Selasa, 05 Desember 2017

ARIS IN CREEPYLAND : BAGIAN 3

BAGIAN 3


                Sosok itu terlihat seperti manusia yang dalam keadaan telanjang namun kulitnya berwarna pucat keabu – abuan seperti mayat, berkepala botak dengan bulu – bulu halus yang tumbuh tidak beraturan, dan berdiri dengan 4 kaki seperti monyet. Mata besarnya yang menyala dalam kegelapan membuat Aris bergidik ngeri saat melihatnya. Secara perlahan makhluk itu keluar dari balik pohon dan merangkak mendekati Aris.

“KYAAAAAA...!!!” terdengar suara jeritan Aris yang berlari masuk semakin dalam ke hutan.
Sang remaja tangguh harus mengakui kekalahannya disini, di tempat seperti ini seorang diri, ia tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Aris terus berlari seperti orang kesetanan dan baru berhenti saat dia mulai kehabisan nafas, Aris tidak tahu sudah berapa jauh ia berlari, tapi makhluk mengerikan itu sudah tidak nampak lagi. Aris hanya berharap makhluk merangkak itu tidak mengikutinya.
                Aris pun melanjutkan perjalanan, ia sekarang berada di hutan dengan kumpulan pepohonan berbatang lurus yang cukup tinggi, terlihat cukup wajar bila dibandingkan dengan pohon – pohon lain yang ia temui sebelumnya. Satu hal yang aneh hanyalah buahnya yang menggelantung tak wajar di salah satu cabang pohonnya. Bentuk buahnya terlihat seperti kelapa, namun berbulu lebat dan panjang hingga menutupi buahnya. *KRYUUK...* terdengar suara dari perut Aris. Sejak sadar dari pingsan tadi dia memang belum makan apapun, dan buah ini walaupun bentuknya aneh, mungkin bisa dimakan. Lalu ia mencari benda yang bisa digunakan untuk mengambil buah itu. Batang kayu yang cukup panjang mungkin bisa, namun Aris tidak menemukannya. Dilihatnya batu seukuran kepalan tangan.


“hmm... aku coba saja lempar pakai batu ini”
Aris mengambil batu dan melemparkannya ke arah buah itu, “STRIKE...!” dengan sekali lemparan, batu itu tepat mengenai buahnya dan, *BUK* langsung jatuh ke atas tanah. Dengan sigap Aris memungut buah itu, ia penasaran ingin melihat isinya. Namun yang ia lihat di balik bulu lebat nan panjang itu adalah wajah pucat yang dialiri darah segar, darah itu sepertinya berasal dari bekas benturan batu yang ia lemparkan tadi. Aris tersadar, bukan buah yang bergelantungan di pohon ini... melainkan kepala manusia !.
“Ap... apa – apaan ini...!!!” Aris langsung melempar kepala itu ke semak – semak.
“pohon macam apa yang mempunyai buah seperti ini ?!” ucap Aris dengan nafas yang tersengal –sengal.
                Belum hilang rasa kagetnya, ia melihat di pohon ini ternyata tidak hanya memiliki satu ‘buah’, melainkan ada satu sampai dua yang bergelantungan di tiap cabangnya, dan pemandangan ini diperburuk dengan banyaknya pohon yang sejenis dengan pohon ini.
“ini pasti cuma mimpi, aku harus segera bangun” Aris berfikir ini pasti hanya mimpi buruk dan berharap segera terbangun dari tidurnya.
Saat berfikir seperti itu, satu per satu kepala yang bergelantungan di pohon pun bergerak – gerak menampakkan wajahnya, mata mereka terbuka lebar dan menatap tajam ke arah Aris.
“ya Allah... lama – lama aku bisa gila !”
Aris mundur ke belakang hendak pergi kembali ke jalan sebelumnya, namun ia teringat akan makhluk merangkak yang ia temui tadi.
“bagaimana kalau dia masih disana ?”
Lalu perhatiannya kembali beralih ke depan, ke jalan setapak yang dikelilingi pepohonan horor tersebut.
“ugh... tidak ada jalan lain”
Akhirnya dengan tenaga yang tersisa, Aris berlari menembus pepohonan, melewati kepala – kepala yang terus menatapnya, menelusuri jalan setapak yang entah akan berakhir dimana.


                Kelelahan dan kelaparan, hanya itu yang dirasakannya saat ini. Ia tidak akan mampu berlari bila bertemu hal – hal aneh lagi setelah ini. Aris hanya berbaring di tanah, menunggu pertolongan yang tidak akan datang.
“kalau begini terus, aku akan mati kelaparan”
Tapi tempat ini pun tidak terlihat seperti dunia nyata, apakah ini dunia orang mati atau malah neraka ? tidak ada yang tahu jawabannya.
                Kabut sudah mulai agak berkurang, Aris yang sempat tertidur tiba – tiba terbangun setelah mencium sesuatu, seperti aroma masakan yang dimasak menggunakan kayu bakar, aroma ini cukup menggugah selera, apalagi dengan keadaan Aris yang sudah sangat kelaparan. Dia coba mencari sumber aroma itu berasal, setelah beberapa meter mengikuti aroma itu, sampailah ia di sebuah gubuk kayu kecil beratap jerami. Terlihat asap mengepul dari jendela di bagian belakangnya. Tidak salah lagi, aroma itu berasal dari sini. Dengan sedikit rasa takut Aris mendekati pintunya, ia tidak tahu harus kemana lagi, mungkin disini satu –satunya kesempatan untuk mendapatkan pertolongan. Diketuknya pintu 3 kali *TOK...TOK...TOK*.
“permisi... apa ada orang di dalam ?” setelah beberapa detik tak ada jawaban, tiba – tiba terdengar suara
“masuklah,nak !”
Aris agak kaget mendengarnya, ia buka pintu gubuk itu dan bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang mungkin akan ia hadapi di dalam.


Dilihatnya seorang wanita tua sedang duduk di depan tungku membelakangi Aris, sepertinya sedang memasak sesuatu, di sampingnya ada bangku dan meja kayu, terhidan beberapa makanan di atasnya.
“duduklah !” ucap nenek itu “kau pasti lapar kan ? makanlah dulu !”
nenek itu berbicara tanpa membalikkan badannya, ia tetap sibuk dengan masakan di depannya. Aris tanpa ragu lagi segera melahap makanan di hadapannya. ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia makan, tapi rasanya tidak terlalu buruk. Sekarang bukanlah saatnya untuk pilih – pilih makanan, Aris harus mengisi tenaga untuk kembali mencari adiknya.
“Alhamdulillah... kenyang ! terima kasih nek untuk makanannya”
“santai aje, bro !” jawab si nenek, sok gaoel.
Aris mengernyitkan alisnya.
“ehmm... nek, sebenarnya tempat apa ini ? mengapa begitu banyak hal mengerikan disini ?” Aris mulai mengorek informasi dari nenek itu.
“hmm... nenek juga tidak tahu banyak, tapi yang nenek tahu tempat ini dikuasai oleh seorang dukun, demi memperkuat ilmu hitamnya, dia banyak menumbalkan manusia, jiwa – jiwa dari mereka yang menjadi korban akhirnya terjebak di tempat ini selamanya”
                Mendengar penjelasan singkat nenek itu, Aris hanya bisa menelan ludah, ia tak menyangka hal seperti ini benar – benar ada. Tapi mengingat pengalamannya selama berada di sini, penjelasan itu cukup masuk akal.
“oh iya nek, apa nenek melihat seorang anak berumur sekitar 12 tahunan berambut cepak di sekitar sini ?” Aris kembali teringat dengan tujuan awalnya mencari Arman.
“hemhh... nak, dengan keadaan nenek yang seperti ini, kelihatannya tidak akan banyak membantu”.
Nenek itu membalikkan badannya ke belakang menghadap Aris, sekarang nampaklah wajahnya. Di mulut nenek itu tak terlihat satu pun gigi yang tersisa. Hey, dia nenek – nenek kan ? wajar saja kalau giginya sudah habis dimakan usia, tapi tunggu sampai kau melihat bagian dalam mulutnya, dia tak memiliki lidah ! oke, itu cukup aneh. Oh ya... masih ada lagi, tempat dimana seharusnya mata nenek itu berada... tidak ada apapun disana ! hanya terlihat dua rongga kosong yang menganga. umm... sudah... cukup !
                Aris yang kaget jatuh terduduk dari bangku, lalu ia melihat apa yang dimasak nenek itu sejak tadi, sebuah kuali yang cukup besar berisi potongan – potongan tubuh yang sedang direbus, kalau diperhatikan itu bukan potongan tubuh hewan atau manusia, tidak ada makhluk hidup di bumi yang memiliki bagian tubuh seperti itu. Aris melirik ke arah piring yang sudah kosong di atas meja,
“jangan – jangan ! makanan yang kumakan tadi...”
Memikirkan hal itu membuat perutnya menjadi mual dan ingin muntah, namun ia tak bisa memuntahkan apapun, serasa seperti kerongkongannya tersumbat.
“jangan suka membuang – buang makanan nak !” nenek itu mulai berdiri dengan tubuhnya yang bungkuk.
“ja..jangan mendekat !!!” pekik Aris
“tidak usah takut nak, seorang nenek yang buta tidak akan bisa menyakitimu”
Aris baru menyadari, nenek ini padahal tak memiliki gigi dan lidah, tapi anehnya ia bisa berbicara dengan jelas seperti orang normal.
“ap..apa nenek juga salah satu korban dukun itu ?” Aris coba bertanya lagi.
Nenek itu menampakkan wajah sedih “begitulah nak, ini karena kesalahan nenek juga, nenek pernah meminta bantuan dukun itu saat mengalami suatu masalah, tapi malah nenek sendirilah yang menjadi tumbalnya, inilah akibat bila bersekutu dengan setan”.
Aris kini mulai merasa iba pada nenek itu.
“tadi kau bilang sedang mencari seorang anak ?” tanya si nenek
“i..iya !”
“apakah dia adikmu ?”
“ya, dia adikku, sepertinya dia juga tersesat di tempat ini, soalnya tadi aku menemukan barangnya yang terjatuh”.
“hmm... baiklah, nenek memang tidak tahu dimana adikmu berada, tapi nenek bisa membantu untuk mencarinya”.
“yang benar nek ?“
“ya, setelah itu nenek akan mencari cara untuk mengeluarkan kalian berdua dari dunia terkutuk ini, tempat kalian bukan disini !”
Mendengar perkataan nenek itu membuat Aris merasa semangat kembali, masih ada secercah harapan bagi dia dan adiknya untuk pulang dengan selamat.
“sebelum itu, maukah kamu menolong nenek ?”
“ten..tentu saja nek, apa yang bisa kubantu ?”
“tolong carikan 2 buah bola mata, satu set gigi lengkap dan sebuah lidah”
“ap..apa nek ?” aris tidak percaya dengan apa yang diminta nenek itu.
“aku mengerti, pasti kau kebingungan kan ? begini, aku membutuhkan bola mata agar bisa melihat, tanpa itu aku tak bisa membantu mencari adikmu, lalu aku butuh gigi, selama ini aku hanya bisa menyeruput sup yang kubuat dari rebusan daging tanpa bisa menyantap dagingnya, dan terakhir aku butuh lidah, tanpa itu kau tidak akan bisa menikmati makanan seenak apapun rasanya”
                Aris mengangguk tanda mengerti, kalau di dunia nyata dia pasti sudah mengira nenek ini adalah seorang psikopat gila, tapi disini “kegilaan” seperti ini bisa dimaklumi.
“hmm... oke nek, sekarang apa nenek tahu dimana aku bisa mendapatkan itu semua ?”
Nenek itu menunjuk ke rongga matanya yang kosong dan berkata “MENURUT LOE... ?!”
“oh... iya, maaf nek” Aris merasa konyol menanyakan arah kepada orang buta.
Lalu ia teringat, ia pernah melihat tanaman berbentuk gigi dan bola mata sebelumnya, namun ia belum tahu dimana ia harus mencari lidah.
“baiklah... aku pergi nek, nenek santai saja disini !”
“OK,sipp !”
Aris mulai berjalan ke tempat sebelumnya, sebenarnya ada cara yang lebih cepat untuk mendapatkan benda yang diminta nenek itu, yaitu di pohon tempat kepala – kepala manusia bergelantungan yang ia lewati sebelumnya. Pertama – tama pilih kepala yang sesuai, congkel matanya keluar, lalu cabuti giginya satu per satu dan langkah terakhir potong lidah pada bagian pangkalnya, hmm... terdengar seperti tutorial untuk psikopat pemula ya... tapi untuk seorang remaja yang suka heboh sendiri kalau sedang nonton film horor, rasanya hal seperti itu mustahil dilakukan, jadi lupakan saja rencana itu !
                Aris kembali menelusuri jalan yang pernah ia lalui, ia hanya mengandalkan tanda – tanda yang ia tinggalkan sebelumnya seperti jejak kaki atau patahan ranting. Di sekolah Aris memang cukup sering mengikuti kegiatan pramuka, jadi ia tahu apa yang harus dilakukan agar tidak tersesat di hutan yang lebat seperti ini. Lalu tibalah Aris di tempat yang sebenarnya ingin dia hindari, ya... kumpulan pepohonan “kepala”, namun inilah jalan satu – satunya yang ia ketahui, tidak ada waktu untuk mencari jalur lain dengan resiko bahaya yang mungkin akan dialaminya. Aris sudah siap untuk berlari, namun saat dia mendongakkan kepalanya ke arah pepohonan itu, ia heran, tidak ada satu pun kepala yang bergelantungan di sana, padahal sebelumnya jumlah mereka begitu banyak hingga terlihat seperti hiasan di pohon natal.
                Seharusnya Aris merasa lega dengan keadaan itu, namun perasaannya menjadi tidak enak. “krsek” terdengar suara dari dalam semak, ada sesuatu yang bergerak di sana. Sebenarnya Aris takut untuk memeriksanya, tapi rasa ingin tahu mengalahkan segalanya. Dengan perlahan dan hati – hati ia singkap semak – semak itu untuk melihat ada apa di baliknya, Aris sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, kepala manusia ! kepala – kepala yang sebelumnya bergelantungan di cabang pohon kini berserakan di atas tanah, dan ada yang berbeda dengan kepala – kepala ini, di bagian bawah lehernya tumbuh sesuatu seperti akar yang bergerak – gerak, mereka menggunakan itu untuk berjalan sedikit demi sedikit..
                Tak lama muncul sosok lain yang berlompatan di antara kepala – kepala itu, sekilas terlihat makhluk itu mempunyai rupa seperti goblin yang biasa muncul di film – film fantasi, dengan tinggi sekitar setengah meter, telinga panjang dan mulut lebarnya menyeringai mengerikan, jumlahnya cukup banyak, mereka terlihat menyeret dan mengumpulkan kepala – kepala yang berserakan.
“ya ampun ! mereka sedang memanen kepala – kepala itu !”.



BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar