BAGIAN 4
Aris
merasa harus menyelamatkan kepala – kepala itu, biar bagaimanapun mereka masih
terlihat seperti manusia di mata Aris. Segera ia memungut beberapa batu dan
melemparkannya ke arah goblin – goblin itu. “SHAAA...!!!” goblin itu mendesis
tanda tak suka, namun melihat Aris yang terus melempari batu sambil berteriak
seperti orang kesurupan membuat para goblin itu pergi meninggalkan kepala –
kepala yang sudah mereka kumpulkan. Aris khawatir goblin – goblin itu akan
kembali lagi, maka ia pindahkan kepala – kepala itu di tempat lain yang lebih
aman dan tersembunyi, sebenarnya Aris tidak punya waktu untuk melakukan ini,
tapi ia tak bisa meninggalkan mereka begitu saja tanpa perlindungan.
Setelah proses penyelamatan
selesai, Aris bersiap melanjutkan misinya. “tri..ma..ka..sih...” terdengar
suara pelan dari salah satu kepala yang ia selamatkan. “i..iya sama – sama”
jawab Aris sambil tersenyum ngeri. Beberapa saat kemudian sampailah Aris di
tempat dimana tanaman “gigi” dan “bola mata” tumbuh.
“bola mata
ini sih terlihat pas dengan rongga mata nenek itu, tapi gigi – gigi taring ini
rasanya tidak cocok dipakai seorang nenek – nenek, tapi biarlah, lagipula nenek
itu memang ingin makan daging, jadi gigi taring inilah solusi permasalahannya,
walaupun nanti dia akan terlihat seperti ikan piranha”
Aris pun
mengambil benda – benda yang ia butuhkan “nah, sekarang tinggal lidah, dimana
kira – kira aku harus mencari...” Aris baru menyadari, ternyata ada jalan lain
yang letaknya agak tersembunyi di sini, pasti saat itu dia tidak menyadarinya
karena terlalu sibuk kabur dari kejaran ‘makhluk merangkak’. “hmm... mungkin
aku akan menemukan sesuatu di sana”.
Setelah beberapa lama berjalan
sampailah ia di kawasan yang terlihat seperti ladang, terlihat tanaman yang
tumbuh berjejer rapih, seperti memang ada yang sengaja menanamnya. Tanaman itu
terlihat seperti lidah buaya (aloe vera) lengkap dengan duri – duri tajam di
sepanjang lidahnya.
“apa aku
pakai ini saja ? tapi... lidah ini terlalu besar dan panjang, jika menggunakan
lidah ini, bisa dipastikan nenek itu tidak akan bisa makan, bahkan dia tidak
akan bisa menutup mulutnya”.
Lalu dari
kejauhan Aris melihat sesuatu tengah terbang mendekatinya. “huh ! tak bisakah
aku santai barang sejenak ?” dasar Aris, padahal yang sedang terbang mendekat
itu cuma seekor lalat, ya... lalat... dengan tubuh yang seukuran keledai,
memiliki kaki banyak seperti kelabang dan berkepala babi hutan (bagong).
Dengan gigi taring yang mencuat
dari mulutnya, ia siap menerkam Aris.*SLAPP* tiba – tiba terjadi hal yang tidak
terduga, salah satu lidah tanaman menangkap dan melilit lalat mutan itu, lalu
menariknya ke dalam lubang yang berbentuk seperti mulut yang berada di
tengahnya.
“i..ini
tanaman karnivora !!! kalau saja aku mendekatinya tadi, mungkin...”. Aris
terduduk lemas sambil mengambil nafas panjang, “kapan kegilaan ini akan
berakhir ?”. Aris kembali berdiri dan melanjutkan pencariannya. Belum sempat ia
meninggalkan tempat itu, samar – samar terlihat seseorang tengah berjalan di
antara tanaman lidah karnivora tadi, ia terlihat seperti seorang petani,
menggunakan celana pendek berwarna hitam dengan kepala yang tertutup caping, di
tangan kanannya terpegang sebilah arit.
Dengan santainya ia menghampiri
salah satu tanaman, memeluk lidahnya dengan tangan kiri, lalu memotongnya pada bagian
pangkal menggunakan arit. Lidah itu terlihat meronta – ronta saat dipotong,
namun tidak sanggup melawan tenaga si petani yang lebih besar. saat lidah itu
disayat terlihat lendir berwarna merah bercipratan keluar dari bekas lukanya.
“HUEEK...! mau apa dia dengan lidah itu ?” seakan menyadari keberadaan Aris,
petani itu membalikkan badannya menghadap Aris, kali ini sosoknya terlihat
lebih jelas, wajahnya tetap tidak terlihat karena terhalang bayangan caping
yang dipakainya, hanya ada mata merah menyala yang menatap, dan arit itu... itu
bukan arit, itu adalah tangannya yang berbentuk seperti mata arit, hampir
terlihat seperti tangan belalang.
Penampilannya yang tidak
bersahabat membuat Aris waspada, perlahan ia mundur ke belakang, berusaha pergi
tanpa suara, namun saat ia berbalik dilihatnya kini si petani sudah berada di
hadapannya, dia berpindah tempat hanya dalam sekejap mata. Saat Aris tidak tahu
lagi apa yang harus dilakukan, tiba – tiba ia melihat seseorang di balik semak,
Aris sangat mengenali orang itu, ya... tidak salah lagi... itu adiknya, Arman !
kelihatannya si petani tidak menyadari keberadaannya, Arman lalu melambaikan
tangannya, memberi isyarat kepada Aris agar mengikutinya. Tanpa ragu lagi Aris
segera berlari mengikuti Arman yang sudah masuk ke semak – semak, sekilas Aris
melirik ke arah ‘petani’ yang hanya terdiam di tempatnya. “bagus, dia tak
mengejarku !” ucap Aris lega.
Aris terus mengikuti adiknya,
Arman tampak sudah mengenali daerah ini. Saat yakin keadaannya sudah aman,
mereka pun berhenti di suatu tempat untuk beristirahat, Aris memandangi Arman
sambil tersenyum.
“Arman...
syukurlah kamu baik – baik saja, kemana saja kau selama ini ? kakak mencarimu
kemana –mana” Aris tidak menyangka akan menemukan Arman secepat ini, itu hal
yang bagus, sekarang ia tinggal mencari cara untuk pulang ke dunia nyata.
“tenang saja
kak, mulai sekarang kau dan aku akan bersama selamanya... disini !”
“A..arman
?!”
Tiba – tiba
terjadi sesuatu yang aneh pada Arman, tubuhnya seperti mengembang, lalu
kulitnya pecah dan terbelah seperti kepompong yang terbuka, namun sayangnya
bukan kupu – kupu indah yang keluar dari sana, melainkan makhluk kurus
menyeramkan, tanpa mata dan hidung, hanya mulut lebar berisi gigi – gigi taring
kecil yang berbaris, dengan lidah yang menjulur keluar.
Sendi – sendi tubuhnya seperti
terpelintir, menekuk ke arah yang berbeda – beda, dia bergerak – gerak aneh
seperti boneka marionette. “Arman, kenapa kau jadi seperti ini ?!”. tanpa
menjawab makhluk itu tiba – tiba melesat mendekati Aris, lalu dengan cepat
mengigit tangannya. “AKH ! apa yang kau...” makhluk itu melepaskan gigitannya,
sambil menyeka air liur bercampur darah di mulutnya ia berkata.
“tak lama
lagi... kau akan menjadi bagian dari kami”
“a..apa
maksudmu ?”
Tanpa mereka
duga, tiba – tiba ada sosok yang melompati Aris dari belakang lalu mendaratkan
tendangannya ke arah ‘makhluk peniru’ itu. Makhluk itu sampai terpental
beberapa meter dengan air liur yang keluar dari mulutnya. Ternyata tak disangka
tak dinyana, sosok itu adalah petani yang Aris temui sebelumnya.
“di..dia menolongku ?” ucap Aris
tak percaya. ‘makhluk peniru’ mulai bangkit kembali, tubuhnya bergetar seperti
sedang menahan amarah. “KIIIII !!!” dia bergerak dengan cepat, hendak
melancarkan serangan ke arah petani, namun dengan lihai si petani menghindari
serangannya. ‘makhluk peniru’ tidak menyerah, ia berhasil menggapai tubuh
petani lalu membuka mulut lebar – lebar hendak mengigitnya, dan lagi – lagi
serangan itu berhasil dipatahkan, si petani memegang rahang makhluk itu,
memotong lidahnya, dan membantingnya ke tanah. “KIIYAAAA !!!” makhluk itu
menjerit kesakitan. Sadar tak akan bisa menang, akhirnya dia kabur melarikan
diri, petani itu pun mengejarnya, mereka berdua hilang di tengah kegelapan
malam, meninggalkan Aris yang sedang terdiam menganga karena terkejut dengan
apa yang barusan terjadi.
“he..hehe...” Aris tertawa,
namun dengan wajah seperti mau menangis. “aku sama sekali tidak mengerti... apa
yang terjadi disini ?” Aris melihat sesuatu yang bergerak – gerak di atas
tanah. “i..ini kan...” ternyata itu adalah lidah si ‘makhluk peniru’ yang tadi
terpotong. “ya... cuma nenek itu sekarang harapanku satu – satunya”. Aris
segera mengambil lidah itu dan bergegas menuju tempat si nenek, namun baru juga
sampai setengah perjalanan, kembali langkahnya terhenti oleh sosok yang muncul
di depannya. “eh... tunggu, dia kan... nenek ompong itu !” Aris berlari
menghampirinya.
“bagaimana
nenek bisa berjalan jauh sampai kesini ?”
“habis, kamu
lama sekali sich... jadi nenek menyusulmu saja kesini”
“bukan itu
maksud pertanyaanku...” ucap Aris sambil menepuk jidatnya.
“bagaimana ?
kau sudah mendapatkan apa yang kuminta ?”
“ah... iya,
ini dia nek...” Aris menyerahkan benda – benda yang sudah dikumpulkannya.
Dengan mudahnya sang nenek menempatkan
bola mata, gigi, dan lidah itu pada tempatnya seperti memasang puzzle.
“gimana ?
nenek tambah cantik kan ?” ucap si nenek sambil mengedipkan matanya.
“i..iya nek,
cakep... persis anglerfish !”
“hah ?
angel... siapa tuh ?”
“gak tahu ya
? fiuuh... dia tuh anggota girlband dari korea, pokoknya cakep deh ! banyak
ikan, eh... banyak cowok yang terpikat dengan ‘cahaya’nya”.
“ahaha...
kamu tahu aja, dulu waktu muda banyak cowok yang pingsan kalau liat nenek,
untung gak pake acara muntah – muntah segala”.
tiba – tiba
terdengar suara orang yang datang, “ki..ki..kii... untung aku bisa kabur dari
orang itu !”.
Aris
terkejut melihat siapa dia, “ka... kau kan... !!!”
BERSAMBUNG...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar