BAGIAN 2
Aris yang sudah ketakutan setengah mati masih berusah berfikir jernih.
“mungkin ada
binatang yang terjebak di sana” begitu pikirnya.
Ia berusaha
tidak memperdulikannya dan melanjutkan berjalan menuju rumah. Disaat imajinasi
liarnya mulai bermunculan, suara itu pun berhenti. Lalu terdengar suara
“KHUU..KHUU...” suara serak seperti orang tertawa itu membuat bulu di sekujur tubuh Aris
merinding. Dengan segera Aris berlari secepat yang ia bisa, menutup pintu,
menuju kamar, lalu bersembunyi di balik selimut disamping adiknya yang sedang
asyik dibuai mimpi.
Terdengar suara jendela dibuka,
udara sejuk dan segar memasuki kamar.
“Aris,
Arman, bangun yuk ! pagi ini kita mau ziarah ke makam Kakek” seru Ibunya.
“HOAAAM...
udah pagi ya bu ?” Aris menggeliat sambil mengucek matanya.
Walaupun
mengalami pengalaman yang mengerikan semalam, tampaknya Aris bisa tidur dengan
nyenyak, bahkan tanpa bermimpi buruk. Setelah mandi dan sarapan mereka bersiap
untuk berangkat ke makam kakek.
“lho...
Arman mana ?” tanya Ayah.
“oh... tadi
Ibu lihat dia di belakang, lagi nyuapin sapi pake rumput”
“kalau
begitu tolong panggilkan Arman ya Ris ! kita udah mau berangkat nih !” perintah
Ayahnya.
“segera
Pak... mau pesan apa lagi ?”
“oh iya...
bubur ayan rasa barbekyunya satu... Et dah... ini anak malah ngebanyol ! udah
buruan sana !”
Aris pergi
kebelakang mencari adiknya. Ia mencari di kandang sapi, namun tidak ada
siapapun disana.
“oh...
mungkin sedang di MCK”
Aris melihat
pintu MCK terbuka namun juga tidak ada orang di dalam.
“apa dia
sudah ada di depan rumah ?”
Saat hendak
beranjak dari situ, ia melihat ke arah sumur tua dibelakangnya. Aris tersentak
melihat papan penutup kayunya sudah terbuka setengah !
Mungkinkah sesuatu dalam sumur
yang dia dengar tadi malam sudah berhasil keluar ? atau kemungkinan yang lebih
buruk, jangan – jangan adiknya iseng membuka tutup sumur untuk melihat ke
dalamnya lalu terpeleset dan jatuh ke dasar sumur ! dengan segera Aris mencari
senter yang dipakainya semalam. Ia belum bisa memberitahu orang tua atau
neneknya tentang keadaan ini. Karena dia sendiri belum yakin apa adiknya benar
– benar jatuh ke dalam sumur. Ia harus memastikannya sendiri dulu. Aris mulai
mendekati sumur itu. Masih ada sedikit rasa takut akibat kejadian tadi malam,
tapi ia coba memberanikan dirinya. Disorotnya lubang sumur menggunakan senter,
nampak sarang laba – laba yang sudah terkoyak. Sepertinya benar, ada sesuatu yang masuk ke dalam atau keluar dari sumur.
Ia coba mengarahkan senternya
untuk melihat dasar sumur, namun tidak terlihat apapun. Sumur ini seperti tidak
berdasar, berkilo – kilometer dalamnya menembus perut bumi. Tiba – tiba ia
melihat setitik cahaya kuning kemerahan di kedalaman sumur. seperti lahar
gunung berapi yang siap menyembur keluar, cahaya itu mendekat dengan cepat
menuju bibir sumur. Aris yang kaget kehilangan cengkeramannya di dinding sumur
yang licin karena lumut, dan akhirnya terpeleset ke dalamnya. Saat terjatuh
yang ia rasakan adalah rasa panas yang menyengat dari cahaya itu, seperti
berada di depan sebuah tungku besar yang sedang menyala. Setelah itu Aris tidak
merasakan apa – apa lagi, hanya ada kegelapan dan kesunyian yang menyelubungi.
Mungkin inilah akhir hidupnya.
Aris membuka matanya, sekujur
tubuhnya terasa sakit seperti habis dipukuli, namun dilihat tubuhnya tdak ada
luka lebam ataupun memar, bahkan goresan sedikitpun. Begitu sadar apa yang
sudah dia alami sebelumnya, ia kaget dan memeriksa sekitarnya. Ia ingat betul
kalau tadi terjatuh ke dalam sumur dan kehilangan kesadaran setelah itu. Tapi
anehnya sekarang ia terbaring di samping bibir sumur.
“apa ada
yang menolongku ?”
Belum habis
rasa penasarannya, ia lihat langit sudah gelap dengan bulan yang tampak lebih
besar dari yang biasa ia lihat.
“hah...!
jadi aku sudah seharian terbaring disini ? orang di rumah pasti khawatir
mencariku”
Tapi
tunggu... kalau mereka memang mencari Aris, pasti sudah langsung ketemu, karena
jarak antara sumur tua dan rumah neneknya hanya beberapa meter saja. Tidak
mungkin ia dibiarkan terbaring disini hingga malam .
“ah... tak ada waktu untuk
berpikir seperti itu, aku harus segera ke rumah mencari pertolongan, apalagi
aku juga belum tahu dimana adikku” ucap Aris dalam hati.
Ia mencoba
untuk bangun walaupun dengan susah payah, diambilnya senter yang tergeletak di
sampingnya dan mulai berdiri. Saat ia menyalakan senter dan mengarahkannya ke
depan, ia baru sadar, tidak ada rumah neneknya disana. Ke arah manapun ia mengarahkan
senter, tetap tidak ia temukan rumah neneknya. Semakin ia mencari, semakin ia
menyadari, bahwa ia berada di tempat yang sama sekali tidak dikenal. Ia belum
pernah melihat tempat ini, suasananya dingin dan suram dengan kabut tebal yang
menyelimuti, tak ada suara jangkrik, kodok, atau suara apapun, bahkan ia tidak
merasakan ada angin yang berhembus disini.
Di tengah kesunyian ia hanya
bisa mendengar suara detakan jantungnya yang kian menderu, serasa waktu sedang
berhenti di tempat ini. Ketika Aris meneliti sekitarnya, ia semakin tidak
percaya dengan apa yang dilihat. Lingkungan disini sangat aneh, banyak tumbuhan
dan pepohonan berbentuk janggal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada
sebuah pohon dengan lima cabang yang terlihat seperti tangan zombie raksasa
yang mencuat dari dalam tanah, ada tumbuhan semak berbentuk gigi taring yang
berjejer lengkap dengan gusinya, lalu tanaman rambat dengan bola mata yang
tumbuh di setiap ujung cabangnya, seolah sedang memperhatikan Aris yang kini
diam terpaku. Dan banyak lagi hal – hal yang hanya bisa ditemukan di cerita
horor atau film – film science fiction.
Aris yang sudah sangat
ketakutan, mencoba untuk memberanikan dirinya, dengan perlahan dan hati – hati
ia mulai berjalan, mencari apapun atau siapapun yang bisa memberinya petunjuk
tentang tempat ia berada sekarang.
“iiih...!!!
apaan tuh ?!” tiba – tiba aris menginjak sesuatu yang membuatnya melompat
kaget.
Dengan
gemetar disorotnya benda itu dengan senter, ia merasa tidak asing lagi dengan
benda itu, tidak salah lagi, itu adalah jam tangan kesayangan adiknya, Arman !
jam tangan itu selalu dipakai adiknya jika keluar rumah, dan karena agak
kebesaran, jam tangan itu mudah lepas dari pergelangan tangannya.
“kalau jam
tangan Arman ada disini, berarti dia pun ada di sekitar sini” gumam Aris
“MAN...
ARMAAN...!!!” dengan panik aris memanggil adiknya, berharap adiknya segera
muncul.
“INI KAK
ARIS ! KALAU KAMU DENGAR SUARAKU, CEPATLAH KESINI ! MAN... AR...” teriakan Aris
terhenti ketika ia menyadari ada sosok yang mengintipnya dari balik pohon.
BERSAMBUNG...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar