BAGIAN 6 (TAMAT)
“a..apa yang kau... ti..tidak... tidak mungkin... tidak mungkin dia
Arman... dia itu...” perkataan Aris terpotong saat ia melihat punggung makhluk
itu, ia melihat sesuatu yang sangat familiar, itu adalah tanda lahir yang
terletak di punggung sebelah kirinya, tanda lahir yang sama seperti yang
dimiliki Arman. “A..Arman ? apa benar kau Arman... ?”. Arman hanya tertunduk
lesu, ia tak mampu menatap mata kakaknya. “apa yang terjadi denganmu ? kenapa
kau menjadi seperti ini...?”. Aris mulai meneteskan air matanya, ia senang
karena bisa bertemu dengan adiknya, namun di sisi lain ia tak sanggup menerima
kenyataan bahwa adiknya kini berperawakan seperti monster.
Aris duduk berlutut di depan adiknya sambil berlinang air mata. “maafkan
aku... gara – gara kakakmu yang bodoh ini tidak bisa menjagamu dengan baik,
sekarang kau harus mengalami hal seperti ini... aku ini kakak yang buruk !”.
Arman menyentuh wajah kakaknya dengan lembut sambil mengusap air mata di
pipinya. Tidak ada gunanya saling menyalahkan sekarang, mereka harus tetap
menatap ke depan.
“sekarang
kau sudah tahu kan ? nah, pergilah ! oh iya... sampaikan salam untuk ibu dan
ayahmu ya !” ucap si petani.
“ibu dan
ayahku ? hei, sebenarnya siapa kau ?” petani itu tak menjawab, ia langsung
berlari mengejar ‘nenek dukun’ yang sudah terbang menjauh. Dengan rasa penasaran
yang masih menggantung di hatinya, Aris segera memapah Adiknya dan mulai
berjalan ke tempat sumur tua itu berada. Aris menyadari, semakin lama dia
berada disini maka semakin berubah juga bentuk tubuhnya, dia juga akan
mengalami hal yang sama seperti adiknya.
Keadaannya tidak bertambah baik, para manusia pohon sudah dikalahkan,
mereka tak sanggup melawan pasukan goblin yang semakin bertambah jumlahnya,
entah datang darimana tiba – tiba mereka datang seperti segerombolan semut.
Dengan kalahnya para manusia pohon, perhatian pasukan goblin kini tertuju pada
Aris dan Arman, keadaan Arman yang masih kelelahan menyebabkan mereka sulit
menghindari kejaran goblin – goblin itu. “sedikit lagi ! sebentar lagi kita
sampai, bertahanlah Arman !”. Aris menyemangati adiknya, namun tak disangka
gerombolan goblin yang lain kini muncul di depan menghadang jalan mereka
berdua. “sial ! darimana datangnya mereka ?!”. kini Aris dan Arman sudah
terkepung, tak ada celah untuk kabur.
Mereka berdua tidak bisa mengandalkan si petani yang kini tengah mengejar
‘nenek dukun’, tak ada yang bisa menolong, mereka sendirian sekarang.
“a..apakah akan berakhir begini... sampai sekarang pun aku tidak berguna, aku
tak bisa melakukan apapun untuk menolong adikku, kakak macam apa aku ini !”. Aris
melihat wajah Arman, ia hanya tersenyum, seolah mengatakan kepada kakaknya
bahwa semuanya akan baik – baik saja. “ya... aku bisa ! selama jantungku masih
berdetak, aku tak akan menyerah, aku tak peduli walaupun tubuhku hancur
sekalipun, aku akan melindungimu !”. “SHAAA...!!!” para goblin mulai menyerang
dari berbagai arah.
“ENYAH KALIAN SEMUA !!!” teriak
Aris *WHUUUSSHH* hanya dengan satu kibasan tangan kirinya Aris berhasil
memporak – porandakan formasi serangan para goblin. Mereka terpental, bahkan goblin
yang terkena serangan langsung dari tangan Aris langsung hancur berkeping –
keping seperti es yang dihantam palu. Terlihat uap dari hawa dingin yang
memancar dari tangan kiri Aris. “ apa ini ?! sejak kapan aku memiliki kekuatan
seperti ini ?” ternyata bukan hanya tubuhnya saja yang perlahan – lahan berubah
menjadi monster, namun kini kekuatannya juga sudah melampaui manusia normal.
Aris merasa ketakutan dengan kekuatannya sendiri, tetapi jika dengan kekuatan
ini dia bisa menyelamatkan adiknya, maka dia akan menggunakannya tanpa ragu.
“minggir ! jangan halangi jalanku !” Aris mulai melaju ke depan, dengan sambil
tetap memapah adiknya dia menyingkirkan goblin yang menghalangi jalannya.
