BAGIAN 3
Sosok itu terlihat seperti
manusia yang dalam keadaan telanjang namun kulitnya berwarna pucat keabu –
abuan seperti mayat, berkepala botak dengan bulu – bulu halus yang tumbuh tidak
beraturan, dan berdiri dengan 4 kaki seperti monyet. Mata besarnya yang menyala
dalam kegelapan membuat Aris bergidik ngeri saat melihatnya. Secara perlahan
makhluk itu keluar dari balik pohon dan merangkak mendekati Aris.
“KYAAAAAA...!!!”
terdengar suara jeritan Aris yang berlari masuk semakin dalam ke hutan.
Sang remaja
tangguh harus mengakui kekalahannya disini, di tempat seperti ini seorang diri,
ia tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya. Aris terus berlari seperti
orang kesetanan dan baru berhenti saat dia mulai kehabisan nafas, Aris tidak
tahu sudah berapa jauh ia berlari, tapi makhluk mengerikan itu sudah tidak
nampak lagi. Aris hanya berharap makhluk merangkak itu tidak mengikutinya.
Aris pun melanjutkan perjalanan,
ia sekarang berada di hutan dengan kumpulan pepohonan berbatang lurus yang
cukup tinggi, terlihat cukup wajar bila dibandingkan dengan pohon – pohon lain
yang ia temui sebelumnya. Satu hal yang aneh hanyalah buahnya yang
menggelantung tak wajar di salah satu cabang pohonnya. Bentuk buahnya terlihat seperti
kelapa, namun berbulu lebat dan panjang hingga menutupi buahnya. *KRYUUK...* terdengar suara dari perut Aris. Sejak sadar dari pingsan tadi dia memang belum
makan apapun, dan buah ini walaupun bentuknya aneh, mungkin bisa dimakan. Lalu
ia mencari benda yang bisa digunakan untuk mengambil buah itu. Batang kayu yang
cukup panjang mungkin bisa, namun Aris tidak menemukannya. Dilihatnya batu
seukuran kepalan tangan.
“hmm... aku
coba saja lempar pakai batu ini”
Aris
mengambil batu dan melemparkannya ke arah buah itu, “STRIKE...!” dengan sekali
lemparan, batu itu tepat mengenai buahnya dan, *BUK* langsung jatuh ke atas
tanah. Dengan sigap Aris memungut buah itu, ia penasaran ingin melihat isinya.
Namun yang ia lihat di balik bulu lebat nan panjang itu adalah wajah pucat yang
dialiri darah segar, darah itu sepertinya berasal dari bekas benturan batu yang
ia lemparkan tadi. Aris tersadar, bukan buah yang bergelantungan di pohon
ini... melainkan kepala manusia !.
“Ap... apa –
apaan ini...!!!” Aris langsung melempar kepala itu ke semak – semak.
“pohon macam
apa yang mempunyai buah seperti ini ?!” ucap Aris dengan nafas yang tersengal
–sengal.
Belum hilang rasa kagetnya, ia
melihat di pohon ini ternyata tidak hanya memiliki satu ‘buah’, melainkan ada
satu sampai dua yang bergelantungan di tiap cabangnya, dan pemandangan ini
diperburuk dengan banyaknya pohon yang sejenis dengan pohon ini.
“ini pasti
cuma mimpi, aku harus segera bangun” Aris berfikir ini pasti hanya mimpi buruk
dan berharap segera terbangun dari tidurnya.
Saat
berfikir seperti itu, satu per satu kepala yang bergelantungan di pohon pun
bergerak – gerak menampakkan wajahnya, mata mereka terbuka lebar dan menatap
tajam ke arah Aris.
“ya Allah...
lama – lama aku bisa gila !”
Aris mundur
ke belakang hendak pergi kembali ke jalan sebelumnya, namun ia teringat akan
makhluk merangkak yang ia temui tadi.
“bagaimana
kalau dia masih disana ?”
Lalu
perhatiannya kembali beralih ke depan, ke jalan setapak yang dikelilingi
pepohonan horor tersebut.
“ugh...
tidak ada jalan lain”
Akhirnya
dengan tenaga yang tersisa, Aris berlari menembus pepohonan, melewati kepala –
kepala yang terus menatapnya, menelusuri jalan setapak yang entah akan berakhir
dimana.
Kelelahan dan kelaparan, hanya
itu yang dirasakannya saat ini. Ia tidak akan mampu berlari bila bertemu hal –
hal aneh lagi setelah ini. Aris hanya berbaring di tanah, menunggu pertolongan
yang tidak akan datang.
“kalau
begini terus, aku akan mati kelaparan”
Tapi tempat
ini pun tidak terlihat seperti dunia nyata, apakah ini dunia orang mati atau
malah neraka ? tidak ada yang tahu jawabannya.
Kabut sudah mulai agak
berkurang, Aris yang sempat tertidur tiba – tiba terbangun setelah mencium
sesuatu, seperti aroma masakan yang dimasak menggunakan kayu bakar, aroma ini
cukup menggugah selera, apalagi dengan keadaan Aris yang sudah sangat
kelaparan. Dia coba mencari sumber aroma itu berasal, setelah beberapa meter
mengikuti aroma itu, sampailah ia di sebuah gubuk kayu kecil beratap jerami.
Terlihat asap mengepul dari jendela di bagian belakangnya. Tidak salah lagi,
aroma itu berasal dari sini. Dengan sedikit rasa takut Aris mendekati pintunya,
ia tidak tahu harus kemana lagi, mungkin disini satu –satunya kesempatan untuk
mendapatkan pertolongan. Diketuknya pintu 3 kali *TOK...TOK...TOK*.
“permisi...
apa ada orang di dalam ?” setelah beberapa detik tak ada jawaban, tiba – tiba
terdengar suara
“masuklah,nak
!”
Aris agak
kaget mendengarnya, ia buka pintu gubuk itu dan bersiap dengan segala
kemungkinan terburuk yang mungkin akan ia hadapi di dalam.
Dilihatnya seorang wanita tua sedang duduk di depan tungku membelakangi
Aris, sepertinya sedang memasak sesuatu, di sampingnya ada bangku dan meja
kayu, terhidan beberapa makanan di atasnya.
“duduklah !”
ucap nenek itu “kau pasti lapar kan ? makanlah dulu !”
nenek itu
berbicara tanpa membalikkan badannya, ia tetap sibuk dengan masakan di
depannya. Aris tanpa ragu lagi segera melahap makanan di hadapannya. ia sendiri
tidak tahu apa yang sedang ia makan, tapi rasanya tidak terlalu buruk. Sekarang
bukanlah saatnya untuk pilih – pilih makanan, Aris harus mengisi tenaga untuk
kembali mencari adiknya.
“Alhamdulillah...
kenyang ! terima kasih nek untuk makanannya”
“santai aje,
bro !” jawab si nenek, sok gaoel.
Aris
mengernyitkan alisnya.
“ehmm...
nek, sebenarnya tempat apa ini ? mengapa begitu banyak hal mengerikan disini ?”
Aris mulai mengorek informasi dari nenek itu.
“hmm...
nenek juga tidak tahu banyak, tapi yang nenek tahu tempat ini dikuasai oleh
seorang dukun, demi memperkuat ilmu hitamnya, dia banyak menumbalkan manusia,
jiwa – jiwa dari mereka yang menjadi korban akhirnya terjebak di tempat ini
selamanya”
Mendengar penjelasan singkat
nenek itu, Aris hanya bisa menelan ludah, ia tak menyangka hal seperti ini
benar – benar ada. Tapi mengingat pengalamannya selama berada di sini,
penjelasan itu cukup masuk akal.
“oh iya nek,
apa nenek melihat seorang anak berumur sekitar 12 tahunan berambut cepak di
sekitar sini ?” Aris kembali teringat dengan tujuan awalnya mencari Arman.
“hemhh...
nak, dengan keadaan nenek yang seperti ini, kelihatannya tidak akan banyak
membantu”.
Nenek itu
membalikkan badannya ke belakang menghadap Aris, sekarang nampaklah wajahnya.
Di mulut nenek itu tak terlihat satu pun gigi yang tersisa. Hey, dia nenek –
nenek kan ? wajar saja kalau giginya sudah habis dimakan usia, tapi tunggu
sampai kau melihat bagian dalam mulutnya, dia tak memiliki lidah ! oke, itu
cukup aneh. Oh ya... masih ada lagi, tempat dimana seharusnya mata nenek itu
berada... tidak ada apapun disana ! hanya terlihat dua rongga kosong yang
menganga. umm... sudah... cukup !
Aris yang kaget jatuh terduduk
dari bangku, lalu ia melihat apa yang dimasak nenek itu sejak tadi, sebuah
kuali yang cukup besar berisi potongan – potongan tubuh yang sedang direbus,
kalau diperhatikan itu bukan potongan tubuh hewan atau manusia, tidak ada
makhluk hidup di bumi yang memiliki bagian tubuh seperti itu. Aris melirik ke
arah piring yang sudah kosong di atas meja,
“jangan –
jangan ! makanan yang kumakan tadi...”
Memikirkan
hal itu membuat perutnya menjadi mual dan ingin muntah, namun ia tak bisa
memuntahkan apapun, serasa seperti kerongkongannya tersumbat.
“jangan suka
membuang – buang makanan nak !” nenek itu mulai berdiri dengan tubuhnya yang
bungkuk.
“ja..jangan
mendekat !!!” pekik Aris
“tidak usah
takut nak, seorang nenek yang buta tidak akan bisa menyakitimu”
Aris baru
menyadari, nenek ini padahal tak memiliki gigi dan lidah, tapi anehnya ia bisa
berbicara dengan jelas seperti orang normal.
“ap..apa
nenek juga salah satu korban dukun itu ?” Aris coba bertanya lagi.
Nenek itu menampakkan wajah sedih “begitulah nak, ini karena kesalahan
nenek juga, nenek pernah meminta bantuan dukun itu saat mengalami suatu
masalah, tapi malah nenek sendirilah yang menjadi tumbalnya, inilah akibat bila
bersekutu dengan setan”.
Aris kini
mulai merasa iba pada nenek itu.
“tadi kau
bilang sedang mencari seorang anak ?” tanya si nenek
“i..iya !”
“apakah dia
adikmu ?”
“ya, dia
adikku, sepertinya dia juga tersesat di tempat ini, soalnya tadi aku menemukan
barangnya yang terjatuh”.
“hmm...
baiklah, nenek memang tidak tahu dimana adikmu berada, tapi nenek bisa membantu
untuk mencarinya”.
“yang benar
nek ?“
“ya, setelah
itu nenek akan mencari cara untuk mengeluarkan kalian berdua dari dunia
terkutuk ini, tempat kalian bukan disini !”
Mendengar
perkataan nenek itu membuat Aris merasa semangat kembali, masih ada secercah
harapan bagi dia dan adiknya untuk pulang dengan selamat.
“sebelum
itu, maukah kamu menolong nenek ?”
“ten..tentu
saja nek, apa yang bisa kubantu ?”
“tolong
carikan 2 buah bola mata, satu set gigi lengkap dan sebuah lidah”
“ap..apa nek
?” aris tidak percaya dengan apa yang diminta nenek itu.
“aku
mengerti, pasti kau kebingungan kan ? begini, aku membutuhkan bola mata agar
bisa melihat, tanpa itu aku tak bisa membantu mencari adikmu, lalu aku butuh
gigi, selama ini aku hanya bisa menyeruput sup yang kubuat dari rebusan daging
tanpa bisa menyantap dagingnya, dan terakhir aku butuh lidah, tanpa itu kau
tidak akan bisa menikmati makanan seenak apapun rasanya”
Aris mengangguk tanda mengerti,
kalau di dunia nyata dia pasti sudah mengira nenek ini adalah seorang psikopat
gila, tapi disini “kegilaan” seperti ini bisa dimaklumi.
“hmm... oke
nek, sekarang apa nenek tahu dimana aku bisa mendapatkan itu semua ?”
Nenek itu
menunjuk ke rongga matanya yang kosong dan berkata “MENURUT LOE... ?!”
“oh... iya,
maaf nek” Aris merasa konyol menanyakan arah kepada orang buta.
Lalu ia
teringat, ia pernah melihat tanaman berbentuk gigi dan bola mata sebelumnya,
namun ia belum tahu dimana ia harus mencari lidah.
“baiklah...
aku pergi nek, nenek santai saja disini !”
“OK,sipp !”
Aris mulai
berjalan ke tempat sebelumnya, sebenarnya ada cara yang lebih cepat untuk
mendapatkan benda yang diminta nenek itu, yaitu di pohon tempat kepala – kepala
manusia bergelantungan yang ia lewati sebelumnya. Pertama – tama pilih kepala
yang sesuai, congkel matanya keluar, lalu cabuti giginya satu per satu dan
langkah terakhir potong lidah pada bagian pangkalnya, hmm... terdengar seperti
tutorial untuk psikopat pemula ya... tapi untuk seorang remaja yang suka heboh
sendiri kalau sedang nonton film horor, rasanya hal seperti itu mustahil
dilakukan, jadi lupakan saja rencana itu !
Aris kembali menelusuri jalan
yang pernah ia lalui, ia hanya mengandalkan tanda – tanda yang ia tinggalkan
sebelumnya seperti jejak kaki atau patahan ranting. Di sekolah Aris memang
cukup sering mengikuti kegiatan pramuka, jadi ia tahu apa yang harus dilakukan
agar tidak tersesat di hutan yang lebat seperti ini. Lalu tibalah Aris di
tempat yang sebenarnya ingin dia hindari, ya... kumpulan pepohonan “kepala”,
namun inilah jalan satu – satunya yang ia ketahui, tidak ada waktu untuk
mencari jalur lain dengan resiko bahaya yang mungkin akan dialaminya. Aris
sudah siap untuk berlari, namun saat dia mendongakkan kepalanya ke arah
pepohonan itu, ia heran, tidak ada satu pun kepala yang bergelantungan di sana,
padahal sebelumnya jumlah mereka begitu banyak hingga terlihat seperti hiasan di
pohon natal.
Seharusnya Aris merasa lega
dengan keadaan itu, namun perasaannya menjadi tidak enak. “krsek” terdengar
suara dari dalam semak, ada sesuatu yang bergerak di sana. Sebenarnya Aris
takut untuk memeriksanya, tapi rasa ingin tahu mengalahkan segalanya. Dengan
perlahan dan hati – hati ia singkap semak – semak itu untuk melihat ada apa di
baliknya, Aris sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya, kepala
manusia ! kepala – kepala yang sebelumnya bergelantungan di cabang pohon kini
berserakan di atas tanah, dan ada yang berbeda dengan kepala – kepala ini, di
bagian bawah lehernya tumbuh sesuatu seperti akar yang bergerak – gerak, mereka
menggunakan itu untuk berjalan sedikit demi sedikit..
Tak lama muncul sosok lain yang
berlompatan di antara kepala – kepala itu, sekilas terlihat makhluk itu
mempunyai rupa seperti goblin yang biasa muncul di film – film fantasi, dengan
tinggi sekitar setengah meter, telinga panjang dan mulut lebarnya menyeringai
mengerikan, jumlahnya cukup banyak, mereka terlihat menyeret dan mengumpulkan
kepala – kepala yang berserakan.
“ya ampun !
mereka sedang memanen kepala – kepala itu !”.
BERSAMBUNG...





Tidak ada komentar:
Posting Komentar