Jumat, 01 Desember 2017

ARIS IN CREEPYLAND : BAGIAN 2

BAGIAN 2


Aris yang sudah ketakutan setengah mati masih berusah berfikir jernih.
“mungkin ada binatang yang terjebak di sana” begitu pikirnya.
Ia berusaha tidak memperdulikannya dan melanjutkan berjalan menuju rumah. Disaat imajinasi liarnya mulai bermunculan, suara itu pun berhenti. Lalu terdengar suara “KHUU..KHUU...” suara serak seperti orang tertawa  itu membuat bulu di sekujur tubuh Aris merinding. Dengan segera Aris berlari secepat yang ia bisa, menutup pintu, menuju kamar, lalu bersembunyi di balik selimut disamping adiknya yang sedang asyik dibuai mimpi.

                Terdengar suara jendela dibuka, udara sejuk dan segar memasuki kamar.
“Aris, Arman, bangun yuk ! pagi ini kita mau ziarah ke makam Kakek” seru Ibunya.
“HOAAAM... udah pagi ya bu ?” Aris menggeliat sambil mengucek matanya.
Walaupun mengalami pengalaman yang mengerikan semalam, tampaknya Aris bisa tidur dengan nyenyak, bahkan tanpa bermimpi buruk. Setelah mandi dan sarapan mereka bersiap untuk berangkat ke makam kakek.
“lho... Arman mana ?” tanya Ayah.
“oh... tadi Ibu lihat dia di belakang, lagi nyuapin sapi pake rumput”
“kalau begitu tolong panggilkan Arman ya Ris ! kita udah mau berangkat nih !” perintah Ayahnya.
“segera Pak... mau pesan apa lagi ?”
“oh iya... bubur ayan rasa barbekyunya satu... Et dah... ini anak malah ngebanyol ! udah buruan sana !”
Aris pergi kebelakang mencari adiknya. Ia mencari di kandang sapi, namun tidak ada siapapun disana.
“oh... mungkin sedang di MCK”
Aris melihat pintu MCK terbuka namun juga tidak ada orang di dalam.
“apa dia sudah ada di depan rumah ?”
Saat hendak beranjak dari situ, ia melihat ke arah sumur tua dibelakangnya. Aris tersentak melihat papan penutup kayunya sudah terbuka setengah !
                Mungkinkah sesuatu dalam sumur yang dia dengar tadi malam sudah berhasil keluar ? atau kemungkinan yang lebih buruk, jangan – jangan adiknya iseng membuka tutup sumur untuk melihat ke dalamnya lalu terpeleset dan jatuh ke dasar sumur ! dengan segera Aris mencari senter yang dipakainya semalam. Ia belum bisa memberitahu orang tua atau neneknya tentang keadaan ini. Karena dia sendiri belum yakin apa adiknya benar – benar jatuh ke dalam sumur. Ia harus memastikannya sendiri dulu. Aris mulai mendekati sumur itu. Masih ada sedikit rasa takut akibat kejadian tadi malam, tapi ia coba memberanikan dirinya. Disorotnya lubang sumur menggunakan senter, nampak sarang laba – laba yang sudah terkoyak. Sepertinya benar, ada sesuatu  yang masuk ke dalam atau keluar dari sumur.
                Ia coba mengarahkan senternya untuk melihat dasar sumur, namun tidak terlihat apapun. Sumur ini seperti tidak berdasar, berkilo – kilometer dalamnya menembus perut bumi. Tiba – tiba ia melihat setitik cahaya kuning kemerahan di kedalaman sumur. seperti lahar gunung berapi yang siap menyembur keluar, cahaya itu mendekat dengan cepat menuju bibir sumur. Aris yang kaget kehilangan cengkeramannya di dinding sumur yang licin karena lumut, dan akhirnya terpeleset ke dalamnya. Saat terjatuh yang ia rasakan adalah rasa panas yang menyengat dari cahaya itu, seperti berada di depan sebuah tungku besar yang sedang menyala. Setelah itu Aris tidak merasakan apa – apa lagi, hanya ada kegelapan dan kesunyian yang menyelubungi. Mungkin inilah akhir hidupnya.


                Aris membuka matanya, sekujur tubuhnya terasa sakit seperti habis dipukuli, namun dilihat tubuhnya tdak ada luka lebam ataupun memar, bahkan goresan sedikitpun. Begitu sadar apa yang sudah dia alami sebelumnya, ia kaget dan memeriksa sekitarnya. Ia ingat betul kalau tadi terjatuh ke dalam sumur dan kehilangan kesadaran setelah itu. Tapi anehnya sekarang ia terbaring di samping bibir sumur.
“apa ada yang menolongku ?”
Belum habis rasa penasarannya, ia lihat langit sudah gelap dengan bulan yang tampak lebih besar dari yang biasa ia lihat.
“hah...! jadi aku sudah seharian terbaring disini ? orang di rumah pasti khawatir mencariku”
Tapi tunggu... kalau mereka memang mencari Aris, pasti sudah langsung ketemu, karena jarak antara sumur tua dan rumah neneknya hanya beberapa meter saja. Tidak mungkin ia dibiarkan terbaring disini hingga malam .
                “ah... tak ada waktu untuk berpikir seperti itu, aku harus segera ke rumah mencari pertolongan, apalagi aku juga belum tahu dimana adikku” ucap Aris dalam hati.
Ia mencoba untuk bangun walaupun dengan susah payah, diambilnya senter yang tergeletak di sampingnya dan mulai berdiri. Saat ia menyalakan senter dan mengarahkannya ke depan, ia baru sadar, tidak ada rumah neneknya disana. Ke arah manapun ia mengarahkan senter, tetap tidak ia temukan rumah neneknya. Semakin ia mencari, semakin ia menyadari, bahwa ia berada di tempat yang sama sekali tidak dikenal. Ia belum pernah melihat tempat ini, suasananya dingin dan suram dengan kabut tebal yang menyelimuti, tak ada suara jangkrik, kodok, atau suara apapun, bahkan ia tidak merasakan ada angin yang berhembus disini.
                Di tengah kesunyian ia hanya bisa mendengar suara detakan jantungnya yang kian menderu, serasa waktu sedang berhenti di tempat ini. Ketika Aris meneliti sekitarnya, ia semakin tidak percaya dengan apa yang dilihat. Lingkungan disini sangat aneh, banyak tumbuhan dan pepohonan berbentuk janggal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada sebuah pohon dengan lima cabang yang terlihat seperti tangan zombie raksasa yang mencuat dari dalam tanah, ada tumbuhan semak berbentuk gigi taring yang berjejer lengkap dengan gusinya, lalu tanaman rambat dengan bola mata yang tumbuh di setiap ujung cabangnya, seolah sedang memperhatikan Aris yang kini diam terpaku. Dan banyak lagi hal – hal yang hanya bisa ditemukan di cerita horor atau film – film science fiction.


                Aris yang sudah sangat ketakutan, mencoba untuk memberanikan dirinya, dengan perlahan dan hati – hati ia mulai berjalan, mencari apapun atau siapapun yang bisa memberinya petunjuk tentang tempat ia berada sekarang.
“iiih...!!! apaan tuh ?!” tiba – tiba aris menginjak sesuatu yang membuatnya melompat kaget.
Dengan gemetar disorotnya benda itu dengan senter, ia merasa tidak asing lagi dengan benda itu, tidak salah lagi, itu adalah jam tangan kesayangan adiknya, Arman ! jam tangan itu selalu dipakai adiknya jika keluar rumah, dan karena agak kebesaran, jam tangan itu mudah lepas dari pergelangan tangannya.
“kalau jam tangan Arman ada disini, berarti dia pun ada di sekitar sini” gumam Aris
“MAN... ARMAAN...!!!” dengan panik aris memanggil adiknya, berharap adiknya segera muncul.
“INI KAK ARIS ! KALAU KAMU DENGAR SUARAKU, CEPATLAH KESINI ! MAN... AR...” teriakan Aris terhenti ketika ia menyadari ada sosok yang mengintipnya dari balik pohon.



BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar