemu dalam pertarungan, ‘nenek dukun’ mengeluarkan kuku
– kuku tajamnya untuk melawan si petani, dengan gigi taring dan kuku tajam itu
kini ia terlihat seperti seekor binatang buas yang tengah kelaparan.
Pertarungan mereka cukup alot dan sengit, mereka sama – sama kuat, saking
dahsyatnya, para goblin dan manusia pohon yang sedang bertempur disekitarnya
sampai terpental karena efek pertempuran yang ditimbulkan serangan mereka
berdua.
Aris tidak bisa berbuat apapun,
ia hanya bisa bersembunyi melihat semua kekacauan ini. Si nenek atau si petani,
ia tidak tahu harus percaya pada siapa lagi, sekarang Aris hanya bisa menunggu.
Para manusia pohon sepertinya lebih unggul dalam pertempuran ini, mereka
berhasil memukul mundur pasukan goblin yang kini jumlahnya semakin berkurang.
Melihat situasi yang kurang menguntungkan tersebut, ‘nenek dukun’ memanggil
pelayan terkuatnya. “KELUARLAH, BUTO IRENG... !!!”.
Masih ingat dengan pohon besar
yang berbentuk aneh seperti tangan raksasa ?
ya, aku tidak bercanda saat kubilang pohon itu terlihat seperti tangan
zombie raksasa, karena memang itulah dia. Makhluk itu merangsek keluar dari
dalam tanah, membuat bumi di sekitarnya bergetar hebat, karena kekuatannya yang
luar biasa dan sifatnya yang sulit dikendalikan, selama ini makhluk itu ditidurkan
di bawah tanah agar tidak menyebabkan kekacauan, kini nampakklah wujud makhluk
itu seutuhnya, zombie raksasa berwarna hitam legam dengan tubuh yang menjulang
setinggi 20 meter.
Tanpa basa – basi Buto Ireng
melepaskan tinjunya ke tengah kerumunan dua kubu yang sedang bertempur.
*BUUMMM...!!!* kekuatan tinjunya yang dahsyat menghancurkan apapun yang
dihantamnya, tak peduli kawan ataupun lawan, zombie itu akan memusnahkan mereka
semua.
“hei, bisa
kau atasi makhluk besar itu ?” panggil si petani di tengah pergelutannya dengan
si nenek.
“HAH ?!
a..aku ? mustahil ! sama kebo saja aku tak berani !” jawab Aris penuh
keyakinan.
“bukan
kau... tapi dia !”. dari belakang muncullah sosok yang melesat maju ke depan,
dialah si ‘makhluk merangkak’ yang sejak tadi tidak terlihat ikut bertempur.
“nggak salah
nih ? mana munkin dia bisa menghadapi raksasa mengerikan itu seorang diri ?!”
ucap Aris pesimis. Tiba – tiba, “GRRAAAA...!!!” terdengar raungan ‘makhluk
merangkak’ itu disertai dengan tubuhnya yang menjadi kekar dan terus tumbuh
membesar.
Aris hanya bisa menganga melihat
makhluk yang tadinya tidak lebih besar dari dirinya, kini sudah berdiri gagah
dengan tinggi 10 meter dan tubuh atletis penuh otot. “UWOOOW... !!! aku memang
tak boleh melihat sesuatu hanya dari penampilannya saja !” ucap Aris yang heboh
sendiri. Lalu dimulailah pertarungan
mengerikan antara dua raksasa itu, ‘makhluk merangkak’ mulai melancarkan
serangannya, dia melompat untuk menerkam Buto Ireng dan merobohkannya ke bawah,
walaupun hanya memiliki ukuran setengah dari Buto Ireng, namun ‘makhluk
merangkak’ itu mampu membuat lawannya cukup kewalahan. Pertarungan mereka
semakin tak terkendali, hembusan angin yang timbul dari serangan mereka sudah
cukup untuk membuat siapapun atau apapun yang berada di dekatnya terpental tak
berdaya.
Buto Ireng kembali mengeluarkan
jurus tinju mautnya, *DUAASSHH...!!!* kali ini serangannya mendarat telak di
tubuh ‘makhluk merangkak’, kalau saja tubuhnya tak terlindungi oleh otot yang
tebal dan keras, bisa dipastikan organ dalam dan tulang – tulangnya sudah
hancur sekarang. ‘makhluk merangkak’ terlihat sangat kesakitan sambil memegangi
dadanya, dia sudah terlihat kelelahan. Sang petani mundur sejenak dari
pertarungan untuk melihat situasi terkini.
“dia sudah
sampai pada batasnya... kalau lebih lama dari ini...” petani itu bergumam.
“jangan buang waktu lagi ! cepat habisi dia !” serunya.
Dengan sisa – sisa tenaganya,
‘makhluk merangkak’ mulai bangkit kembali, dia bersiap untuk melancarkan
serangan terakhirnya, bila serangannya kali ini tak bisa mengalahkan zombie
raksasa itu, maka selesailah sudah, tak ada harapan lagi baginya untuk menang. Ia
mulai berlari menuju ke arah Buto Ireng, setiap langkahnya menimbulkan suara
dentuman yang menggema dahsyat. Buto Ireng tidak tinggal diam, dia memusatkan
seluruh tenaga ke dalam tinju besarnya, lalu menghempaskan kekuatan brutal itu
ke arah musuh di depannya, dia berniat mengakhiri pertarungan singkat itu
dengan satu pukulan.
Gelombang yang diciptakan dari
pukulan itu melambung hingga ratusan meter ke depan, menghempaskan apapun yang
dilewatinya, namun tidak dengan ‘makhluk merangkak’, dia melompat di saat yang
tepat, kini dia berada tinggi di udara sambil menyatukan kedua kepalan
tangannya dan mengangkatnya tinggi – tinggi di atas kepala, seperti halilintar,
serangannya menyambar tepat ke kepala Buto Ireng hingga membuat monster itu
jatuh berlutut tak berdaya.
Tak menyia – nyiakan kesempatan
itu, ‘makhluk merangkak’ menyelinap ke bawah tubuh Buto Ireng, lalu memanggul
makhluk itu di punggungnya, dia mengangkat tubuh zombie itu ke atas, dan dengan
sekuat tenaga melemparkannya ke udara hingga tubuhnya jatuh membentur tanah dan
berguling – guling. Serangannya tidak berhenti sampai disana, dengan segera
‘makhluk merangkak’ melompat ke atas tubuh Buto Ireng yang kini tengah terbaring,
ia mengangkat tangan kanannya dan menghujamkannya ke dada Buto Ireng, jari –
jari makhluk itu menembus masuk ke rongga dadanya, lalu dia mencabut keluar
benda yang terlihat seperti sebuah jantung dari dalam tubuh zombie itu dan meremasnya
hingga hancur.
Dengan hancurnya benda itu, berhenti
pula pergerakan Buto Ireng. Kini dia tak bergerak lagi, perlahan tubuhnya
mengering seperti kayu lapuk yang dimakan rayap lalu hancur menjadi abu.
‘makhluk merangkak’ itu menang ! dia berhasil mengalahkan zombie kolosal itu !
“cih !
raksasa bodoh itu berhasil dikalahkan rupanya” ucap si ‘nenek dukun’.
“bagaimana
nenek tua ? sudah menyerah ?”. tantang si petani
“HA ! mimpi
saja kau ! nikmati saja kemenanganmu selagi bisa, toh kalian juga akan selamanya
berada disini !”. tiba – tiba ‘nenek dukun’ itu mengeluarkan sepasang sayap
kelelawar dari punggungnya. *WHUSSH !!!* sayap itu mengangkat tubuhnya ke
udara, dia berniat untuk mundur dari pertempuran.
“kurang ajar
! jangan lari kau !” bentak si petani. “hei nak !” petani itu memanggil Aris
“a..aahhh...
tolong jangan potong lidahku !!!” teriak Aris histeris.
“kenapa kau
ini ? cepatlah pergi ke sumur tua, aku ada urusan dengan nenek peyot itu, dan
satu lagi... bawa dia bersamamu !” petani itu menunjuk ‘makhluk merangkak’ yang
kini sudah kembali ke ukuran semula, sekarang ia sedang duduk di atas tanah
dengan kondisi yang sangat kelelahan.
“HAH ?!
untuk apa aku membawanya ?” Aris tidak paham dengan apa yang diperintahkan
petani itu.
“dasar ! kau
ini masih belum sadar juga ya ? DIA ITU ADIKMU ! ARMAN !”.
BERSAMBUNG...





Tidak ada komentar:
Posting Komentar