Di tempat lain si ‘nenek dukun’ masih berusaha lari dari kejaran petani.
“hei ! mau
sampai kapan kau kabur seperti itu ? cepat atau lambat kau akan mendapatkan
balasan dari semua semua perbuatanmu !” kata si petani.
“BERISIK !”
“kau
mempelajari ilmu hitam hanya untuk memenuhi keinginan nafsu setanmu, banyak
orang yang kau korbankan bahkan keluargamu sendiri, apa kau tak malu ? HAH...?
NENEK TUA !!!”
“GRR...
banyak omong ! kau takkan mengerti perasaanku !” nenek itu berbalik dan menukik
tajam ke arah petani yang mengejarnya di bawah, nenek itu menyiapkan cakarnya,
seperti elang yang akan menyambar mangsanya. Namun dengan gesit si petani
melompat menghindari serangan, lalu menancapkan tangan aritnya ke bahu si nenek
dan mendarat tepat di atas punggungnya.
“KYAAA...lepaskan tangan kotormu
dariku !!!” pekik si ‘nenek dukun’ sambil terus terbang. namun si petani tidak
melepaskan tangan aritnya dari bahu si nenek, bahkan kini ia bisa mengarahkan
laju terbang si nenek dengan cara itu.
“lepaskan !
akulah yang menciptakan dunia ini ! akulah penguasa di sini !” bentak si ‘nenek
dukun’.
“begitukah ?
kalau begitu jika kau mati, maka dunia terkutuk ini juga akan ikut musnah
bersamamu !” petani itu mengarahkan si nenek ke suatu tempat, nenek itu hanya
bisa meronta – ronta mencoba melepaskan dirinya sambil terus terbang. “AH...!
tu..tunggu, apa yang kau lakukan ?! hentikan ! TIDAAAK... !!!” petani itu
mengarahkan si nenek ke bawah, ke kebun tempat tumbuhan lidah raksasa berada,
lalu... *SLAAPP ! GLUP...* mereka berdua masuk ke dalam mulut tumbuhan
karnivora tersebut “AEERGHHH...!” suara sendawa itu mengakhiri pertarungan si
‘petani’ dan ‘nenek dukun’.
Dengan susah payah Aris dan
Arman akhirnya berhasil mencapai lokasi sumur tua itu, seberapapun goblin yang
Aris singkirkan mereka terus saja berdatangan tanpa henti, tiba – tiba Arman
melepaskan rangkulan Aris dari badannya, lalu mendorong kakaknya mendekati
bibir sumur. “apa yang mau kau lakukan Arman ?” tanya Aris. Arman membalikkan
badannya menghadap ke arah pasukan goblin, lalu menengok kembali ke arah Aris
dan tersenyum, ia berniat menahan para goblin agar kakaknya punya waktu untuk menyelamatkan
diri. “TIDAK !” Aris memegang tangan Arman,
“kau akan ikut denganku ! aku tidak tahu apa kau bisa kembali ke rupamu
yang semula atau tidak, tapi walau bagaimanapun keadaannya kau tetaplah adikku,
aku akan membawamu pulang !”.
Tiba – tiba tanah tempat mereka berpijak
bergetar hebat lalu merekah dan terbelah, menelan para goblin yang kini lari
tunggang langgang meninggalkan Aris dan Arman. “whoaa... apa yang terjadi ?
tempat ini sepertinya mau hancur ! kita harus segera pergi dari sini !” Aris
bergegas menarik Arman mendekati sumur, sejenak Aris merasa ragu apa mereka
bisa selamat dengan masuk kembali ke sumur ini. Aris melongok ke dalam sumur,
masih sama seperti sebelumnya, hanya terlihat sumur gelap yang tidak memiliki
dasar. namun sesaat kemudian terlihat sesuatu, ini sama seperti saat Aris
terjatuh ke dalam sumur sebelumnya, muncul setitik sinar kuning kemerahan yang
memancar dari kedalaman sumur dan mendekat dengan cepat. “ini dia ! ini sama
seperti waktu itu !” Aris menoleh ke arah adiknya, “Arman, kita pulang sekarang
!” mereka berdua pun terjun ke dalam sumur, tertelan cahaya yang panas
menyengat lalu mengambang dalam kegelapan dan kesunyian, sunyi... sangat
sunyi...
“Aris, Arman, bangun yuk ! pagi
ini kita mau ziarah ke makam Kakek”. Aris membuka matanya, setelah ingat dengan
semua yang telah terjadi, ia kaget dan bangun terduduk di atas kasur dengan
keringat dingin yang membasahi tubuhnya, ia menoleh ke sampingnya, terlihat
Arman yang baru bangun tidur mengucek matanya sambil menguap.
“Arman !
kita berhasil ! kita selamat, bahkan kau sudah kembali seperti semula !”
“kamu kenapa
sih ris ? pagi – pagi kok udah ngigo ?” tanya ibunya heran.
“bukan bu !
akh... ibu pasti tidak akan percaya ini, tapi tadi Arman jatuh ke dalam sumur
tua di belakang, lalu aku...”
“eits...
tunggu sebentar, sumur tua mana yang kamu maksud ?” tanya ibunya lagi.
“itu bu...
yang ada di sudut halaman belakang, sumur besar dengan dinding batu berlumut
yang ditutup papan kayu”.
“hah ? Aris,
ibu sudah tinggal di sini sejak kecil, dan tidak ada sumur tua seperti yang kamu
ceritakan itu, hanya ada satu sumur di belakang rumah ini yang terletak di
dekat MCK !”.
“ma..masa
sih ?! tidak mungkin ! aku melihatnya sendiri kok !” ucap Aris meyakinkan
ibunya.
“pasti kamu
cuma mimpi, lagipula adikmu sejak tadi tidur nyenyak di sampingmu, kalau dia
jatuh ke dalam sumur tidak mungkin dia berada disini sekarang kan ?”.
“aduh...
bagaimana cara aku menjelaskannya ? Arman katakan sesuatu, tadi kita masuk ke
dalam sumur dan terjebak di dunia aneh yang menyeramkan, iya kan ?”. Arman
hanya terdiam dengan wajah bingung lalu menggelengkan kepalanya.
“tuh kan...
udah Ibu bilang kamu ini cuma mimpi, makanya ambil air wudhu dulu sebelum tidur
terus baca doa biar gak mimpi buruk !” timpal Ibunya.
“ih... masa
iya cuma mimpi, jadi penasaran...” Aris masih tak percaya, ia segera melompat
dari kasur lalu lari ke belakang rumah untuk memastikannya sendiri dan... tak
bisa dipercaya, apa yang dikatakan ibunya benar, tak ada apapun disana !
Tak ada lubang ataupun gundukan tanah
bekas sumur sama sekali, hanya ada tanah rata yang ditumbuhi beberapa tanaman
liar. “WAOOW... sulit dipercaya ! ternyata semua kejadian menyeramkan itu hanya
terjadi di alam mimpi ! fiuuhh... syukurlah...” Aris kembali ke rumah dengan
perasaan lega, ia memang harus menuruti nasehat ibunya agar tak mengalami mimpi
buruk seperti itu lagi.
“cepat mandi
ris, setelah itu sarapan lalu kita segera berangkat ke makam Kakek !” perintah
Ibunya.
“iya bu !
wah... badanku penuh dengan keringat gara – gara bermimpi tadi, sekarang
saatnya menyegarkan diri... eh... !” aris merasakan sesuatu di saku celana saat
ingin melepaskannya, “apa ini ?” ia mengeluarkan benda itu, “i..ini kan !!!”
tangan Aris bergetar saat melihat apa yang baru saja ia keluarkan dari saku
celananya, sebuah jam tangan !
Ya... tak salah lagi, itu adalah
jam tangan kesayangan Arman yang ia temukan waktu pertama kali tiba di dunia
menyeramkan itu ! bukan sebuah kebetulan kalau jam itu ada di sakunya, ini
menjadi bukti kalau apa yang ia alami itu benar – benar terjadi, namun
mengingat lenyapnya sumur tua di belakang rumah sekarang, membuat pikiran Aris
semakin kacau dan bingung.
“ada apa kak
? kenapa masih belum mandi ?” Aris tersentak mendengar suara di belakangnya,
dilihatnya Arman sedang berdiri disitu.
“A..Arman ?
tu..tunggu kau bukan Arman...”
“lho...
kenapa kakak ini ? masih ngigo ya ? masa’ tidak mengenali adiknya sendiri...”
kata Arman lagi.
“Arman
itu... Arman itu tidak bisa bicara... DIA ITU BISU !!!”
“oh...
begitukah ? kalau begitu kau seharusnya senang adikmu kini sudah bisa bicara.
ah... aku lupa bilang, orang yang sudah sepenuhnya berubah tidak akan bisa
keluar dari sana, dia sudah terikat dengan dunia itu, jadi... ucapkan selamat
tinggal pada adik lamamu ! KI..KI..KII...”
Aris
terlihat shock, wajahnya pucat pasi. “mu..mustahil semua ini terjadi ! i..ini
tidak mungkin...” sekarang Aris berharap ini semua hanyalah mimpi.
“kenapa ris
? wajahmu kok pucat, kamu sakit ?
terdengar suara neneknya yang cemas melihat Aris.
“NEK !
NENEK... ARMAN NEK... ARMAN !!!” ucap aris sambil menangis.
“Arman ? ada
apa dengannya ? dia terlihat baik – baik saja kok, KHU..KHUU...”.
TAMAT.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar