BAGIAN 1
By: Mu Id
Aris, seorang
remaja 14 tahun, berkunjung ke rumah neneknya yang berlokasi di sebuah desa yang agak terpencil. Ini adalah kunjungan
pertamanya kesana semenjak ia lahir. Maklum, Aris dan keluarganya tinggal jauh
di luar pulau, belum lagi akses ke rumah neneknya yang masih minim, membuat
perjalanan ini memakan waktu hingga 4-5 hari. Aris cukup antusias dengan
kunjungannya kali ini, karena biasanya ia hanya menghabiskan waktu selama
liburan panjang di rumah saja. Namun ia tidak tahu apa yang akan dialaminya
disana... mungkin tidak akan bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Keluarga Aris terdiri dari 4 orang.
Sang ayah Karto, seorang guru yang bekerja di sebuah SMP negeri, di sekolah
yang sama dimana anaknya Aris menuntut ilmu. sang ibu Yuni, seorang ibu rumah
tangga biasa. Dulu ia sempat bekerja sebagai buruh pabrik, namun ia memutuskan
untuk berhenti tak lama setelah menikah. lalu ada sang adik Arman yang berumur
12 tahun. Ia duduk di bangku kelas 6 SD. Keluarga yang cukup normal, walau
tidak kaya mereka hidup berkecukupan, bahkan memiliki sebuah mobil yang
walaupun dibeli dalam keadaan bekas, namun masih memiliki kondisi yang layak
jalan. Dengan mobil inilah mereka melakukan perjalanannya.
Perjalan ini cukup melelahkan,
beberapa kali mereka berhenti untuk
beristirahat di rest area atau masjid terdekat. Namun setelah memasuki
pedesaan, mereka cukup terhibur dengan pemandangan yang asri dan udara yang
sejuk. sayangnya perjalanan mereka kembali terganggu dengan jalan tanah yang
tidak rata. Yah... liburan yang seru memang butuh sedikit petualangan kan ?.
Setelah beberapa jam ber”offroad” ria akhirnya menjelang sore mereka sampai di
tempat tujuan.
Rumah nenek cukup besar. Rumah
bergaya tradisional itu berdiri dengan dinding kayu dan anyaman bambu. Kesan
tua sangat nampak pada arsitekturnya. Sepertinya rumah ini sudah berusia
ratusan tahun.
“jadi disini rumah nenek ?” tanya Aris.
“iya... gimana ? antik sekali kan ? seharusnya rumah ini
masuk daftar bangunan cagar budaya”.
“ah... ayah bisa saja !” ucap Aris lagi.
Di depan pintu berdiri seorang wanita tua yang sudah agak
bungkuk tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. Ya... itulah neneknya.
Baru pertama kali ini Aris bertemu dengan neneknya, dia terlihat ramah dan
murah senyum.
“Mbok... sudah lama sejak terakhir
kali aku pulang kesini, maaf baru bisa datang lagi sekarang” ucap Ibu Aris
penuh kerinduan.
“tak apa... Mbok senang kalian sekeluarga bisa datang
kesini, hmm... sayang Bapakmu tak ada disini bersama kita”.
Kakek Aris memang sudah lama meninggal. Ia sudah wafat sebelum
Aris lahir, Jadi Aris tak tahu banyak tentang kakeknya. Ibunya pernah bercerita
kalau dulu kakeknya adalah seorang petani yang handal, hanya itu yang Aris
tahu.
“hoo... jadi ini yang namanya Aris dan Arman, wah... cucu
Nenek sudah besar dan tampan” Nenek memeluk dan mencium mereka berdua.
Bau minyak urut langsung menyeruak dalam hidung. Aah...
sungguh momen indah yang pedih di mata.
Setelah memasukkan koper dan tas,
mereka beristirahat sejenak. Arman langsung tertidur pulas setelah mandi tadi,
tapi Aris masih punya tenaga untuk berkeliling rumah. Desa neneknya memang bisa
dibilang agak ‘tertinggal’. Untuk mencari mini market saja mereka harus pergi
agak jauh ke luar desa. Jadi jangan harap ada spot WiFi gratis disini. Untuk
mencari sinyal saja butuh sedikit perjuangan. Warnet ? apalagi, disini hanya
ada 1 wartel yang digunakan para penduduk desa untuk berhubungan dengan dunia
luar. Untungnya bagi Aris, dia tak terlalu ambil pusing dengan masalah itu.
Dari dulu dia memang memimpikan tempat seperti ini. Jauh dari hiruk pikuk
peradaban kota, jauh dari tetangganya yang berisik tiap malam dan... jauh dari
tugas sekolah. Baginya disini adalah tempat ‘pertapaan’ yang sempurna.
Aris melanjutkan berkeliling. Rumah
neneknya dikelilingi pepohonan bambu yang tumbuh rapat. Membuat suasana teduh
namun juga terkesan menyeramkan. Di belakang rumah ada kandang sapi dan sebuah
MCK (Mandi Cuci Kakus) dengan sumur timba di sampingnya. Perhatian Aris tertuju
pada bagian di sudut halaman belakang
rumah. Disana ternyata ada sumur lagi. Ukurannya lebih besar dari yang ada di
MCK, mungkin sekitar dua kali lipatnya. Dinding di pinggirnya tersusun dari
tumpukan batu yang dibuat melingkar. Penuh dengan lumut dan tanaman yang
menjalar. Lubang sumur ditutup dengan papan kayu yang sudah tampak kusam dan
lapuk. Pasti ini sumur tua yang sudah lama tidak digunakan. Baru saja Aris
hendak mendekati sumur tua itu, tiba – tiba terdengar suara dari belakang.
“Ris, udah maghrib nih... cepetan masuk !” suara ibunya
memanggil.
“iya bu, sebentar”.
Lembayung senja sudah menampakkan dirinya. Sepertinya
petualangan ini harus dilanjutkan esok hari.
Tidak banyak yang bisa dilakukan
disini saat malam hari. Tidak ada TV, tidak ada jaringan internet, hanya ada
radio usang yang jarang dinyalakan, kipas angin dan sebuah PS4. Hah...? bukan,
itu hanya sebuah kotak kayu berwarna hitam yang entah apa isinya. Malam itu
Nenek, Ayah dan Ibu menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menyeruput teh
dan makan singkong goreng. Sesekali Nenek bertanya kepada aris tentang
kehidupannya di kota. Biasalah... sudah kelas berapa, bagaimana sekolahnya,
sudah punya pacar belum, iihh... setelah beberapa lama rasa kantuk pun mulai
datang, Aris memejamkan mata mencoba untuk tidur.
Tiba – tiba datang sesuatu yang
tidak diharapkan. Sesuatu yang ia takutkan akan datang pada malam hari disini.
Ya... rasa ingin buang air. Itu artinya ia harus berjalan ke belakang rumah
yang tentu saja gelap gulita. Saat hendak ke belakang, Ayahnya melihat.
“mau kemana Ris ?” tanyanya.
“ini Yah, Aris kebelet, mau ke belakang”.
“oh... ya sudah, tuh ambil senter di atas meja buat nerangin
jalan !”. Aris segera mengambil senter itu.
“mau Ayah anterin gak ?” tanya Ayahnya.
“halah... nggak usah Yah, timbang ke belakang aja kok !”
balas Aris.
“bener nih ?”.
“iya !”.
“yakin ?”.
“ho’oh...!!!”.
“maca cii...?”.
“yah...”.
“hehehe... ya udah gih sana, kalau tiba – tiba ada yang
manggil dari belakang, jangan nengok ! langsung lari aja !”.
“hiih... malah nakut – nakutin lagi !!!” Aris pun beringsut
pergi.
Sebenarnya Aris ingin menerima
tawaran Ayahnya tadi, tapi ia sedikit gengsi. Aris mau terlihat seperti seorang
remaja lelaki yang tangguh dan pemberani. Dengan was – was Aris keluar lewat
pintu belakang di dapur. Suasananya sangat gelap. Hanya ada satu lampu di MCK
yang menerangi, itu pun Cuma bohlam 5 watt. Aris mulai menyalakan senternya dan
berjalan menuju MCK, Ia tidak mau repot – repot memeriksa sekitarnya.
“fokus ke ‘target’ tidak usah melihat hal – hal yang tidak
perlu !” bilangnya pada diri sendiri.
Sesampainya di MCK dia segera menutup pintu dan mengeluarkan
segala ‘beban’ yang selama ini menumpuk. Ditemani suara jangkrik yang berduet
dengan kodok dan diiringi dengan lantunan suara daun bambu yang bergesekan
tertiup angin, semenit pun terasa sangat lama. Apalagi hanya diterangi oleh
cahaya lampu yang remang – remang, Aris serasa berada di acara uji nyali.
Setelah
sepuluh menit yang penuh ketegangan, Aris merasa cukup untuk setorannya malam
itu. Setelah membersihkan lubang pembuangan, ia segera bergegas memakai celana
dan meninggalkan tempat terkutuk itu. Baru saja ia melangkahkan kaki keluar
dari MCK, terdengar suara, *DUK...DUK...*. seperti bunyi kayu yang dipukul –
pukul. Aris yang kaget secara spontan mencari dimana sumber suara itu berasal.
Dan ternyata suara itu berasal dari papan kayu yang menutup sumur tua. Saat
terdengar lagi suara itu, kayu penutupnya bergetar. Seperti ada sesuatu dari
dalam sumur yang berusaha keluar.
BERSAMBUNG...



Tidak ada komentar:
Posting Komentar