Jumat, 22 Desember 2017

ARIS IN CREEPYLAND : BAGIAN 6

BAGIAN 6 (TAMAT)


“a..apa yang kau... ti..tidak... tidak mungkin... tidak mungkin dia Arman... dia itu...” perkataan Aris terpotong saat ia melihat punggung makhluk itu, ia melihat sesuatu yang sangat familiar, itu adalah tanda lahir yang terletak di punggung sebelah kirinya, tanda lahir yang sama seperti yang dimiliki Arman. “A..Arman ? apa benar kau Arman... ?”. Arman hanya tertunduk lesu, ia tak mampu menatap mata kakaknya. “apa yang terjadi denganmu ? kenapa kau menjadi seperti ini...?”. Aris mulai meneteskan air matanya, ia senang karena bisa bertemu dengan adiknya, namun di sisi lain ia tak sanggup menerima kenyataan bahwa adiknya kini berperawakan seperti monster.

Aris duduk berlutut di depan adiknya sambil berlinang air mata. “maafkan aku... gara – gara kakakmu yang bodoh ini tidak bisa menjagamu dengan baik, sekarang kau harus mengalami hal seperti ini... aku ini kakak yang buruk !”. Arman menyentuh wajah kakaknya dengan lembut sambil mengusap air mata di pipinya. Tidak ada gunanya saling menyalahkan sekarang, mereka harus tetap menatap ke depan.
“sekarang kau sudah tahu kan ? nah, pergilah ! oh iya... sampaikan salam untuk ibu dan ayahmu ya !” ucap si petani.
“ibu dan ayahku ? hei, sebenarnya siapa kau ?” petani itu tak menjawab, ia langsung berlari mengejar ‘nenek dukun’ yang sudah terbang menjauh. Dengan rasa penasaran yang masih menggantung di hatinya, Aris segera memapah Adiknya dan mulai berjalan ke tempat sumur tua itu berada. Aris menyadari, semakin lama dia berada disini maka semakin berubah juga bentuk tubuhnya, dia juga akan mengalami hal yang sama seperti adiknya.
Keadaannya tidak bertambah baik, para manusia pohon sudah dikalahkan, mereka tak sanggup melawan pasukan goblin yang semakin bertambah jumlahnya, entah datang darimana tiba – tiba mereka datang seperti segerombolan semut. Dengan kalahnya para manusia pohon, perhatian pasukan goblin kini tertuju pada Aris dan Arman, keadaan Arman yang masih kelelahan menyebabkan mereka sulit menghindari kejaran goblin – goblin itu. “sedikit lagi ! sebentar lagi kita sampai, bertahanlah Arman !”. Aris menyemangati adiknya, namun tak disangka gerombolan goblin yang lain kini muncul di depan menghadang jalan mereka berdua. “sial ! darimana datangnya mereka ?!”. kini Aris dan Arman sudah terkepung, tak ada celah untuk kabur.
Mereka berdua tidak bisa mengandalkan si petani yang kini tengah mengejar ‘nenek dukun’, tak ada yang bisa menolong, mereka sendirian sekarang. “a..apakah akan berakhir begini... sampai sekarang pun aku tidak berguna, aku tak bisa melakukan apapun untuk menolong adikku, kakak macam apa aku ini !”. Aris melihat wajah Arman, ia hanya tersenyum, seolah mengatakan kepada kakaknya bahwa semuanya akan baik – baik saja. “ya... aku bisa ! selama jantungku masih berdetak, aku tak akan menyerah, aku tak peduli walaupun tubuhku hancur sekalipun, aku akan melindungimu !”. “SHAAA...!!!” para goblin mulai menyerang dari berbagai arah.
“ENYAH KALIAN SEMUA !!!”  teriak Aris *WHUUUSSHH* hanya dengan satu kibasan tangan kirinya Aris berhasil memporak – porandakan formasi serangan para goblin. Mereka terpental, bahkan goblin yang terkena serangan langsung dari tangan Aris langsung hancur berkeping – keping seperti es yang dihantam palu. Terlihat uap dari hawa dingin yang memancar dari tangan kiri Aris. “ apa ini ?! sejak kapan aku memiliki kekuatan seperti ini ?” ternyata bukan hanya tubuhnya saja yang perlahan – lahan berubah menjadi monster, namun kini kekuatannya juga sudah melampaui manusia normal. Aris merasa ketakutan dengan kekuatannya sendiri, tetapi jika dengan kekuatan ini dia bisa menyelamatkan adiknya, maka dia akan menggunakannya tanpa ragu. “minggir ! jangan halangi jalanku !” Aris mulai melaju ke depan, dengan sambil tetap memapah adiknya dia menyingkirkan goblin yang menghalangi jalannya.


Di tempat lain si ‘nenek dukun’ masih berusaha lari dari kejaran petani.
“hei ! mau sampai kapan kau kabur seperti itu ? cepat atau lambat kau akan mendapatkan balasan dari semua semua perbuatanmu !” kata si petani.
“BERISIK !”
“kau mempelajari ilmu hitam hanya untuk memenuhi keinginan nafsu setanmu, banyak orang yang kau korbankan bahkan keluargamu sendiri, apa kau tak malu ? HAH...? NENEK TUA !!!”
“GRR... banyak omong ! kau takkan mengerti perasaanku !” nenek itu berbalik dan menukik tajam ke arah petani yang mengejarnya di bawah, nenek itu menyiapkan cakarnya, seperti elang yang akan menyambar mangsanya. Namun dengan gesit si petani melompat menghindari serangan, lalu menancapkan tangan aritnya ke bahu si nenek dan mendarat tepat di atas punggungnya.
                “KYAAA...lepaskan tangan kotormu dariku !!!” pekik si ‘nenek dukun’ sambil terus terbang. namun si petani tidak melepaskan tangan aritnya dari bahu si nenek, bahkan kini ia bisa mengarahkan laju terbang si nenek dengan cara itu.
“lepaskan ! akulah yang menciptakan dunia ini ! akulah penguasa di sini !” bentak si ‘nenek dukun’.
“begitukah ? kalau begitu jika kau mati, maka dunia terkutuk ini juga akan ikut musnah bersamamu !” petani itu mengarahkan si nenek ke suatu tempat, nenek itu hanya bisa meronta – ronta mencoba melepaskan dirinya sambil terus terbang. “AH...! tu..tunggu, apa yang kau lakukan ?! hentikan ! TIDAAAK... !!!” petani itu mengarahkan si nenek ke bawah, ke kebun tempat tumbuhan lidah raksasa berada, lalu... *SLAAPP ! GLUP...* mereka berdua masuk ke dalam mulut tumbuhan karnivora tersebut “AEERGHHH...!” suara sendawa itu mengakhiri pertarungan si ‘petani’ dan ‘nenek dukun’.


                Dengan susah payah Aris dan Arman akhirnya berhasil mencapai lokasi sumur tua itu, seberapapun goblin yang Aris singkirkan mereka terus saja berdatangan tanpa henti, tiba – tiba Arman melepaskan rangkulan Aris dari badannya, lalu mendorong kakaknya mendekati bibir sumur. “apa yang mau kau lakukan Arman ?” tanya Aris. Arman membalikkan badannya menghadap ke arah pasukan goblin, lalu menengok kembali ke arah Aris dan tersenyum, ia berniat menahan para goblin  agar kakaknya punya waktu untuk menyelamatkan diri. “TIDAK !” Aris memegang tangan Arman,  “kau akan ikut denganku ! aku tidak tahu apa kau bisa kembali ke rupamu yang semula atau tidak, tapi walau bagaimanapun keadaannya kau tetaplah adikku, aku akan membawamu pulang !”.
                Tiba – tiba tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat lalu merekah dan terbelah, menelan para goblin yang kini lari tunggang langgang meninggalkan Aris dan Arman. “whoaa... apa yang terjadi ? tempat ini sepertinya mau hancur ! kita harus segera pergi dari sini !” Aris bergegas menarik Arman mendekati sumur, sejenak Aris merasa ragu apa mereka bisa selamat dengan masuk kembali ke sumur ini. Aris melongok ke dalam sumur, masih sama seperti sebelumnya, hanya terlihat sumur gelap yang tidak memiliki dasar. namun sesaat kemudian terlihat sesuatu, ini sama seperti saat Aris terjatuh ke dalam sumur sebelumnya, muncul setitik sinar kuning kemerahan yang memancar dari kedalaman sumur dan mendekat dengan cepat. “ini dia ! ini sama seperti waktu itu !” Aris menoleh ke arah adiknya, “Arman, kita pulang sekarang !” mereka berdua pun terjun ke dalam sumur, tertelan cahaya yang panas menyengat lalu mengambang dalam kegelapan dan kesunyian, sunyi... sangat sunyi...


                “Aris, Arman, bangun yuk ! pagi ini kita mau ziarah ke makam Kakek”. Aris membuka matanya, setelah ingat dengan semua yang telah terjadi, ia kaget dan bangun terduduk di atas kasur dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya, ia menoleh ke sampingnya, terlihat Arman yang baru bangun tidur mengucek matanya sambil menguap.
“Arman ! kita berhasil ! kita selamat, bahkan kau sudah kembali seperti semula !”
“kamu kenapa sih ris ? pagi – pagi kok udah ngigo ?” tanya ibunya heran.
“bukan bu ! akh... ibu pasti tidak akan percaya ini, tapi tadi Arman jatuh ke dalam sumur tua di belakang, lalu aku...”
“eits... tunggu sebentar, sumur tua mana yang kamu maksud ?” tanya ibunya lagi.
“itu bu... yang ada di sudut halaman belakang, sumur besar dengan dinding batu berlumut yang ditutup papan kayu”.
“hah ? Aris, ibu sudah tinggal di sini sejak kecil, dan tidak ada sumur tua seperti yang kamu ceritakan itu, hanya ada satu sumur di belakang rumah ini yang terletak di dekat MCK !”.
“ma..masa sih ?! tidak mungkin ! aku melihatnya sendiri kok !” ucap Aris meyakinkan ibunya.
“pasti kamu cuma mimpi, lagipula adikmu sejak tadi tidur nyenyak di sampingmu, kalau dia jatuh ke dalam sumur tidak mungkin dia berada disini sekarang kan ?”.
“aduh... bagaimana cara aku menjelaskannya ? Arman katakan sesuatu, tadi kita masuk ke dalam sumur dan terjebak di dunia aneh yang menyeramkan, iya kan ?”. Arman hanya terdiam dengan wajah bingung lalu menggelengkan kepalanya.
“tuh kan... udah Ibu bilang kamu ini cuma mimpi, makanya ambil air wudhu dulu sebelum tidur terus baca doa biar gak mimpi buruk !” timpal Ibunya.
“ih... masa iya cuma mimpi, jadi penasaran...” Aris masih tak percaya, ia segera melompat dari kasur lalu lari ke belakang rumah untuk memastikannya sendiri dan... tak bisa dipercaya, apa yang dikatakan ibunya benar, tak ada apapun disana !
                Tak ada lubang ataupun gundukan tanah bekas sumur sama sekali, hanya ada tanah rata yang ditumbuhi beberapa tanaman liar. “WAOOW... sulit dipercaya ! ternyata semua kejadian menyeramkan itu hanya terjadi di alam mimpi ! fiuuhh... syukurlah...” Aris kembali ke rumah dengan perasaan lega, ia memang harus menuruti nasehat ibunya agar tak mengalami mimpi buruk seperti itu lagi.
“cepat mandi ris, setelah itu sarapan lalu kita segera berangkat ke makam Kakek !” perintah Ibunya.
“iya bu ! wah... badanku penuh dengan keringat gara – gara bermimpi tadi, sekarang saatnya menyegarkan diri... eh... !” aris merasakan sesuatu di saku celana saat ingin melepaskannya, “apa ini ?” ia mengeluarkan benda itu, “i..ini kan !!!” tangan Aris bergetar saat melihat apa yang baru saja ia keluarkan dari saku celananya, sebuah jam tangan !
                Ya... tak salah lagi, itu adalah jam tangan kesayangan Arman yang ia temukan waktu pertama kali tiba di dunia menyeramkan itu ! bukan sebuah kebetulan kalau jam itu ada di sakunya, ini menjadi bukti kalau apa yang ia alami itu benar – benar terjadi, namun mengingat lenyapnya sumur tua di belakang rumah sekarang, membuat pikiran Aris semakin kacau dan bingung.
“ada apa kak ? kenapa masih belum mandi ?” Aris tersentak mendengar suara di belakangnya, dilihatnya Arman sedang berdiri disitu.
“A..Arman ? tu..tunggu kau bukan Arman...”
“lho... kenapa kakak ini ? masih ngigo ya ? masa’ tidak mengenali adiknya sendiri...” kata Arman lagi.
“Arman itu... Arman itu tidak bisa bicara... DIA ITU BISU !!!”
“oh... begitukah ? kalau begitu kau seharusnya senang adikmu kini sudah bisa bicara. ah... aku lupa bilang, orang yang sudah sepenuhnya berubah tidak akan bisa keluar dari sana, dia sudah terikat dengan dunia itu, jadi... ucapkan selamat tinggal pada adik lamamu ! KI..KI..KII...”
Aris terlihat shock, wajahnya pucat pasi. “mu..mustahil semua ini terjadi ! i..ini tidak mungkin...” sekarang Aris berharap ini semua hanyalah mimpi.
“kenapa ris ?  wajahmu kok pucat, kamu sakit ? terdengar suara neneknya yang cemas melihat Aris.
“NEK ! NENEK... ARMAN NEK... ARMAN !!!” ucap aris sambil menangis.
“Arman ? ada apa dengannya ? dia terlihat baik – baik saja kok, KHU..KHUU...”.



TAMAT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar