Minggu, 10 Desember 2017

ARIS IN CREEPYLAND : BAGIAN 4

BAGIAN 4


                Aris merasa harus menyelamatkan kepala – kepala itu, biar bagaimanapun mereka masih terlihat seperti manusia di mata Aris. Segera ia memungut beberapa batu dan melemparkannya ke arah goblin – goblin itu. “SHAAA...!!!” goblin itu mendesis tanda tak suka, namun melihat Aris yang terus melempari batu sambil berteriak seperti orang kesurupan membuat para goblin itu pergi meninggalkan kepala – kepala yang sudah mereka kumpulkan. Aris khawatir goblin – goblin itu akan kembali lagi, maka ia pindahkan kepala – kepala itu di tempat lain yang lebih aman dan tersembunyi, sebenarnya Aris tidak punya waktu untuk melakukan ini, tapi ia tak bisa meninggalkan mereka begitu saja tanpa perlindungan.
                Setelah proses penyelamatan selesai, Aris bersiap melanjutkan misinya. “tri..ma..ka..sih...” terdengar suara pelan dari salah satu kepala yang ia selamatkan. “i..iya sama – sama” jawab Aris sambil tersenyum ngeri. Beberapa saat kemudian sampailah Aris di tempat dimana tanaman “gigi” dan “bola mata” tumbuh.
“bola mata ini sih terlihat pas dengan rongga mata nenek itu, tapi gigi – gigi taring ini rasanya tidak cocok dipakai seorang nenek – nenek, tapi biarlah, lagipula nenek itu memang ingin makan daging, jadi gigi taring inilah solusi permasalahannya, walaupun nanti dia akan terlihat seperti ikan piranha”
Aris pun mengambil benda – benda yang ia butuhkan “nah, sekarang tinggal lidah, dimana kira – kira aku harus mencari...” Aris baru menyadari, ternyata ada jalan lain yang letaknya agak tersembunyi di sini, pasti saat itu dia tidak menyadarinya karena terlalu sibuk kabur dari kejaran ‘makhluk merangkak’. “hmm... mungkin aku akan menemukan sesuatu di sana”.
                Setelah beberapa lama berjalan sampailah ia di kawasan yang terlihat seperti ladang, terlihat tanaman yang tumbuh berjejer rapih, seperti memang ada yang sengaja menanamnya. Tanaman itu terlihat seperti lidah buaya (aloe vera) lengkap dengan duri – duri tajam di sepanjang lidahnya.


“apa aku pakai ini saja ? tapi... lidah ini terlalu besar dan panjang, jika menggunakan lidah ini, bisa dipastikan nenek itu tidak akan bisa makan, bahkan dia tidak akan bisa menutup mulutnya”.
Lalu dari kejauhan Aris melihat sesuatu tengah terbang mendekatinya. “huh ! tak bisakah aku santai barang sejenak ?” dasar Aris, padahal yang sedang terbang mendekat itu cuma seekor lalat, ya... lalat... dengan tubuh yang seukuran keledai, memiliki kaki banyak seperti kelabang dan berkepala babi hutan (bagong).
                Dengan gigi taring yang mencuat dari mulutnya, ia siap menerkam Aris.*SLAPP* tiba – tiba terjadi hal yang tidak terduga, salah satu lidah tanaman menangkap dan melilit lalat mutan itu, lalu menariknya ke dalam lubang yang berbentuk seperti mulut yang berada di tengahnya.
“i..ini tanaman karnivora !!! kalau saja aku mendekatinya tadi, mungkin...”. Aris terduduk lemas sambil mengambil nafas panjang, “kapan kegilaan ini akan berakhir ?”. Aris kembali berdiri dan melanjutkan pencariannya. Belum sempat ia meninggalkan tempat itu, samar – samar terlihat seseorang tengah berjalan di antara tanaman lidah karnivora tadi, ia terlihat seperti seorang petani, menggunakan celana pendek berwarna hitam dengan kepala yang tertutup caping, di tangan kanannya terpegang sebilah arit.
                Dengan santainya ia menghampiri salah satu tanaman, memeluk lidahnya dengan tangan kiri, lalu memotongnya pada bagian pangkal menggunakan arit. Lidah itu terlihat meronta – ronta saat dipotong, namun tidak sanggup melawan tenaga si petani yang lebih besar. saat lidah itu disayat terlihat lendir berwarna merah bercipratan keluar dari bekas lukanya. “HUEEK...! mau apa dia dengan lidah itu ?” seakan menyadari keberadaan Aris, petani itu membalikkan badannya menghadap Aris, kali ini sosoknya terlihat lebih jelas, wajahnya tetap tidak terlihat karena terhalang bayangan caping yang dipakainya, hanya ada mata merah menyala yang menatap, dan arit itu... itu bukan arit, itu adalah tangannya yang berbentuk seperti mata arit, hampir terlihat seperti tangan belalang.


                Penampilannya yang tidak bersahabat membuat Aris waspada, perlahan ia mundur ke belakang, berusaha pergi tanpa suara, namun saat ia berbalik dilihatnya kini si petani sudah berada di hadapannya, dia berpindah tempat hanya dalam sekejap mata. Saat Aris tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tiba – tiba ia melihat seseorang di balik semak, Aris sangat mengenali orang itu, ya... tidak salah lagi... itu adiknya, Arman ! kelihatannya si petani tidak menyadari keberadaannya, Arman lalu melambaikan tangannya, memberi isyarat kepada Aris agar mengikutinya. Tanpa ragu lagi Aris segera berlari mengikuti Arman yang sudah masuk ke semak – semak, sekilas Aris melirik ke arah ‘petani’ yang hanya terdiam di tempatnya. “bagus, dia tak mengejarku !” ucap Aris lega.
                Aris terus mengikuti adiknya, Arman tampak sudah mengenali daerah ini. Saat yakin keadaannya sudah aman, mereka pun berhenti di suatu tempat untuk beristirahat, Aris memandangi Arman sambil tersenyum.
“Arman... syukurlah kamu baik – baik saja, kemana saja kau selama ini ? kakak mencarimu kemana –mana” Aris tidak menyangka akan menemukan Arman secepat ini, itu hal yang bagus, sekarang ia tinggal mencari cara untuk pulang ke dunia nyata.
“tenang saja kak, mulai sekarang kau dan aku akan bersama selamanya... disini !”
“A..arman ?!”
Tiba – tiba terjadi sesuatu yang aneh pada Arman, tubuhnya seperti mengembang, lalu kulitnya pecah dan terbelah seperti kepompong yang terbuka, namun sayangnya bukan kupu – kupu indah yang keluar dari sana, melainkan makhluk kurus menyeramkan, tanpa mata dan hidung, hanya mulut lebar berisi gigi – gigi taring kecil yang berbaris, dengan lidah yang menjulur keluar.


                Sendi – sendi tubuhnya seperti terpelintir, menekuk ke arah yang berbeda – beda, dia bergerak – gerak aneh seperti boneka marionette. “Arman, kenapa kau jadi seperti ini ?!”. tanpa menjawab makhluk itu tiba – tiba melesat mendekati Aris, lalu dengan cepat mengigit tangannya. “AKH ! apa yang kau...” makhluk itu melepaskan gigitannya, sambil menyeka air liur bercampur darah di mulutnya ia berkata.
“tak lama lagi... kau akan menjadi bagian dari kami”
“a..apa maksudmu ?”
Tanpa mereka duga, tiba – tiba ada sosok yang melompati Aris dari belakang lalu mendaratkan tendangannya ke arah ‘makhluk peniru’ itu. Makhluk itu sampai terpental beberapa meter dengan air liur yang keluar dari mulutnya. Ternyata tak disangka tak dinyana, sosok itu adalah petani yang Aris temui sebelumnya.
                “di..dia menolongku ?” ucap Aris tak percaya. ‘makhluk peniru’ mulai bangkit kembali, tubuhnya bergetar seperti sedang menahan amarah. “KIIIII !!!” dia bergerak dengan cepat, hendak melancarkan serangan ke arah petani, namun dengan lihai si petani menghindari serangannya. ‘makhluk peniru’ tidak menyerah, ia berhasil menggapai tubuh petani lalu membuka mulut lebar – lebar hendak mengigitnya, dan lagi – lagi serangan itu berhasil dipatahkan, si petani memegang rahang makhluk itu, memotong lidahnya, dan membantingnya ke tanah. “KIIYAAAA !!!” makhluk itu menjerit kesakitan. Sadar tak akan bisa menang, akhirnya dia kabur melarikan diri, petani itu pun mengejarnya, mereka berdua hilang di tengah kegelapan malam, meninggalkan Aris yang sedang terdiam menganga karena terkejut dengan apa yang barusan terjadi.
                “he..hehe...” Aris tertawa, namun dengan wajah seperti mau menangis. “aku sama sekali tidak mengerti... apa yang terjadi disini ?” Aris melihat sesuatu yang bergerak – gerak di atas tanah. “i..ini kan...” ternyata itu adalah lidah si ‘makhluk peniru’ yang tadi terpotong. “ya... cuma nenek itu sekarang harapanku satu – satunya”. Aris segera mengambil lidah itu dan bergegas menuju tempat si nenek, namun baru juga sampai setengah perjalanan, kembali langkahnya terhenti oleh sosok yang muncul di depannya. “eh... tunggu, dia kan... nenek ompong itu !” Aris berlari menghampirinya.
“bagaimana nenek bisa berjalan jauh sampai kesini ?”
“habis, kamu lama sekali sich... jadi nenek menyusulmu saja kesini”
“bukan itu maksud pertanyaanku...” ucap Aris sambil menepuk jidatnya.
“bagaimana ? kau sudah mendapatkan apa yang kuminta ?”
“ah... iya, ini dia nek...” Aris menyerahkan benda – benda yang sudah dikumpulkannya.
                Dengan mudahnya sang nenek menempatkan bola mata, gigi, dan lidah itu pada tempatnya seperti memasang puzzle.
“gimana ? nenek tambah cantik kan ?” ucap si nenek sambil mengedipkan matanya.
“i..iya nek, cakep... persis anglerfish !”
“hah ? angel... siapa tuh ?”
“gak tahu ya ? fiuuh... dia tuh anggota girlband dari korea, pokoknya cakep deh ! banyak ikan, eh... banyak cowok yang terpikat dengan ‘cahaya’nya”.
“ahaha... kamu tahu aja, dulu waktu muda banyak cowok yang pingsan kalau liat nenek, untung gak pake acara muntah – muntah segala”.
tiba – tiba terdengar suara orang yang datang, “ki..ki..kii... untung aku bisa kabur dari orang itu !”.
Aris terkejut melihat siapa dia, “ka... kau kan... !!!”

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar